Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Historiografi yang Diabaikan: Membaca Ulang Kekerabatan Pelaut Makassar dengan Suku Aborigin di Australia

Pataka Eja by Pataka Eja
20 Februari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 02 16 At 18 13

Oleh: Edi Kurniawan


Sejarah Australia modern kerap dimulai dengan kedatangan James Cook pada 1770. Dalam narasi arus utama, pantai utara benua itu digambarkan sebagai ruang yang “ditemukan”, dipetakan, lalu dimasukkan ke dalam orbit kolonial Inggris. Namun, sebelum layar-layar Eropa membelah Samudra Pasifik, angin muson telah lebih dahulu membawa pelaut Makassar dari Kesultanan Gowa menuju pesisir Australia utara. Di sinilah historiografi perlu dibaca ulang. 

Konsep “penemuan” dalam sejarah kolonial sesungguhnya problematik. Ia mengandaikan kekosongan seolah-olah wilayah yang disinggahi belum memiliki jejaring hubungan sebelumnya. Padahal, jauh sebelum kolonialisme Inggris menguat di Australia, para pelaut Makassar telah menjalin hubungan rutin dengan komunitas Aborigin, khususnya di kawasan Arnhem Land.

Setiap tahun, mengikuti siklus angin, ratusan awak perahu Makassar berlayar mencari teripang (trepang), komoditas laut bernilai tinggi di pasar Asia Timur. Aktivitas ini bukan ekspedisi sesaat, melainkan jaringan ekonomi musiman yang berlangsung selama berabad-abad (sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-20). Fakta ini menggugurkan asumsi bahwa Australia utara terisolasi sebelum kolonialisme Eropa.

Menariknya, hubungan Makassar dengan Aborigin tidak dibangun dalam pola dominasi. Tidak ditemukan adanya bukti pendudukan secara permanen atau klaim teritorial Makassar atas tanah Aborigin. Sebaliknya, yang muncul adalah pola kerja sama, pertukaran, dan bahkan kekerabatan simbolik.

Selain itu, jejak pelaut Makassar dibuktikan secara arkeologis adanya lukisan cadas Aborigin yang menggambarkan perahu Makassar (prau Macassans).  Serta banyak adopsi sejumlah kosakata bahasa Makassar kedalam bahasa lokal Aborigin.

Dalam beberapa komunitas Aborigin, ingatan Historis tentang “orang Makassar” diwariskan secara lintas generasi, bukan sebagai penjajah, melainkan sebagai mitra dagang dan tamu musiman.

Lalu mengapa kisah ini lama terpinggirkan?

Historiografi kolonial cenderung berpusat pada arsip Eropasentris. Karena pelaut Makassar tidak meninggalkan catatan tertulis dalam arsip kolonial Inggris, kontribusi mereka sering dianggap periferal. Padahal, bukti material dan tradisi lisan Aborigin menunjukkan kedalaman relasi tersebut.

Pengabaian ini bukan hanya kelalaian akademik, melainkan bagian dari politisasi pengetahuan, sejarah ditulis dari sudut pandang atas kekuasaan dan pemenangnya. Dalam konteks ini, hubungan Makassar–Aborigin menjadi narasi alternatif yang menentang dominasi perspektif kolonial.

Keberanian pelaut Makassar menembus perairan selatan menunjukkan bahwa Nusantara bukanlah wilayah yang pasif dalam sejarah global. Sebaliknya, ia adalah aktor aktif dalam jaringan maritim Asia–Australia. Pelabuhan Makassar (baca: Somba Opu) pada masanya merupakan simpul perdagangan kosmopolitan yang menghubungkan pulau Sulawesi, Maluku, Jawa, hingga Asia Timur. Jelas relasi ini bukanlah sekadar catatan pinggiran, tetapi bagian dari sejarah maritim dunia.

Membaca ulang kekerabatan pelaut Makassar dan suku Aborigin berarti menempatkan Asia Tenggara sebagai subjektivitas historis, bukan hanya objektivitas semata. Ia juga mengembalikan pengakuan atas relasi secara damai lintas benua yang telah berlangsung sebelum kolonialisme membentuk batas-batas politik modern. 

Di tengah upaya rekonsiliasi sejarah di Australia dan penguatan identitas maritim Indonesia, kisah ini memiliki makna simbolik yang sangat strategis. Bukan hanya cerita masa lalu, melainkan pijakan kuat dalam hukum diplomasi kultural kontemporer antara Indonesia dan Australia.

Karena di bawah layar muson yang sama, dua peradaban pernah saling menyapa tanpa meriam, tanpa penaklukan. Hanya dengan angin, laut, dan rasa saling percaya.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Ni3fkvhqmfecajveogef
Opini

Menguji Demokrasi di Indonesia

3 Oktober 2024
79
Img 20250726 Wa0038
Opini

Mencandra MUBES HIPMA Gowa

27 Desember 2025
697
Img 89789t5
Opini

Gowa Damai: Antara Slogan dan Realita Lapangan

1 September 2025
129
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26
Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

25 November 2025
54

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi