Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Sosial & Politik

IMM Luwu Utara: Aksi Mahasiswa Bukan Penghambat Pembangunan, Tapi Suara Rakyat Luwu Raya

Pataka Eja by Pataka Eja
27 Januari 2026
in Sosial & Politik
0
Whatsapp Image 2026 01 27 At 20 32

potret Muhammad Sulkifli Lubis ketua IMM Pimpinan Cabang Luwu Utara

Patakaeja.id – Pemekaran Provinsi Luwu Raya bukanlah sekadar wacana politik, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menghadirkan keadilan pembangunan bagi masyarakat Luwu Raya secara keseluruhan. 

Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Cabang Luwu Utara dalam hal ini Muhammad Sulkifli Lubis yang merupakan warga asli Seko memandang bahwa isu ini harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan rakyat, bukan kepentingan elit ataupun narasi sesat yang menyesatkan publik.

Belakangan ini, kami melihat berkembangnya opini-opini di ruang publik terutama di media sosial yang secara serampangan menyalahkan mahasiswa dan masyarakat yang melakukan aksi demonstrasi. 

Aksi-aksi tersebut kerap dituding sebagai penghambat ekonomi masyarakat, perusak stabilitas, bahkan dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap negara. Tuduhan ini tidak hanya keliru, tetapi juga mencederai nilai demokrasi dan kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi.

Perlu kami pertegas bahwa mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan hari ini bukanlah mereka yang anti-pembangunan. Justru sebaliknya, aksi yang dilakukan lahir dari nawaitu yang murni, dari jeritan hati rakyat yang selama puluhan tahun masih berada di pinggiran pembangunan. 

Cobalah menengok Seko—wilayah yang hingga hari ini masih merasakan ketertinggalan mendasar: listrik PLN yang belum sepenuhnya dirasakan, infrastruktur jalan yang terbatas, akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata. Apakah memperjuangkan hak-hak dasar tersebut disebut sebagai penghambat ekonomi?

Narasi yang menyudutkan gerakan aksi sejatinya adalah bentuk pengalihan isu dari persoalan substansial yang belum diselesaikan oleh negara. Katakanlah demonstran adalah kambing hitam yang selalu disalahkan.

Namun, jauh lebih sulit untuk jujur mengakui bahwa ketimpangan pembangunan masih nyata di depan mata. Padahal sejarah mencatat, perubahan besar di negeri ini tidak pernah lahir dari sikap diam, melainkan dari keberanian menyuarakan kebenaran.

Dalam menyikapi derasnya opini dan informasi yang beredar, kami mengajak seluruh masyarakat untuk memperbanyak tabayyun—memeriksa, menimbang, dan mengklarifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan narasi tertentu. 

Jangan sampai ruang publik kita dipenuhi oleh kabar yang tidak utuh, bahkan hoaks yang sengaja diproduksi untuk melemahkan gerakan rakyat. 

Sebagaimana pernah diingatkan oleh Rocky Gerung, hoax sering kali tidak lahir dari kebodohan rakyat, tetapi dari kekuasaan yang takut pada suara kebenaran. Pernyataan ini patut menjadi refleksi bersama agar tidak ada pihak-pihak yang “bermain di belakang layar” demi kepentingan tertentu.

IMM sebagai organisasi intelektual dan gerakan moral akan terus berdiri di barisan rakyat, mengawal isu pemekaran Provinsi Luwu Raya secara kritis, objektif, dan berlandaskan nilai keadilan sosial. 

Kami percaya bahwa pemekaran bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah terpinggirkan seperti Seko, Rampi dan Luwu Raya pada umumnya.

Akhirnya, kami menegaskan bahwa aksi adalah bahasa nurani rakyat. Selama dilakukan secara damai dan berlandaskan kepentingan umum, aksi bukanlah musuh pembangunan, melainkan pengingat bahwa negara belum sepenuhnya hadir. 

Maka, hentikan stigma, buka ruang dialog, dan dengarkan suara rakyat Luwu Raya dengan hati yang jernih dan bijaksanaan  dalam menyikapi berita-berita yang yang kurang valid.

Tags: #ProvinsiLuwu Raya harga mati#Wanua Mappatuo Na ewai Alena#Wija To Luwu
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 07 20 At 20 38 35
Sosial & Politik

UU Pemda Wajibkan Sinergi, tapi Bupati dan DPRD Gowa Terus Bersitegang, Kepentingan Rakyat Dipertaruhkan

20 Juli 2026
39
Whatsapp Image 2026 05 02 At 19 24
Sosial & Politik

Tujuh Manifesto Perjuangan Mahasiswa Saintek UINAM di Momentum May Day–Hardiknas 2026

2 Mei 2026
80
Denny Indrayana
Sosial & Politik

Bupati Gowa Tegaskan Ranah Pribadi Bukan Objek Kebijakan, Denny Indrayana Ulas Kapan Privasi Pejabat Menjadi Kepentingan Publik

29 Juli 2026
12
Uinaaa
Sosial & Politik

Viral Flyer Palsu Catut Nama UIN Alauddin Dukung Bupati Gowa, Kampus Siap Tempuh Jalur Hukum

20 Juli 2026
208

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi