Pataka Eja – Aliansi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menyatakan penolakan terhadap keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus. Sikap tersebut disampaikan melalui unggahan akun sosial media instagram @bemhukumunhas, Kamis (11/6/2026).
Dalam poster pernyataan sikap yang dipublikasikan, mahasiswa bahkan memplesetkan akronim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran” sebagai bentuk kritik terhadap terhadap kehadiran dapur MBG di lingkungan perguruan tinggi.
“Kami mahasiswa Universitas Hasanuddin menolak hadirnya komersialisasi pendidikan dan segera cabut SPPG yang berada di dalam kampus Unhas yang sarat akan kepentingan politik dan bisnis dari para birokrat penjilat pantat rezim militeristik Prabowo-Gibran,” tulis pernyataan tersebut.
Aliansi Mahasiswa Unhas menilai kampus seharusnya menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan, kebebasan berpikir, dan keberpihakan pada kepentingan akademik. Mereka menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam proyek-proyek yang dianggap berada di luar fungsi akademik berpotensi menggeser orientasi kampus.
Selain menolak keberadaan SPPG, mahasiswa juga menyoroti sejumlah persoalan internal kampus yang dinilai belum terselesaikan. Mulai dari ketimpangan fasilitas pendidikan, tata kelola kampus yang dianggap minim partisipasi, hingga transparansi yang dinilai masih selektif.
Menurut mereka, berbagai persoalan tersebut justru belum mendapat perhatian yang memadai dibanding agenda-agenda baru yang dianggap tidak lahir dari kebutuhan sivitas akademika.
Mereka juga mempertanyakan alasan kampus lebih cepat mengakomodasi program baru, sementara berbagai persoalan mendasar yang menyangkut kepentingan sivitas akademika belum mendapat perhatian yang sama.
“Universitas bukan laboratorium kebijakan yang dapat dijalankan tanpa kritik. Kami menolak kampus yang terus kehilangan orientasinya, dan kami menolak setiap kebijakan yang semakin menjauhkan perguruan tinggi dari mandat akademiknya,” tegas aliansi mahasiswa.
Mahasiswa juga menegaskan bahwa universitas tidak boleh kehilangan orientasi akademiknya. Mereka menilai setiap kebijakan yang dijalankan di lingkungan perguruan tinggi harus tetap dapat dikritisi dan tidak boleh menjauhkan kampus dari mandat utamanya sebagai lembaga pendidikan.
Sementara itu, Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, saat meninjau kesiapan SPPG pada 26 Maret 2026, menegaskan bahwa fasilitas tersebut dikembangkan dengan mengoptimalkan sumber daya internal kampus, termasuk melibatkan para ahli gizi.
“SPPG ini kita dorong agar seluruh prosesnya berbasis pada kekuatan internal Unhas, termasuk pelibatan para ahli gizi. Kita ingin memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan jaminan pemenuhan gizi bagi masyarakat,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman resmi Unhas.*Dito




