Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama
Harus kita akui bahwa belakangan ini beberapa Negara telah mengalami krisis identitas akibat radiasi teknologi yang melaju begitu pesat. Sehingga beberapa orang, kelompok, maupun bangsa setidaknya diperhadapkan oleh dua pilihan, antara mengikuti perkembangan (Modernisasi) atau meninggalkan kebiasaan (Budaya).
Pilihan tersebut masing-masing memiliki jawaban dan hasil yang berbeda, mengikuti perkembangan dapat menggeser beberapa kebudayaan yang dianggap tertinggal. Sedangkan, mempertahankan kebudayaan dapat memicu perilaku maupun tindakan yang dinilai selalu berlebihan
Hasilnya, kebanyakan orang atau kelompok lebih memilih untuk mengikuti arus teknologi dan meninggalkan identitas bangsanya, dengan menerapkan standarisasi nilai yang baik ketika ramai dibincangkan serta mengakui tindakan yang benar apabila selaras pada iklim teknologi yang mengacu pada Negara Maju
Jika demikian, maka kehilangan identitas bangsa (budaya) adalah suatu keniscayaan. seperti penggunaan gadget yang lebih suka pesona dan keindahan gambar yang dianggap memuaskan dari pada harus membuka ruang obrolan pada lingkungan sekitar, sehingga membentuk sikap Apatis (individualisme) yang bertentang oleh karakteristik bangsa Indonesia terhadap Kepedulian sosial dan Gotong Royong (Utilitarianisme) seperti dalam Ungkapan Pepatah Jawa ” Dudu Sanak, Dudu Kadang, Yen Mati Melu Kelangan”.
Bukan hanya indonesia, hal serupa juga pernah melanda Negara Turki beberapa dasawarsa lalu, dengan dalih mengejar modernisasi pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk pernah mengeluarkan kebijakan yang dinilai telah memutuskan kesinambungan dan kelestarian budaya melalui Penggantian Pakaian Nasional Turki dengan Eropa, serta Penerapan Bahasa Latin yang sebelumnya Menggunakan Huruf Arab.
Hal ini mengakibatkan Generasi baru Turki tidak lagi dapat membaca, mengenali, serta merasakan warisan budaya dan sastra mereka sendiri.
Kendati demikian, bukan berarti pertemuan atau keseimbangan antara kemajuan teknologi dan upaya mempertahankan budaya itu tidak ada. Duduk dalam satu pilihan memiliki konsekuensi yang besar, bahwa benar menghindari teknologi menciptakan ketertinggalan tetapi mengikuti teknologi bukan berarti harus menghilangkan kebudayaan atau identitas suatu bangsa, hal ini dimaknai oleh Nurcholis Madjid hanya sebagai Problem bagaimana Menerjemahkan Modernitas.
Bahwa modernisasi adalah suatu hal yang universal dan sebagai kelanjutan logis dari warisan budaya umat manusia. Menjadi modern bukan berarti mengikuti keseluruhan atau menjadikan suatu negara yang maju sebagai pangkal segala tujuan kemiripan, sebab tidak sedikit negara yang maju tanpa harus memutuskan masa lampaunya.
Seperti Jepang yang terus mengalami kemajuan tanpa harus menggantikan Huruf Kanji dengan Huruf Latin, Semoga kita semua mampu menikmati perkembangan teknologi tanpa harus kehilangan pondasi atau identitas sebagai bangsa yang beradab, bermartabat dan berwibawa, terkhusus dalam penggunaan media sosial yang baik dan benar secara identitas dan nilai kebudayaan tanpa harus mengikuti secara menyeluruh gairah atau iklim pada negara yang Maju.




