Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah memberikan dampak signifikan pada pola interaksi masyarakat modern. Media sosial telah menjadi sarana komunikasi yang populer yang memungkinkan penyebaran informasi yang cepat, luas, dan interaktif.
Media sosial telah berkembang melampaui sekadar hiburan dan telah berubah menjadi ruang publik digital yang memungkinkan berbagi ide, diskusi terbuka, dan pembentukan opini publik. Melalui sosial media yang ada pada saat ini seperti Facebook,Twitter,Instagram dan TikTok membuat penyebaran pengetahuan lebih mudah dan efisien.
Salah satu contoh yang menarik perhatian publik adalah video viral “Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Pontianak”. Video tersebut memicu gelombang komentar dari warganet karena dianggap menampilkan situasi yang tidak adil dalam proses perlombaan.
Potongan video, caption, dan komentar penonton kemudian saling membentuk satu narasi besar yang menyebar cepat di media sosial. Fenomena yang terjadi pada lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di pontianak yang viral di TikTok menunjukkan bahwa pengguna media sosial lebih mudah tertarik pada konten yang memiliki kontroversial atau yang terdapat ketidakadilan di dalamnya.
Perbedaan pendapat antara juri dan peserta menunjukkan adanya perselisihan wacana yang muncul karena masing-masing memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda.
Analisis wacana memandang perbedaan tersebut penting karena membentuk makna dan menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga berkaitan dengan kekuasaan dan penyelesaian konflik.
Perdebatan semacam itu sering berkembang di media sosial karena setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya melalui komentar. Akibatnya, diskusi dapat menjadi semakin ramai, bahkan memunculkan komentar sarkastik, agresif, atau ujaran kebencian dari audiens sebagai bentuk reaksi terhadap pernyataan yang muncul sebelumnya.
Media Sosial sebagai Arena Wacana
Dengan menggunakan Analisis Wacana video viral “Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Pontianak” membentuk wacana digital di media sosial TikTok. Penulis menemukan bahwa Bahasa yang digunakan dalam video, caption, dan komentar audiens memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Salah satu temuan utama terlihat pada tuturan peserta yang mengatakan,
“Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B.”
Pernyataan tersebut dipahami sebagai bentuk pembelaan diri sekaligus upaya mempertahankan legitimasi jawaban mereka. Peserta mencoba menunjukkan bahwa jawaban yang mereka berikan sebenarnya benar karena memiliki kesamaan dengan jawaban kelompok lain.
Dalam konteks media sosial, pernyataan ini kemudian berkembang menjadi simbol ketidakadilan yang memancing empati publik. Peneliti menjelaskan bahwa audiens TikTok tidak hanya menonton, tetapi juga aktif memberikan penilaian sehingga narasi tentang ketidakadilan semakin meluas melalui komentar dan penyebaran ulang video.
Selain itu, penulis juga menganalisis tuturan juri yang mengatakan,
“Artikulasi itu penting ya.”
Pernyataan tersebut dipahami sebagai bentuk legitimasi atas keputusan juri. Penulis menjelaskan bahwa juri mengalihkan fokus penilaian dari isi jawaban menuju cara penyampaian jawaban peserta. Dalam hal ini, bahasa digunakan sebagai alat kekuasaan untuk menentukan standar benar dan salah.
Namun ketika video tersebar di TikTok, otoritas tersebut mulai dipertanyakan oleh publik. Sebagian audiens menganggap alasan artikulasi masuk akal, sementara sebagian lainnya menilai hal tersebut hanya pembenaran terhadap keputusan yang dianggap tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut menilai dan mengkritik otoritas secara terbuka.
Penulis juga membahas pernyataan juri lainnya, yaitu
“Inti jawabannya sudah benar. Nilai 10.”
Tuturan ini menunjukkan adanya pengesahan resmi terhadap jawaban salah satu peserta. Akan tetapi, adanya ketidakkonsistenan penilaian antara kelompok peserta yang kemudian memicu kritik publik. Perbedaan perlakuan tersebut menjadi faktor utama yang membuat video cepat viral karena masyarakat digital cenderung tertarik pada konflik dan kontradiksi.
Dalam situasi ini, warganet mulai membentuk opini kolektif tentang adanya ketidakadilan dalam perlombaan. Dalam media sosial, kebenaran tidak lagi hanya ditentukan oleh pihak resmi seperti juri atau penyelenggara, tetapi juga dibentuk melalui persepsi dan respons publik.
Bahasa Tidak Lagi Sekadar Komunikasi
Komunikasi Membangun persepsi audiens. Caption digunakan untuk mengarahkan cara penonton memahami isi video sebelum mereka menyaksikan keseluruhan peristiwa.
Penggunaan kata-kata yang bernada emosional atau provokatif membantu memperkuat kesan konflik dan ketidakadilan. Strategi tersebut sangat efektif dalam meningkatkan viralitas karena konten yang memancing emosi lebih mudah mendapat perhatian pengguna TikTok. Dengan demikian, viralitas video tidak hanya ditentukan oleh isi kejadian, tetapi juga oleh cara peristiwa tersebut dikemas secara digital.
Pada bagian komentar audiens, menunjukkan bahwa kolom komentar TikTok berfungsi sebagai ruang pembentukan opini publik. Banyak pengguna memberikan kritik terhadap sistem penilaian, menunjukkan empati kepada peserta, hingga menyindir keputusan juri. Komentar-komentar tersebut saling mempengaruhi dan membentuk narasi kolektif yang semakin memperkuat pandangan tentang ketidakadilan.
Komentar dengan jumlah likes tinggi cenderung dianggap mewakili suara mayoritas publik. Akibatnya, opini yang berkembang di media sosial dapat mempengaruhi citra individu maupun lembaga yang terlibat dalam video tersebut.
Secara keseluruhan, penulis menyimpulkan bahwa TikTok bukan hanya media hiburan, tetapi juga ruang publik digital tempat masyarakat membangun, menyebarkan, dan memperdebatkan makna. Wacana dalam media sosial terbentuk melalui hubungan antara video, caption, dan komentar audiens.
Bahasa dalam ruang digital tidak bersifat netral karena berkaitan dengan kekuasaan, legitimasi, dan pembentukan opini publik. Viralitas di media sosial lahir dari kombinasi konflik, emosi, dan partisipasi aktif audiens dalam membentuk penilaian sosial.
Referensi
- Fairclough, Norman. Language and Power. London: Longman, 1989.
- Van Dijk, Teun A. Discourse and Power. New York: Palgrave Macmillan, 2008.
- Castells, Manuel. Communication Power. Oxford: Oxford University Press, 2009.
- Jenkins, Henry. Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: New York University Press, 2006.
- Nasrullah, Rulli. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015.
- Eriyanto. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS, 2001.
- Fuchs, Christian. Social Media: A Critical Introduction. London: Sage Publications, 2014.
- McLuhan, Marshall. Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill, 1964.
Tulisan ini merupakan jurnal ilmiah DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Vol. 6, No. 1, 2026 yang ditulis oleh Rahmania, Nur Aliah, dan Ika Nur Ramadani. Dengan judul Analisis Wacana Video Viral “Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Pontianak” di TikTok: Kajian Tuturan, Caption, dan Komentar Audiens.




