Oleh: Qoiri Imam Noveriano
Aku, mungkin hanyalah matahari
yang tak tahu cara padam,
menyala oleh rindu yang tak pernah sempat kau jawab.
Dan kau — bumi yang tenang,
terus berputar, seolah tak pernah benar-benar menoleh.
Setiap kali aku mencoba mendekat,
kulitmu terbakar oleh hangat yang kuanggap cinta.
Cahayaku — yang kupikir akan membuatmu hidup,
malah menjadikanmu luka yang tak bisa kau obati.
Kita hidup dalam jarak yang ditentukan langit.
Aku menyinari,
kau menerima,
tanpa pernah tahu rasanya bersentuhan.
Terkadang aku iri pada senja —
ia sempat menempel di langitmu,
meninggalkan warna yang membuatmu tampak bahagia,
sementara aku hanya bisa menatap dari jauh,
tak diizinkan turun, tak diizinkan benar-benar ada.
Andai aku bisa lebih dekat,
aku akan datang —
bukan untuk membakar,
tapi untuk bernafas di sampingmu,
sekali saja.
Tapi mungkin memang begini caranya semesta menjaga kita:
aku tetap di langit,
kau tetap di sana, hijau dan biru,
dan cinta ini —
harus bertahan dari jarak yang tak pernah ha




