Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Pelita Meredup di Tangan Pewarisnya: Catatan Kritis PC IMM Kota Makassar menjelang purna

Pataka Eja by Pataka Eja
6 Oktober 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 10 06 At 19 58

Oleh : Aghil Adrian Aryananda


Di bawah langit Makassar yang gemar menampung gema idealisme anak muda, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Makassar seharusnya menjadi rumah akal dan moral. Ia seharusnya menjelma sebagai pelita yang menyala dari bara-bara peradaban yang diwariskan oleh Tan Malaka, Natsir, hingga Syafi’i Maarif. Namun kini, pelita itu redup bukan karena angin zaman, tapi karena tangan-tangan yang memegangi sumbunya gemetar, goyah, dan mungkin kehilangan arah.

IMM adalah kawah candradimuka, tempat intelektual muda digodok dalam semangat humanisme profetik. Tapi di tangan para pemegang mandat hari ini, PC IMM Kota Makassar lebih sering tampak sebagai forum seremonial, tempat egosentris individu lebih keras bunyinya dari pada dialektika ide. Rapat-rapat berjalan tanpa arah strategis, dan agenda-agenda kaderisasi hanya menjadi ritual tahunan tanpa daya transformasi. Mengacu pada indikator kegagalan organisasi menurut Peter Drucker, organisasi gagal ketika ia:

1. Kehilangan tujuan utamanya

IMM dibangun untuk memajukan umat, mencerdaskan bangsa, dan membebaskan manusia. Tapi saat kegiatan IMM lebih sibuk mengatur jadwal pelantikan dan kunjungan seremonial, ketimbang membahas problematika mahasiswa dan umat, di situlah ruhnya mulai tercerabut.

2. Tidak adaptif terhadap perubahan

Di era digital ini, ketika narasi perjuangan mahasiswa berubah bentuk dalam kanal-kanal virtual, IMM Kota Makassar masih terpaku pada pendekatan usang. Kritik sosial hanya menjadi teks selebaran, bukan aksi yang menyentuh akar realitas.

3. Kepemimpinan yang lemah dan tidak visioner

Seorang pemimpin, kata Max Weber, haruslah punya kharisma, legalitas moral, dan rasionalitas tujuan. Namun, yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya, pemimpin yang lebih senang dikenang dalam foto dokumentasi daripada membentuk kesadaran kolektif kader.

Lebih jauh, Antonio Gramsci pernah berkata bahwa krisis terjadi ketika yang lama belum mati dan yang baru belum bisa lahir. IMM Kota Makassar berada di persimpangan ini. Ia gagal melahirkan format baru gerakan yang kontekstual, namun juga enggan meninggalkan cara lama yang usang dan tidak relevan.

Sebagian kader mungkin masih menaruh harap, namun harap saja tak cukup bila organisasi dipimpin oleh mereka yang tak bersedia membaca zaman. Tanpa intelektual organik yang mampu menjadi penghubung antara teori dan realitas, IMM hanya akan menjadi museum pergerakan indah dilihat, tapi mati dari dalam.

Kini, kita berada pada titik di mana kritik bukan sekadar opsi, tapi kewajiban moral. Sebab diam adalah pengkhianatan terhadap warisan perjuangan mereka yang dulu menggenggam IMM dengan bara semangat, bukan dengan kalkulasi politik kecil.

PC IMM Kota Makassar mesti bangkit dari tidur panjangnya. Atau biarlah sejarah yang mencatat, bahwa di suatu masa, pernah ada cabang yang kehilangan nyala, bukan karena mati ditiup zaman, tapi karena padam di tangan pewarisnya sendiri.

Untuk mengembalikannya maka IMM mesti hadir sebagai rumah akal dan moral, PC IMM Kota Makassar harus melakukan langkah-langkah pembaruan yang menyentuh inti dari permasalahan yang ada. Inilah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan perubahan mendalam.

PC IMM Kota Makassar juga mesti beranjak dari zona lama dengan berupaya meneguhkan kembali tujuan awal IMM, beradaptasi dengan perkembangan zaman, membangun dialektika yang kritis dan konstruktif, serta merevitalisasi gerakan IMM agar lebih menyentuh ke akar rakyat. 

James MacGregor Burns dalam bukunya Leadership, mengemukakan teori kepemimpinan transformasional, Ia  menekankan bahwa pemimpin visioner mampu menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, melalui motivasi, kecerdasan, dan pandangan jauh ke depan. Pemimpin transformasional membangkitkan semangat para pengikut untuk mewujudkan perubahan dan berkomitmen pada visi jangka panjang. 

Momentum yang ada di depan mata akan menjadi penentu, apakah praktik demikian akan kembali terulang dan terlegitimasi, atau patah dengan pembaharuan yang lebih sinkron sesuai cita IMM.

akhirnya, calon Pemimpin IMM mesti memahami bahwa kepemimpinan bukanlah untuk dilihat dalam dokumentasi atau upacara, melainkan untuk memajukan organisasi dan memberi arah yang jelas bagi seluruh kader. Kepemimpinan harus dibangun di atas nilai-nilai intelektual, moral, dan spiritual, serta mampu menjalin hubungan yang autentik dengan kader. Pemimpin harus menjadi teladan dalam berintegritas, menjaga visi organisasi, serta mampu merumuskan agenda yang menyentuh kebutuhan zaman.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 11 At 21 06
Opini

Kakistokrasi dan Evil Soul, ‘Benalu Mematikan’ dalam Demokrasi

11 Januari 2026
118
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26
Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

25 November 2025
51
Whatsapp Image 2025 05 02 At 20 54 47 8c909f28
Opini

Pendidikan, Hardiknas, dan Politik Etis Belanda

2 Mei 2025
75
2596576651
Opini

Menguak Tabir Penobatan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan

9 Juli 2025
35

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi