Oleh: Rajni Argianti Firzatulloh
Aku tumbuh,
di saat rambut orang tuaku mulai memudar warnanya.
Menjadi harapan terakhir,
yang harus melangkah lebih jauh dari kakaknya.
Aku membawa doa mereka di setiap langkah,
dengan hati yang penuh cemas dan harap.
Cemas — pada waktu yang terus berjalan,
harap — agar mereka sempat melihatku berhasil.
Aku ingin berdiri tegak,
menggapai mimpi di atas doa-doa yang mereka titipkan,
menjadi kebanggaan,
bukan sekadar nama di ijazah.
Merantau jauh, mencari ilmu,
belajar menelan rindu, menaklukkan sepi.
Apa pun yang terjadi di tanah rantau,
hanya satu yang kupegang:
saat pulang nanti —
aku harus pulang sebagai sarjana,
dengan senyum mereka sebagai tanda menang




