Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menatap Masa Depan Penutur Bahasa Makassar

Pataka Eja by Pataka Eja
26 Desember 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 12 25 At 17 19

Potret Nurafni, Ketua Umum PC IMM Gowa

Oleh : Nurafni


Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda eksistensi budaya dan identitas kolektif. Bahasa merupakan sebuah alat vital yang dibutuhkan oleh manusia dalam melaksanakan segala hal, selain sebagai sebuah alat bahasa juga dijadikan sebagai bagian dari identitas yang melekat pada diri manusia. 

Salah satunya bahasa Makassar sebagai salah satu bahasa daerah yang ada di Sulawesi Selatan dan merupakan identitas budaya yang dimiliki oleh suku Makassar, tersebar dari Makassar hingga ke Pulau Selayar.

Meskipun bahasa Makassar adalah salah satu bahasa yang tersebar luas di beberapa kabupaten yang ada di sulawesi selatan, tentunya masa depan bahasa makassar belum terjamin secara pasti. 

Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti adanya dominasi bahasa asing, kemajuan teknologi, bahkan sikap generasi muda yang menilai bahasa daerah kurang bergengsi (baca: kampungan). Hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri akan menjadi tantangan yang menghantui keberadaan bahasa Makassar sebagai identitas yang kita miliki.

Budaya bahasa yang kita miliki saat ini sangat mempengaruhi apakah keberadaan bahasa Makassar akan tetap panjang atau akan menjadi rapor merah bagi generasi yang akan datang. Tentunya hal ini adalah bukanlah yang kita harapkan, kita tidak ingin kehilangan identitas yang telah lama diwariskan secara turun temurun.

Multilingual; Kebanggan atau Tantangan

Masyarakat kita sekarang hidup dalam dunia yang multilingual. Artinya, banyak orang menggunakan dua atau bahkan lebih dari dua bahasa dalam kesehariannya. Di rumah mungkin berbahasa Makassar, di sekolah menggunakan bahasa Indonesia, dan di media sosial menulis dalam bahasa Inggris. 

Fenomena multilingual yang terjadi di masyarakat saat ini tentunya merupakan salah satu hal yang tidak dapat kita pungkiri, perpaduan bahasa daerah khususnya bahasa Makassar sebagai bahasa ibu dengan bahasa nasional yaitu bahasa indonesia ditambah lagi bahasa internasional yang menjadi bahasa wajib yang ada di sekolah seperti bahasa inggris menjadikan masyarakat sebagai penutur bahasa multilingual yang dinamis.

Dunia industri menuntut penguasaan bahasa nasional dan asing, sementara media sosial memperkuat dominasi bahasa-bahasa populer. Akibatnya, bahasa daerah seperti bahasa Makassar perlahan bergeser dari ruang komunikasi kita. Ia tidak lagi dianggap penting sebagai simbol identitas, padahal di sanalah akar budaya kita tumbuh.

Jika hal ini terus dibiarkan, bisa jadi suatu hari nanti bahasa Makassar hanya akan tinggal dalam buku pelajaran tidak lagi diucapkan dengan hangat di rumah atau di jalanan tempat ia dulu hidup.

Terlepas dari itu, yang harus kita pikirkan kembali adalah apakah menjadi masyarakat multilingual dapat menjadi sebuah kebanggaan atau malah ancaman?

Keduanya tentu akan menjadi dilema bagi kita, Di satu sisi, kita bisa melihat bahwa masyarakat kita semakin maju. Kemampuan berbahasa yang makin luas menunjukkan kecerdasan dan keterbukaan terhadap dunia, sesuatu yang tentu membawa dampak positif bagi pengembangan diri dan potensi anak muda masa kini.

Di sisi lain, keberadaan bahasa Makassar mulai terancam. Makin sedikit orang yang menggunakannya, terutama di kalangan muda, membuat bahasa ini perlahan kehilangan nafasnya di tengah kehidupan modern. Bahkan pada beberapa keadaan masyarakat tidak lagi memahami sebagian besar kosa kata yang ada dalam bahasa Makassar. 

Sementara untuk menjaga kehadiran bahasa makassar sebagai bagian dari identitas kita perlu adanya aksi nyata salah satunya pelestarian melalui penggunaan bahasa secara aktif bukan lagi pasif atau bahkan hanya memahami artinya tapi tidak dapat mengucapkannya.

Maka, menjadi multilingual bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa, melainkan soal bagaimana kita menempatkan bahasa daerah dalam hierarki kebanggaan budaya.

Generasi muda dan sosial media

Generasi muda sebagai pemegang tonggak masa depan bangsa bahkan pewaris kebudayaan yang kita miliki sejatinya memiliki beban moral yang cukup berat, dikarenakan zaman generasi saat ini tidak lagi statis tetapi sangat dinamis dengan segala kemajuan teknologi yang ada.

Saat ini kita telah hidup dimana aktivitas manusia telah banyak beralih ke sosial media, segala bentuk aktivitas tersebut juga banyak terdokumentasikan melalui reels atau foto yang kemudian dibalut dengan narasi-narasi yang cukup modern dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh netizen. Hal ini mengakibatkan bahasa Makassar tidak banyak digunakan di sosial media karena dinilai sebagai bahasa yang tidak dapat dipahami oleh netizen.

Padahal mestinya kita mampu menjadikan sosial sebagai Media sosial sebenarnya dapat menjadi ruang hidup baru bagi bahasa Makassar. Melalui konten kreatif, generasi muda bisa menjadikan bahasa daerah bukan sekadar warisan, tetapi gaya hidup digital yang membanggakan.

Beberapa kreator muda mulai menggunakan bahasa Makassar dalam video komedi, musik, maupun podcast sebagai bentuk kebanggaan lokal. Fenomena ini membuktikan bahwa bahasa daerah dapat hidup kembali bila ditempatkan dalam ruang yang modern dan kreatif.

Menatap Masa Depan Dengan Harapan

Menjaga identitas yang kita miliki bukanlah tanggung jawab pihak tertentu tapi menjadi tanggung jawab yang kita miliki bersama, baik pemerintah, akademisi, masyarakat bahkan komunitas kreatif. 

Kerjasama dari berbagai unsur yang ada tentunya akan menjadi sebuah upaya yang cukup indah serta menjadi angin segar untuk keberadaan bahasa Makassar sebagai budaya.

Jika angin segar tersebut dapat berlangsung dengan baik maka tentunya akan memperlihatkan kita pantulan besar bahwa kita masih memiliki harapan yang nyata untuk menjaga identitas kebudayaan yang kita miliki, selama masih ada yang berani untuk berkarya, menulis, dan berbicara menggunakan bahasa Makassar maka ia tidak akan punah. Ia hanya menunggu ruang untuk berkembang. Dan kitalah yang bertanggung jawab untuk membuka ruang tersebut.

Menjaga bahasa Makassar berarti menjaga ingatan kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Selama lidah kita masih sanggup mengucapkannya dengan bangga, bahasa ini akan tetap hidup di masa depan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 02 07 At 00 56
Opini

Tafsir tentang ‘Bahasa Kekuasaan’ (Presiden: Kalau Tidak Suka Saya Silahkan 2029 Bertarung)

7 Februari 2026
50
Screenshot
Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

29 November 2025
101
Whatsapp Image 2025 09 27 At 22 54
Opini

Dari Pengakuan ke Peran: Warisan 27 September 1950 dan Suara Indonesia di PBB Era Prabowo

28 September 2025
108
Whatsapp Image 2025 10 13 At 12 21 52
Opini

Panduan Spiritual untuk Para Senior

14 Oktober 2025
423

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi