Pataka Eja – Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan tajam dalam sembilan bulan terakhir. Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan hanya 51,1 persen masyarakat yang menyatakan puas terhadap kinerja Presiden, turun drastis dari 81,2 persen pada November 2025.
Hasil tersebut terungkap dalam survei nasional bertajuk “Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden” yang dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026.
Dalam survei itu, responden yang menyatakan sangat puas terhadap kinerja Presiden hanya 4,8 persen, sedangkan 46,3 persen mengaku cukup puas. Di sisi lain, 35 persen responden menyatakan kurang puas, sementara 11,9 persen mengaku tidak puas sama sekali. Sebanyak 2,1 persen memilih tidak menjawab atau tidak mengetahui.
Dengan demikian, kelompok masyarakat yang menyatakan puas berada di angka 51,1 persen, sedangkan mereka yang kurang atau tidak puas mencapai 46,9 persen.
SMRC mencatat penurunan tingkat kepuasan tersebut mencapai 30,1 poin persentase dibandingkan survei November 2025.
Kala itu, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo berada di level 81,2 persen, sehingga dalam kurun waktu sembilan bulan terjadi pergeseran opini publik yang cukup signifikan.
Meski tingkat kepuasan masih sedikit lebih tinggi dibanding kelompok yang tidak puas, selisih keduanya kini hanya sekitar 4,2 poin persentase, memperlihatkan masyarakat mulai terbelah dalam menilai kinerja pemerintah.

SMRC menyebut merosotnya tingkat kepuasan publik tidak terjadi tanpa sebab.
Lembaga tersebut menilai penurunan approval rating Presiden berkaitan erat dengan melemahnya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional, situasi politik, serta penegakan hukum.
Dalam paparannya, SMRC menyatakan bahwa penurunan kepuasan publik berhubungan erat dengan merosotnya sentimen positif terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Temuan itu menunjukkan bahwa penilaian masyarakat terhadap Presiden tidak hanya dipengaruhi oleh popularitas pribadi, tetapi juga oleh kondisi riil yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.




