GOWA, dnid.co.id – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar menggelar kuliah umum bertajuk “Psikoedukasi dan Kesehatan Mental: Strategi Adaptif di Era Disrupsi” di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini diikuti mahasiswa UIN Alauddin Makassar serta peserta dari berbagai perguruan tinggi lainnya.
Kuliah umum tersebut menghadirkan tiga narasumber yang membahas kesehatan mental dari perspektif keagamaan, pendidikan, dan konseling, yakni Dr. H. Shaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I., Fitriana, S.Pd., M.Pd., serta Dr. Meisil B. Wulur, M.Sos.I., C.Ht.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, S.Ag., M.Pd., M.Si., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema kesehatan mental sangat relevan dengan kondisi saat ini yang ditandai perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat.
“Tema ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kita hidup di tengah perubahan yang begitu cepat akibat perkembangan teknologi serta berbagai tantangan sosial yang memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk kesehatan mental generasi muda,” ujarnya.
Ketua Jurusan BPI, Dr. St. Rahmatia, S.Ag., M.Sos.I., mengapresiasi inisiatif HMJ BPI yang mengangkat isu kesehatan mental mahasiswa. Menurutnya, tekanan akademik maupun sosial yang dihadapi mahasiswa perlu direspons dengan pemahaman dan kesadaran yang baik terhadap kesehatan mental.
Sementara itu, Ketua HMJ BPI, Muh. Resky Ramadhan, mengatakan tema kegiatan lahir dari hasil diskusi yang dilakukan pengurus HMJ. Ia berharap budaya diskusi terus dipertahankan karena dapat melahirkan gagasan dan program yang bermanfaat.
Dalam sesi pemaparan materi, Shaifullah Rusmin menjelaskan pentingnya nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dalam menjaga kesehatan mental di era digital. Menurutnya, ibadah, dzikir, refleksi diri, dan penguatan hubungan dengan Tuhan dapat menjadi sumber kekuatan psikologis dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Selanjutnya, Fitriana menekankan pentingnya membangun resiliensi atau daya lenting agar generasi muda mampu beradaptasi, mengelola emosi, dan bangkit dari berbagai tantangan akademik maupun sosial.
Adapun Dr. Meisil Wulur menjelaskan bahwa psikoedukasi merupakan langkah preventif untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental. Melalui psikoedukasi, mahasiswa diharapkan mampu mengenali gejala awal gangguan psikologis, membangun strategi coping yang sehat, serta meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesejahteraan mental.
Ketiga narasumber juga menyoroti meningkatnya kerentanan kesehatan mental di kalangan mahasiswa yang dipengaruhi stres akademik, kecemasan, tekanan sosial, serta penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan.
Melalui kegiatan ini, HMJ BPI berharap dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya kesehatan mental, memperkuat kemampuan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman, serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis.




