Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Menjadi Lebih Dekat Dengan Buku

Pataka Eja by Pataka Eja
23 September 2025
in Resensi
0
C9eedaa1 3e93 4463 A48c B968aca8e89a

Judul Buku: Rumah kertas

Penulis      : Carlos Maria Dominguez

ISBN         : 978-979-1260-62-6

Kisah menakjubkan datang dari Amerika latin yang menceritakan tentang kecintaan seseorang terhadap dunia sastra. Bentuk kecintaannya kemudian diluapkan dengan mengoleksi ribuan buku secara membabi-buta.

Bluma seorang perempuan berumur 45 tahun merupakan dosen sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge, Inggris, yang terkenal dengan kecerdasannya dan punya ketertarikan luar biasa dengan dunia sastra. Tetapi nasib tragis menimpanya. Ia tewas setelah tertabrak mobil saat membaca puisi karya Emily Dickinson, tepat saat ia menapakkan kakinya di persimpangan jalan Secepat itu pula bemper mobil merenggut nyawanya.

Kematiannya kemudian mengantarkan kita pada sosok yang lebih gila yang punya ketertarikan aneh terhadap sastra bernama Carlos Bluma, intensitas kecintaannya terhadap dunia sastra mungkin hanya bisa disamakan dengan kecanduan orang-orang terhadap nikotin.

Berawal dari seorang bernama William, dosen yang kelak akan menggantikannya sebagai dosen Sastra Amerika Latin tempat dimana Bluma pernah bekerja setelah berjuang bersaing dengan tiga calon dosen mumpuni lainnya.  Kemudian mendapati sebuah paket yang datang tidak lama setelah Bluma dimakamkan.

William mencoba mencari tahu tentang paket itu, Dan menemukan bahwa buku itu adalah milik Bluma sendiri.Tetapi dari siapa? Lalu kenapa ada kerak kerikil dan semen di sepanjang sampul itu? Barulah setelah Willian menemukan tulisan kecil di bagian lain, mendapati bahwa buku itu ia peruntukkan untuk Carlos.

Siapakah Carlos? Adakah hubungan istimewa antara mereka berdua? William mencari-cari daftar kunjungannya dan mendapati salah satu daftar kunjungan terakhirnya yaitu di konferensi Monterrey dan menghubungi panitia dan menanyakan tentang seseorang bernama Carlos. Dan benar saja ia kemudian mendapatkan balasan email bahwa ada seorang pengunjung yang bersama Bluma malam itu yang bernama Carlos Brauer. Dan ia dapat mengarahkan untuk bisa bertemu dengannya lantaran Brauer telah lama pindah.

Kemudian ia diarahkan bertemu dengan Delgado. Delgado inilah yang kemudian membongkar latar belakang Carlos Brauer. Mungkin orang akan menganggap Brauer punya kelainan jiwa jika berbicara mengenai sastra. Bagaimana tidak, ia dengan kecintaannya terhadap buku, membuatnya telah mengoleksi sebanyak lebih dari dua puluh ribu buku yang kelak ia susun di rak dengan indeks yang telah ia atur sedemikian rupa dengan rumus tematik.

Membuatnya lebih mudah menemukan dimana ia meletakkan buku yang ia cari, sehingga ketika mencari buku Leo Tolstoy dan menemukannya, maka akan mengantarkannya untuk menemukan karya Niccolo Machiavelli. Terbukti bahwa kelak luasnya tempat penyimpanan buku adalah sesuatu hal yang perlu diperhatikan.

Brauer terpaksa memberikan mobilnya dengan cuma-cuma hanya untuk mendapatkan tempat menaruh buku-bukunya. Rak buku memenuhi dari bawah sampai ke atas dinding-dinding rumahnya, menjarah setiap sisi kamar mandi dan setiap jengkal dapurnya.

Brauer sadar bahwa antara keluarga dan buku koleksinya tidak bisa dipersatukan. Ia memilih lantai dua untuk keluarganya. Pun tangga naik ke lantai dua dipenuhi dengan buku-buku. Awalnya Brauer mendapatkan warisan dari orang tuanya. Dan kelak membuatnya berpisah dari istri dan dijauhi teman-temannya. Betapa tidak, setiap kali ada pelelangan buku ia selalu menang. Baik pelalangan buku terbaik dan buku klasik, membuat rekan dan teman-temannya menjadi iri. Sang istri minta kuasa hukum untuk menuntut haknya. Akibat ambisinya untuk menemukan batas nafsunya sendiri kemudian mengantarkannya kepada sosok penakluk.

Carlos Brauer punya kecenderungan yang unik: menikmati setiap kata dengan cahaya lilin. Namun tahulah bahwa lilin yang identik dengan api, maka harus berhati-hati jika berhadap-hadapan dengan kertas-kertas. Nasib malang kemudian menimpa Brauer.

Lain kehendak hati lain pula yang terjadi suatu malam saat sedang mabuk karena kebanyakan meminum anggur, sampai tidak menyadari salah satu lilin sebagai sumber penerangan itu jatuh dan baru tersadar saat asap memenuhi ruangannya. Seseorang menemukannya saat melamun dengan ruangan basah dengan indeks bukunya yang terbakar.

Indeks yang telah ia buat dengan susah payah akhirnya terbakar, namun buku-bukunya selamat. Namun justru itu yang membuatnya nampak gila. Ia kehilangan tempat di mana ia akan mencari buku yang ia cari. Analoginya anda punya pengalaman pergi ke pasar, naik motor, menggandeng pacar, memanjat pohon kelapa, ke rumah teman, pengalaman pertama masuk sekolah, kunjungan wisata, bermain sepak bola, mandi di sungai dan tanpa dinyana anda lupa rentetan waktunya, sehingga ketika mencoba mengingat kembali bau rambut ibu, yang muncul adalah sepatu yang dimamah anjing di pembuangan nun jauh di masa kecil, mencoba mengingat wajah guru di sekolah, yang didapati adalah sosok ikan buntal (seperti tokoh guru mengemudi bernama Puff dalam serial kartun Spongebob).

Semua buku dan Carlos Brauer masih utuh, tapi untuk menemukan dimana ia meletakkan buku yang ia cari keburu kantuk. Terlebih ia tidak punya rumus tematik cadangan untuk buku-buku yang disusun sedemikian rumitnya. Dengan kejadian ini akhirnya Brauer menjual rumahnya dan menyisihkan sebagian untuk memenuhi tuntutan mantan istrinya. Ia kemudian membawa bukunya ke tepi laut di Rocha.

Di sana ia menyewa tukang untuk membangun rumah, dengan bahan dasar dari buku-bukunya sendiri. Jadilah rumah yang ia inginkan di balik dinding-dinding yang kokoh itu terkubur ribuan mayat buku di dalamnya.

Suatu saat tibalah malapetaka mengakhiri segalanya. Kodrati Bluma yang ingin membuktikan seberapa besar kesan dan ketertarikan Brauer kepadanya saat bertemu di konferensi pameran kepenulisan di Monterey,ingin ia buktikan dengan meminta edisi buku yang pernah ia berikan kepadanya. Ia mulai bimbang dan mencoba menebak-nebak titik dimana buku itu berada, dan melubangi berapa sisi bagian rumahnya. Setelah menemukannya bergegas ke kantor pos untuk mengirimnya (yang kelak lambat membuat Bluma terkejut karena keburu tertabrak mobil). Kemudian membeli semen untuk memperbaiki rumahnya kembali.

Nahas menimpanya karena buku itu membuat rumahnya doyong ke satu sisi dan buku yang dipasang di bagian atas berjatuhan, kata salah seorang tetangganya. Sekali ia hancurkan rumahnya sampai rata dengan tanah. Setelah itu ia pergi di tengah terik matahari dan tak pernah kembali.

Itulah cerita tentang seseorang yang cinta terhadap buku-bukunya, yang rela mengorbankan banyak hal, walaupun terdengar sangat berlebihan, mendengar kisah hidup Brauer menjadi pelajaran buat kita, bahwa disamping mengoleksi buku-buku sampai menjarah tiap jengkal rumahnya ternyata juga pembaca yang rakus.

Bahkan dalam salah satu percakapan dengan sahabatnya Delgado saat memberi saran agar tidak mengotori buku-bukunya dengan tulisan cakar ayamnya malah dibalas dengan keangkuhan yang iblis pun tak mempunyainya : “aku senggamai buku-buku, kalau belum ada bekasnya berarti belum orgasme”.

Dengan kegilaan seperti itu  empat jam bukanlah waktu yang cukup, butuh waktu sepanjang hari untuk memenuhi nafsunya. Perlu dijadikan pelajaran bagi kita yang gemar membeli buku, termasuk buku mata kuliah, yang kebanyakan kita mengubah nasibnya menjadi pajangan ruang tamu, tempat menyimpan uang, dan pengalas untuk menulis.

Buku dapat mempengaruhi dan mengubah cara pandang seseorang, terlebih ketika cara pandang terhadap sesuatu yang telah dibangun dan mengakar kuat lahir dari otoritas orang tua. Teringat betapa Hatta, wakil Presiden pertama Indonesia lebih memilih rumah sederhana yang dipenuhi buku dibanding memiliki gedung mewah dan segala fasilitas yang bisa saja ia nikmati, bahkan pada titik radikalnya rela dipenjarakan asalkan bersama buku-buku. Teringat Minke (baca: Tetralogi Pulau Buruh) yang berani keluar dari zona nyamannya, sebagai keluarga priyayi yang menentang ayahnya dari segi keberpihakan dan kecenderungan menolak budaya patriarki yang masih melekat pada ayahnya. Buku juga seperti yang dikatakan di awal sebagai jendela ilmu pengetahuan dan mengantarkan manusia bagaimana memahami dunia. Kemudian dari cara pandang-nyalah yang kelak akan melahirkan ideologi. Pengamalan ideologi tersebut dapat ditemukan dalam sejarah. Yang kemudian harus menyebabkan benturan antara ideologi satu dengan lainnya. Murid Tjokroaminoto, Soekarno, Musso, Kartosoewirjo punya cara pandang masing-masing untuk menciptakan tatanan yang adil: Nasionalisme, Komunisme, dan Islamisme. Semua itu juga tidak terlepas dari pengetahuan yang diperolehnya dalam buku-buku (Seteru satu guru).

Akhirnya bukan maksud saya sendiri untuk sok bijaksana dan seolah punya sifat yang dikesankan oleh Carlos Brauer (suka membaca, mempunyai banyak buku). Sama sekali tidak. Tidak maksud menganggap diri lebih baik dari pada yang lainnya yang kelak dengan sikap seperti itu hanya akan mengantarkan menjadi tiran.

Kecuali harus bercermin dan menjadi nasehat pribadi yang masih malas jika berhadapan dengan buku. Mungkin berlebihan jika harus mengutip dan menasehati orang lain dengan mengutip perkataan Winston S. Churchill, “Baca mereka (buku).” Tetapi jika kau tidak bisa membaca mereka, pegang mereka, atau tepatnya, timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka dimanapun mereka mau. Bacalah dari kalimat pertama yang menarik bagimu. Lalu balik ke halaman berikutnya. Lakukan petualangan, arungi laut yang belum terpetakan. Kembalikan mereka ke rak dengan tanganmu sendiri.

Susun mereka dengan aturanmu sendiri, jadi jika kau tidak tahu apa isi mereka, setidaknya kau tahu di mana posisi mereka. Jika mereka tidak bisa menjadi temanmu, setidaknya jadikan mereka kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka” (baca: Gilkey, Si Pencuri Buku). Karena Jika harus menunggu orang sempurna untuk mengatakannya atau kata seperti itu sampai kepadamu maka tak seorang pun yang akan melakukannya, kata salah seorang senior.

Penulis : Fuad Hidayatullah

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 21 At 23 42 31
Resensi

Bukan Soal Moral: Membaca ketidakadilan sosial dalam novel Re&Perempuan

22 Januari 2026
40
Tinjauan Kekerasan Budaya Pasca 1965 Patanjala Vol 6 No 2 Juni
Resensi

Menyingkap Tabir: Akar Kekerasan di Balik Parade Pembantaian Pasca 1965

15 September 2025
35
Untitled Design
Resensi

Etika Bunuh Diri dari Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

16 Desember 2025
105
Images
Resensi

KITA SEMUA HARUS MENJADI FEMINIS

2 Juli 2024
80

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi