Pataka Eja – Duka mendalam menyelimuti keluarga Ismail dan Andini setelah bayi mereka yang baru berusia dua bulan, Muhammad Attar, meninggal dunia di Ruang Gawat Darurat (UGD) RSUD Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa, pada Sabtu dini hari.
Pihak keluarga menduga keterlambatan penanganan dan buruknya pelayanan medis menjadi faktor yang memperburuk kondisi korban hingga akhirnya meninggal dunia.
Menurut keterangan keluarga, Muhammad Attar mengalami demam tinggi selama tiga hari berturut-turut. Pada hari pertama dan kedua, orang tua korban telah membawa bayinya ke Puskesmas Barombong untuk mendapatkan perawatan.
Bahkan pada hari kedua, petugas sempat mengambil sampel darah korban. Namun, keluarga mengaku tidak pernah menerima hasil pemeriksaan laboratorium tersebut.
Karena kondisi bayi tak kunjung membaik, keluarga kembali mendatangi puskesmas pada hari ketiga. Saat itu, petugas menyarankan agar korban segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Menjelang waktu Magrib pada Jumat malam, Muhammad Attar dibawa ke RSUD Syekh Yusuf dan langsung mendapatkan penanganan di ruang UGD. Namun, pihak keluarga mengaku menemukan sejumlah kejanggalan selama proses perawatan berlangsung.
Salah satunya terkait pemasangan infus yang diduga tidak terpasang dengan baik sehingga cairan infus merembes keluar dan disertai keluarnya darah dari tangan korban. Selain itu, keluarga mengaku telah berulang kali menyampaikan kepada petugas medis bahwa bayi mengalami sesak napas, namun kondisi tersebut disebut tidak mendapat respons yang dianggap memadai.
Sekitar pukul 20.00 WITA, petugas kembali mengambil sampel darah korban. Setelah tindakan tersebut, kondisi bayi disebut memburuk secara drastis. Korban mengalami sesak napas berat, tubuh menguning, dan bola mata mengarah ke atas. Melihat kondisi kritis tersebut, petugas kemudian memasangkan alat bantu oksigen.
Pada pukul 23.00 WITA, dokter yang menangani menyampaikan bahwa kondisi korban memerlukan penanganan di rumah sakit lain yang lebih lengkap. Keluarga menyetujui rujukan tersebut.
Namun, menurut keluarga, proses rujukan berjalan lambat karena mereka diminta menunggu hingga dini hari dengan alasan penyelesaian administrasi.
Hingga sekitar pukul 03.00 WITA, rujukan belum juga terlaksana. Pihak rumah sakit disebut menjelaskan bahwa beberapa rumah sakit tujuan rujukan di Makassar masih penuh dan pihaknya masih menunggu konfirmasi dari rumah sakit yang bersedia menerima pasien.
Di tengah kondisi kritis korban, keluarga juga menilai pengawasan tenaga medis di ruang UGD sangat minim.
Mereka mengaku petugas jarang melakukan pemeriksaan berkala dan baru mendatangi pasien setelah dipanggil oleh keluarga.
Sekitar pukul 04.00 WITA, Muhammad Attar akhirnya dinyatakan meninggal dunia di ruang UGD RSUD Syekh Yusuf sebelum sempat dirujuk ke rumah sakit lain.
Kekecewaan keluarga semakin bertambah setelah korban dinyatakan meninggal. Mereka mengaku harus melepaskan sendiri sejumlah alat medis yang masih terpasang pada tubuh bayi karena petugas dinilai tidak segera melakukan penanganan pasca-kematian.
Selain itu, keluarga juga mempertanyakan pelayanan ambulans rumah sakit.
Saat menanyakan fasilitas untuk membawa pulang jenazah, mereka mengaku mendapat respons yang dinilai kurang berempati.
Keluarga juga menyebut layanan ambulans tetap dikenakan biaya meski digunakan untuk mengantar jenazah bayi yang baru saja meninggal dunia.
Pihak keluarga berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan di RSUD Syekh Yusuf serta penjelasan resmi dari pihak rumah sakit terkait rangkaian penanganan yang diberikan kepada Muhammad Attar sebelum meninggal dunia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Syekh Yusuf belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan dan keluhan yang disampaikan keluarga korban.




