Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Kepala tak Berisi: Pemimpin Kosong, Sibuk Gaya, Bungkam pada Realita

Pataka Eja by Pataka Eja
25 September 2025
in Opini
0
Img 20250908 Wa0007

Oleh: Caca

Di banyak organisasi hari ini, kursi ketua tidak lagi ditempati oleh mereka yang benar-benar layak, melainkan oleh mereka yang “dititipkan” senior. Seorang ketua dipilih bukan karena gagasan, bukan karena karakter, apalagi karena integritas, melainkan hanya karena kepatuhan. Fenomena ini semakin menegaskan bahwa kepemimpinan kita sedang kehilangan makna.

Ketua yang terpilih karena titipan ibarat rumah tanpa pondasi—berdiri tapi rapuh, terlihat gagah tapi mudah roboh. Mereka lebih sibuk menjalankan titah senior daripada menegakkan komitmen kepada anggota. Identitas seorang pemimpin pun hilang, berganti dengan status semu yang hanya pantas disebut boneka jabatan.

Ironisnya, sebagian ketua tidak sekadar gagal memimpin, tetapi juga memperlakukan jabatan sebagai panggung gaya. Nama yang terpampang di pamflet ucapan selamat terasa lebih penting daripada kerja nyata di lapangan. Mereka menikmati gemerlap simbol, namun melupakan tanggung jawab yang melekat di pundaknya. Dalam kondisi ini, kepemimpinan berubah menjadi pesta seremonial belaka, tanpa arah dan tanpa ruh perjuangan.

Lebih menyedihkan lagi, ada ketua yang memilih bungkam saat anggota berteriak di bawah. Diam seolah menjadi jalan aman, padahal diam hanyalah wujud pengecut. Bagaimana mungkin seorang ketua layak disebut pemimpin jika ia tidak berani berdiri menghadapi masalah? Bagaimana mungkin ia layak dihormati jika justru memilih menjadi penonton ketika realitas sedang gaduh?

Sikap anti kritik juga menjadi penyakit yang semakin menular. Kritik dianggap kebencian, seolah semua suara berbeda adalah ancaman. Padahal, kritik adalah vitamin kepemimpinan, bahan bakar yang membuat seorang pemimpin bisa tumbuh dan memperbaiki diri. Ketua yang menutup telinga dari kritik sejatinya telah menolak menjadi pemimpin. Ia memilih jalan nyaman, meski itu berarti membiarkan organisasinya hancur perlahan.

Seorang ketua tanpa kerja nyata, yang hanya sibuk menjaga wibawa semu, hanyalah pemimpin palsu. Ia tidak merangkul, tidak berjuang, tidak mendengar, dan tidak bergerak. Gelar “ketua” yang melekat padanya hanyalah kosong, seperti papan nama yang indah tapi tidak punya isi.

Sudah saatnya organisasi berhenti memelihara budaya titipan. Kepemimpinan sejati lahir dari keberanian, tanggung jawab, dan kesediaan mendengar kritik. Tanpa itu, seorang ketua tidak lebih dari bayangan yang segera dilupakan sejarah.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 25 At 17 19
Opini

Menatap Masa Depan Penutur Bahasa Makassar

26 Desember 2025
109
Whatsapp Image 2026 01 11 At 21 06
Opini

Kakistokrasi dan Evil Soul, ‘Benalu Mematikan’ dalam Demokrasi

11 Januari 2026
112
Dsc022072
Opini

Antara Stagnasi dan Harapan: Membaca Ulang Arah Gerakan HIPMA Gowa

18 Desember 2025
401
Img 20250602 Wa0156
Opini

Matinya Lembaga Kemahasiswaan: Di Balik Palu Sidang dan PDH Lusuh

1 Agustus 2025
231

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi