Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Hari Ibu, di Negeri yang Pandai Memuji Tapi Enggan Membebaskan

Pataka Eja by Pataka Eja
22 Desember 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 12 22 At 09 48

Oleh: Caca

Setiap Hari Ibu, kita merayakan perempuan dengan kata-kata yang manis. Ibu disebut malaikat, pahlawan tanpa tanda jasa, tiang keluarga, sumber kasih yang tak pernah kering. Namun setelah kata-kata itu selesai diucapkan, pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar memperjuangkan hidup ibu?

Budaya patriarki sangat piawai memuliakan ibu lewat bahasa, tetapi abai dalam tindakan. Perempuan dipuji karena pengorbanannya, tetapi pengorbanan itu justru dianggap kewajiban. Ibu dipuji karena kuat, tetapi kekuatan itu dipaksa tumbuh dari ketidakadilan. Dalam masyarakat kita, perempuan sering diajari sejak kecil untuk mengalah, melayani, dan diam—sementara anak laki-laki dibesarkan untuk memimpin, bersuara, dan bebas menentukan arah hidupnya.

Di rumah, di ruang kerja, bahkan di kebijakan publik, kerja-kerja perempuan—kerja merawat, mengasuh, menyiapkan hidup—masih dianggap kerja “alami”, bukan kerja yang layak dihitung, dihargai, dan dilindungi. Inilah wajah patriarki yang paling licik: ia menindas sambil tersenyum, memuji sambil menghisap tenaga.

Kapitalisme lalu datang memperdalam luka itu. Tubuh perempuan dan alam diperlakukan sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Perempuan dipaksa bekerja tanpa jaminan, tanpa perlindungan, dengan upah rendah; alam digerus tanpa batas demi pertumbuhan ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ketika lingkungan rusak, air tercemar, pangan langka, perempuanlah yang pertama merasakan dampaknya—karena merekalah yang paling dekat dengan kerja mempertahankan kehidupan.

Ironisnya, di tengah semua itu, banyak pihak masih sibuk berbicara tentang “kemajuan”, “keluarga ideal”, dan “peran kodrati perempuan”, tanpa pernah bertanya: maju untuk siapa? ideal menurut siapa? dan kodrat versi siapa?

Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi panggung puisi dan bunga. Ia seharusnya menjadi cermin. Apakah kita sungguh menghormati ibu jika kita masih membiarkan sistem yang memiskinkan perempuan? Apakah kita mencintai ibu jika kita diam saat alam—ruang hidup yang ia rawat—dirusak atas nama pembangunan?

Bagi perempuan, terutama para ibu, mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya menjadi simbol kesabaran. Kesabaran tidak seharusnya diwariskan sebagai beban, tetapi dipilih dengan kesadaran. Cinta tidak seharusnya dimaknai sebagai pengorbanan tanpa batas, tetapi sebagai relasi yang adil.

Dan bagi masyarakat yang masih membudayakan patriarki, dengarkan ini baik-baik:
menghormati ibu bukan soal ucapan, tetapi soal keberanian mengubah struktur yang membuat ibu terus lelah.

Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi peringatan. Bahwa di balik dapur yang mengepul, ada tubuh yang letih. Di balik rumah yang rapi, ada kerja yang tak pernah libur. Dan di balik kata “ibu”, ada perempuan yang juga manusia—yang berhak atas keadilan, pilihan, dan kehidupan yang bermartabat.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 07 26 At 22 58 35 9a14d79c
Opini

Mereka Seharusnya Lebih Belajar Soal Agama

27 Juli 2024
125
Whatsapp Image 2025 12 19 At 20 16
Opini

Ijazah Menjadi Tiket Kemiskinan: Krisis Pengangguran Sarjana di Gerbang Timur Menuju Titik Nadir

24 Desember 2025
93
Screenshot
Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

29 November 2025
115
Whatsapp Image 2026 01 11 At 01 55
Opini

Negara Hukum Minim Literasi: Pantaskah Pejabat Hukum Minim Literasi?

15 Januari 2026
150

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi