Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Aku Ingin Memperkenalkanmu pada Jean Baudrillard yang Mungkin Sedang Menertawai Kita Jauh di Sana

Pataka Eja by Pataka Eja
16 Oktober 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 10 16 At 22 40

Oleh: Ajis Eka Putra

Aku punya pertanyaan yang muncul baru-baru ini di benakku,

Jika dampaknya sudah senyata ini, kenapa responsnya sebagian besar cuma berupa unggahan?

Sebelum kamu menjawab, aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang.

Namanya Jean Baudrillard, filsuf Prancis yang sudah lama pergi, tapi sepertinya masih sempat menertawai kita dari jauh. Bukan karena ia jahat. Tapi karena ia sudah lama menulis tentang dunia yang kita tinggali sekarang, dunia ketika tanda-tanda tentang sesuatu terasa lebih nyata daripada sesuatu itu sendiri.

Ia menyebutnya hiperrealitas dan Simulakra.

Dan aku curiga, ia akan tertawa paling keras melihat linimasa kita hari ini.

Sebab langit di wilayah kita berasap, rupiah melemah harga merangkak naik, energi makin susah didapat.  Ohiya temanku bernama Dempi juga baru saja mengeluh tentang anjloknya IHSG. Semua itu kita rasakan langsung, di tenggorokan, di dompet, di akhir bulan yang terasa makin panjang.

Lalu apa yang kita lakukan? Kita membuka ponsel.

Lucu juga.

Kita marah pada hal yang sangat nyata, tapi menyalurkannya ke tempat yang sangat tidak nyata.

Aku tidak sedang menunjuk sesiapa pun. Ini cuma keresahan dari pengamatan di sekitarku setahun terakhir. Dan kalau ada yang harus ditunjuk, aku duluan, karena aku juga hidup di ekosistem yang sama.

Ohh maaf aku lupa untuk memperkenalkan Baudrillard hehe

Idenya sederhana, kira-kira seperti ini: di dunia yang dipenuhi citra, salinan bisa menggantikan aslinya, sampai kita lupa mana sebenarnya yang asli.

Sekarang bayangkan asap karhutla. Aslinya bikin sesak, bikin sekolah libur, bikin satwa kehilangan rumah. Tapi yang paling sering kita temui adalah gambarnya, template “pray for” dengan font estetik, dan repost dari repost dari repost.

Lama-lama yang kita konsumsi bukan lagi masalahnya, melainkan tanda tentang masalahnya.

Sebenarnya, yang paling lucu juga dari semua ini adalah perasaan setelahnya.

Begitu kita membagikan sesuatu yang kita pedulikan, muncul rasa lega kecil: “Oke, aku sudah bersuara. Aku bagian dari orang-orang yang peduli.”

Rasa itu nyata. Tapi bisa jadi ia hanya simulasi dari keterlibatan. Kita merasa sudah memperjuangkan sesuatu, padahal di dunia nyata Kita tidak melakukan apa-apa. Akan terasa lucu jika kita merasa sudah berjuang, padahal yang kita lakukan hanya menekan tombol yang sama dengan yang kita tekan untuk video kucing atau joget-joget kata kamu barusan wkwkw.

Tapi aku tidak sedang bilang kita malas. Aksi nyata itu mahal. Ia butuh waktu, tenaga, kadang risiko, sementara hidup sehari-hari saja sudah menguras. Sedangkan aksi di layar cuma butuh satu jempol dan tiga detik. Wajar kalau kemarahan mengalir ke jalur yang paling murah. Justru itu yang membuat simulasi ini begitu menggoda.

Namun, bukan berarti layar itu musuh

Jangan salah paham, bersuara itu sah. Banyak gerakan lahir dan terkoordinasi lewat sosial media, dan tidak sedikit masalah yang akhirnya ditangani karena ramai dibicarakan.

Yang buatka betul-betul resah sebenarnya adalah ketika bersuara berhenti menjadi langkah pertama dan berubah menjadi langkah terakhir. Ketika unggahan bukan lagi pintu masuk menuju tindakan, tapi pengganti dari tindakan itu sendiri.

Sebab yang paling menakutkan bukan sekadar masalahnya, tapi bagaimana lama-lama kita merasa sudah cukup. lalu menormalisasi aktivitas ini dan melanjutkan scrolling.

Lalu, kamu pasti  bertanya “kita sebaiknya ngapain weh?”

Jadi, sebelum kamu menekan tombol share di story berikutnya, aku punya satu permintaan kecil. Tekan saja, tidak apa-apa. Aku juga sepertinya akan menekannya.

Tapi setelah itu, taruh ponselnya, dan tanyakan pada diri sendiri: setelah ini, apa yang kulakukan di dunia yang sebenarnya?

Ohiya kamu sudah makan belum? Sebaiknya kita ke kedai bunda innang yuk, nyari umpan lambung lalu lanjut obrolan kita…

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 02 21 At 01 07
Opini

Demokrasi Dalam Bayangan KUHP Baru: Antara Dekolenisasi atau Rekolonisasi

23 Februari 2026
Whatsapp Image 2025 09 24 At 23 07
Opini

Merdeka agraria Merdeka negeriku

25 September 2025

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi