Oleh: Evy Uswatun Hasanah
Terkadang, hidup bukan tentang
dengan siapa kita berdiri di sini;
ia menuntut pertarungan yang sepenuhnya pribadi,
tak disaksikan, tak pula dibagi,
hanya kau dan Sang Ilahi.
Perjalanan itu mutlak milik diri,
menyerukan nadi yang tak dimengerti.
Selain berserah dan belajar mengendalikan,
di titik terendah itu
hanya kau yang berbisik,
dan Tuhan yang mendengar tanpa isyarat.
Berdiri sendiri,
meninggalkan segala sokongan duniawi,
entah dekapan, entah kicauan.
Perkelahian dengan diri sendiri,
perkelahian paling sunyi:
terkadang menang,
namun lelahnya tak juga luruh;
atau kalah,
yang berujung pada penyesalan.
Ada jalan yang menolak keramaian,
meminta kaki melangkah dalam senyap.
Di sana, hanya kau yang berjalan,
ditemani Tuhan
yang hadir diam-diam di sisimu,
mendengar doa
yang tak pernah sempat diucapkan oleh kata.




