Oleh: Alfiyya Firda Rahma
Kita masih saling menyayang
rahasia yang bahkan waktu
tak mampu meredam gaungnya.
Namun cinta kita rapuh,
seperti benang tipis
yang ditarik dari dua arah
tanpa pernah menemukan titik temu.
Kita mencoba lagi dan lagi,
memunguti serpih yang sama
dengan tangan yang semakin letih.
Pelukan menjadi jeda singkat
bagi perpisahan yang terus mendekat,
dan setiap maaf hanyalah perban tipis
yang besok akan terlepas kembali.
Kita berbicara pelan
lalu kembali pecah oleh suara
yang tak saling dimengerti.
Niat memperbaiki berubah gema
yang berputar tanpa jawaban,
membuat dua hati tersesat
di labirin perasaan masing-masing.
Dan perlahan aku mengerti
bahwa cinta pun bisa hilang arah,
meski kita menggenggamnya sekuat mungkin.
Sebelum aku melepaskan segalanya,
biarkan aku menyimpanmu
sebagai hangat yang pernah tinggal,
bukan luka yang terus kita hidupkan.
Karena pada akhirnya,
bukan cinta yang padam di antara kita
kita hanya tak lagi mampu berjalan
berdampingan tanpa saling melukai.
Dan mungkin inilah cara semesta
mengajarkan bahwa mencintai
tak selalu berarti memiliki.




