Oleh: Lembah Putri Sejati
Engkau yang dulu subur berselimut embun,
Kini hangus, terbakar sang surya.
Suaramu bukan lagi liukan angin di daun,
Tapi jeritan mesin yang tak kenal waktu.
Gunungmu merintih, dagingnya dikeruk habis,
Sungaimu menangis, air mata menjadi keruh.
Hutanmu yang gaduh, kini sunyi terpotong gundul,
Hanya meninggalkan bumi yang gersang, bisu, dan tandus.
Kita titipkan sampah di rumahmu,
Kita kubur limbah di badanmu.
Kita paksa kau memberi lebih dari yang kau punya,
Lupa, bahwa kau bernapas, bahwa kau hidup, bahwa kau bisa lelah.
Maka engkau membalas dalam gemuruh tanah longsor,
Dalam amukan banjir yang menyapu pandanganmu,
Dalam kabut asap yang menyelimuti langit biru,
Dalam badan yang retak, haus, dan enggan lagi memberi.
Oh, Pertiwi, betapa kita tuli mendengar keluhmu,
Buta melihat sayatan yang engkau rasakan.
Hingga bencana menjadi bahasa terakhir yang kau ucapkan,
Peringatan keras tentang rumah yang hampir runtuh.
Apakah masih ada waktu untuk membalik akal?
Menanam kembali setiap kata maaf yang berserakan.
Menjaga sisa-sisa cantikmu yang tersimpan,




