Oleh : Muhammad Lutfi Hasrah
Wacana penggunaan dana zakat untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sebuah perbincangan yang menantang hati dan pikiran saya.
Ada banyak hal yang dapat kita renungkan, mulai dari dasar etika hingga bagaimana kita memahami zakat sebagai instrumen spiritual dalam Islam.
Dana Zakat: Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan
Dalam Islam, zakat adalah salah satu dari lima rukun iman, yang menggariskan tanggung jawab setiap individu muslim terhadap saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Secara spesifik, Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 60 menjelaskan delapan golongan yang berhak menerima zakat: fakir, miskin, amil zakat, muallaf, riqab (budak yang ingin merdeka), gharim (orang yang berhutang), fi sabilillah (di jalan Allah), dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal).
Ketika muncul wacana penggunaan dana zakat untuk mendanai program MBG, pertanyaan yang timbul adalah apakah program ini sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an?
Di satu sisi, menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak yang kurang mampu dapat dianggap sebagai bagian dari membantu fakir dan miskin. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa zakat adalah amanah yang sangat spesifik. Penyimpangan penggunaan dana zakat, meskipun dengan niat baik, dapat berujung pada pelanggaran etika.
Etika Publik dan Pengelolaan Dana
Secara filosofis, Immanuel Kant pernah berbicara tentang pentingnya moralitas dalam tindakan manusia. Tindakan kita harus dilandasi oleh prinsip universal yang dapat diterima oleh semua orang.
Dalam konteks ini, penggunaan dana zakat untuk MBG harus melalui proses yang transparan dan mendapat persetujuan dari umat Islam, khususnya mereka yang menjadi muzakki (pemberi zakat). Jika tidak, maka penggunaan dana ini bisa dianggap sebagai pelanggaran etika publik.
Pihak Istana yang menyebut usulan ini “memalukan” mungkin ingin menekankan bahwa dana zakat tidak seharusnya menjadi solusi untuk menambal program-program pemerintah.
Sebagai negara yang mayoritas Muslim, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mengelola zakat secara profesional, tetapi pemerintah juga tidak boleh menggantungkan pendanaan program sosial pada dana yang sifatnya spesifik seperti zakat.
Pendekatan Spiritual: CSR sebagai Alternatif
Ketika PDIP menyarankan agar pendanaan program MBG lebih baik berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR), usulan ini sebenarnya dapat dijadikan solusi yang lebih inklusif.
Dalam pandangan spiritualitas Islam, tanggung jawab sosial tidak hanya milik individu, tetapi juga institusi. Perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia memiliki kewajiban moral untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Ini selaras dengan konsep al-ihsan dalam Islam, yaitu berbuat baik secara maksimal kepada sesama.
Sebagai contoh, Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan telah memulai uji coba program makanan bergizi gratis di 17 sekolah. Pendekatan seperti ini dapat diperluas dengan melibatkan perusahaan-perusahaan melalui program CSR. Dengan demikian, dana zakat dapat tetap difokuskan untuk membantu mereka yang benar-benar termasuk dalam golongan mustahik, sementara program sosial lainnya didukung oleh sumber pendanaan alternatif.
Refleksi: Antara Logika dan Iman
Wacana ini seharusnya menjadi momen refleksi bagi kita semua. Bagaimana kita dapat membangun sebuah bangsa yang tidak hanya adil secara ekonomi, tetapi juga etis secara spiritual? Saya percaya, sebagai anak muda, kita memiliki tanggung jawab untuk mengawal diskursus ini dengan kritis tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas bukan hanya sekedar jargon, tetapi sebuah prinsip yang harus kita pegang dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, saya sepakat bahwa zakat harus dikelola dengan penuh amanah dan sesuai dengan syariat, sementara program-program sosial pemerintah harus mencari solusi yang tidak mengganggu amanah tersebut.
Di akhir tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan pertanyaan sederhana. Apakah solusi yang kita tawarkan benar-benar membawa kebaikan, ataukah hanya jalan pintas yang mengabaikan prinsip-prinsip etika dan spiritualitas? Mari bersama-sama mencari jalan yang terbaik, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan generasi kita.




