Oleh: Caca
Setiap Hari Ibu, kita merayakan perempuan dengan kata-kata yang manis. Ibu disebut malaikat, pahlawan tanpa tanda jasa, tiang keluarga, sumber kasih yang tak pernah kering. Namun setelah kata-kata itu selesai diucapkan, pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar memperjuangkan hidup ibu?
Budaya patriarki sangat piawai memuliakan ibu lewat bahasa, tetapi abai dalam tindakan. Perempuan dipuji karena pengorbanannya, tetapi pengorbanan itu justru dianggap kewajiban. Ibu dipuji karena kuat, tetapi kekuatan itu dipaksa tumbuh dari ketidakadilan. Dalam masyarakat kita, perempuan sering diajari sejak kecil untuk mengalah, melayani, dan diam—sementara anak laki-laki dibesarkan untuk memimpin, bersuara, dan bebas menentukan arah hidupnya.
Di rumah, di ruang kerja, bahkan di kebijakan publik, kerja-kerja perempuan—kerja merawat, mengasuh, menyiapkan hidup—masih dianggap kerja “alami”, bukan kerja yang layak dihitung, dihargai, dan dilindungi. Inilah wajah patriarki yang paling licik: ia menindas sambil tersenyum, memuji sambil menghisap tenaga.
Kapitalisme lalu datang memperdalam luka itu. Tubuh perempuan dan alam diperlakukan sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Perempuan dipaksa bekerja tanpa jaminan, tanpa perlindungan, dengan upah rendah; alam digerus tanpa batas demi pertumbuhan ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ketika lingkungan rusak, air tercemar, pangan langka, perempuanlah yang pertama merasakan dampaknya—karena merekalah yang paling dekat dengan kerja mempertahankan kehidupan.
Ironisnya, di tengah semua itu, banyak pihak masih sibuk berbicara tentang “kemajuan”, “keluarga ideal”, dan “peran kodrati perempuan”, tanpa pernah bertanya: maju untuk siapa? ideal menurut siapa? dan kodrat versi siapa?
Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi panggung puisi dan bunga. Ia seharusnya menjadi cermin. Apakah kita sungguh menghormati ibu jika kita masih membiarkan sistem yang memiskinkan perempuan? Apakah kita mencintai ibu jika kita diam saat alam—ruang hidup yang ia rawat—dirusak atas nama pembangunan?
Bagi perempuan, terutama para ibu, mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya menjadi simbol kesabaran. Kesabaran tidak seharusnya diwariskan sebagai beban, tetapi dipilih dengan kesadaran. Cinta tidak seharusnya dimaknai sebagai pengorbanan tanpa batas, tetapi sebagai relasi yang adil.
Dan bagi masyarakat yang masih membudayakan patriarki, dengarkan ini baik-baik:
menghormati ibu bukan soal ucapan, tetapi soal keberanian mengubah struktur yang membuat ibu terus lelah.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi peringatan. Bahwa di balik dapur yang mengepul, ada tubuh yang letih. Di balik rumah yang rapi, ada kerja yang tak pernah libur. Dan di balik kata “ibu”, ada perempuan yang juga manusia—yang berhak atas keadilan, pilihan, dan kehidupan yang bermartabat.




