Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Etika Bunuh Diri dari Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Pataka Eja by Pataka Eja
16 Desember 2025
in Resensi
0
Untitled Design

Oleh: Nova Nur Halimah 

Judul Buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis : Brian Khrisna
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana
Tahun Terbit : Januari 2025
ISBN : 978-602-05-3132-8
Tebal : 208 halaman
Cetakan : Cetakan ke-59, September 2025

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menceritakan tentang Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang menjalani hidup layaknya hanya menghabiskan waktu tanpa tau arah. Di awal, pembaca akan diajak untuk menyelami isi pikiran Ale yang berkecamuk hingga berujung pada keputusasaan. Depresi akut, kesepian, diperlakukan buruk merupakan makanan sehari-harinya.

Novel karya Brian Khrisna ini mengambil tema kesehatan mental dan menawarkan ruang untuk melihat kisah manusia yang tak terdengar, kisah tentang kesepian, luka, serta pergulatan batin seorang penyintas depresi akut. Judulnya yang menarik yakni “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” mengibaratkan nikmatilah dulu hidupmu sebelum mati. Lantas jika dikaitkan dengan etika, apakah menikmati hidup termasuk etika sebelum mati? Apakah bunuh diri termasuk suatu tindakan yang dinamakan beretika?

Dalam perjalanan hidup tokoh utama, terbesit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri, tapi sebelum itu ia ingin menuntaskan keinginan terakhirnya yakni menyantap seporsi mie ayam. Sehingga pertanyaan apakah bunuh diri termasuk tindakan beretika? Maka jawaban sederhana di sini adalah tidak, secara logika dan etika tentu karena norma sosial dan agama melarang hal tersebut.

Namun, Jika dilihat dari sudut pandang Ale dalam buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, ia merupakan sesosok dengan tekanan dari berbagai sisi, merasa terpojokkan hingga terpikir untuk mengakhiri hidup. Di sini, etika mengevaluasi tindakan berdasarkan pada kebebasan memilih, dampak yang ditimbulkan, dan penghargaan terhadap kehidupan. Individu yang mempertimbangkan bunuh diri sering kali tidak berada dalam keadaan mental yang sehat, mereka terjebak dalam rasa sakit yang mendalam, bukan dalam pemikiran yang logis. Pilihan bunuh diri bukanlah hasil dari kebebasan sepenuhnya, melainkan merupakan respons terhadap tekanan yang luar biasa.

Melalui keinginan Ale menyantap seporsi mie ayam sebelum mati menunjukkan bahwa menyantap mie ayam adalah kesempatan terakhir Ale untuk merasakan hidup. Ale bukan berusaha membenarkan keputusan untuk mengakhiri hidup, ia justru mengakui bahwa dirinya masih seorang manusia, masih ingin merasakan nikmatnya hidup, dan masih memiliki naluri untuk bertahan meski hampir menyerah.

Novel ini memberikan pengalaman membaca dari sudut pandang seseorang dengan hasrat bunuh diri sehingga memandang bahwa menikmati hidup sebagai suatu tindakan beretika sebelum bunuh diri. Pelajaran hidup di dalam buku ini juga menghadirkan sudut pandang berbeda bagaimana seharusnya kita memaknai hidup. Terkadang hal-hal yang menurut kita sepele dan biasa justru bisa bermakna luar biasa bagi orang lain.

Namun ternyata untuk menyantap seporsi mie ayam sebelum mati pun lagi-lagi Ale harus mengerang frustasi karena tak terwujud. Melalui perjalanannya bertemu beragam manusia di luar sana, Ale belajar tentang etika sebelum mati. Keinginannya menyantap mie ayam sebelum mati membawa Ale pada pada hal-hal tak terduga yang memberinya banyak pelajaran. Mulai dari bertemu seorang bandar narkoba yang keras namun memiliki sisi lembut. Menjalani hidup bersama sang bandar narkoba memang bukanlah ide bagus. Namun dari situ, Ale merasakan hal yang berbeda.

“Justru di tempat paling tidak manusiawi ini, untuk pertama kalinya aku merasa dimanusiakan. Terkadang kamu justru bisa menemukan harta karun di tempat yang tidak pernah kamu sangka-sangka sebelumnya.”

Pelajaran etika pertama, ia dapatkan dari seorang bandar narkoba. Tempat yang begitu asing, bahkan tempat yang kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang nyatanya tersimpan harta karun tersembunyi di sana. Ale merasa dianggap ada seperti manusia pada umumnya, bahkan oleh orang-orang yang mendapatkan stigma ‘orang jahat’ di masyarakat. Perjalanan berikutnya mempertemukan Ale dengan seorang pelacur yang mengubah sudut pandangannya untuk tidak mudah melabeli orang. Lagi-lagi di tempat yang mendapatkan stigma buruk dari masyarakat justru Ale mendapatkan pelajaran berharga.

“Di dunia ini, yang mabuk itu tidak selalu berarti dia orang jahat, dan yang berdoa itu belum tentu orang baik.”

Pelajaran etika kedua, ia dapatkan dari seorang pelacur yang memiliki cerita di balik pilihannya terikat dengan pekerjaan yang dijalani saat ini. Tidak berhenti sampai di situ, ia bahkan dipertemukan dan berbicara panjang lebar dengan Mami Louisse yang juga menyisakan pelajaran berharga terkait mencintai dan makna hidup yang sesungguhnya.

“Mungkin sekarang lo dipaksa untuk bisa sadar kalau sebenarnya lo juga bisa kok untuk tetap hidup, ketemu orang baru, dan menerima keadaan yang selalu aja berjalan diluar rencana. Dan nanti di akhir cerita, lo akan paham kalau sebenarnya lo juga bisa mengandalkan diri lo sendiri.”

Pelajaran etika ketiga, ia dapatkan dari Mami Louisse pemilik klub sekaligus ketua antek-antek barbie di sebuah klub. Ucapan panjang Mami Louisse berhasil membuat Ale termenung dan meresapi setiap kata demi katanya.  Lebih dalam lagi, Ale belajar arti bersyukur dan menerima segala ketetapan-Nya sebagai sebuah berkah yang asing dari seorang OB yang bekerja di kantornya.

“Soalnya buat orang-orang rendah kayak saya, hidup tuh jarang ngasih kesempatan kedua, Mas. Kadang semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita udah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita cuma bisa menerima. Jadi, selama saya masih dikasih kesempatan hidup, saya sebisa mungkin akan tetap hidup.”

Pelajaran etika keempat, ia dapatkan dari Ipul, seorang OB di kantornya yang membuka mata Ale tentang hal-hal kecil yang selama ini luput. Serta mengingatkannya, bahwa hal-hal yang menurut kita sepele bisa memiliki arti besar di mata orang lain. Kali ini, Ale melanjutkan perjalanannya dan bertemu seorang penjual layangan.

“Hidup saya kemarin juga seperti itu. Saya pernah di tahap hidup segan tapi mati pun enggan. Setelah saya berada di titik ini, saya benar-benar bersyukur kalau dulu pernah hidup sengsara seperti itu. Tanpa itu semua, saya gak lebih dari manusia yang mudah jatuh seperti layangan yang dilepaskan kenurnya. Justru semakin saya melawan angin dan arus kehidupan, semakin tinggi pula hidup saya.”

Pelajaran etika kelima, ia dapatkan dari seorang penjual layangan yang juga pernah hampir menyerah dalam hidupnya. Petuah penjual layangan tersebut bukan yang terakhir, Ale masih merasakan janggal hingga langkah kakinya menuntun menuju seorang penjual kerupuk yang tuna netra. Pelajaran etika keenam, ia dapatkan dari seorang penjual kerupuk dengan keterbatasan namun tetap memilih berjalan melanjutkan hidupnya.

“Meminta orang depresi untuk melihat hikmah itu sama seperti menyuruh orang buta untuk melihat matahari. Justru kita depresi karena gak bisa melihat hikmah itu. Meski niat mereka baik, tapi rasanya itu tidak membantu sama sekali.”

Jadi apa sebenarnya etika sebelum mati? Pada akhirnya, Ale menyadari bahwa hidup ini masih layak dijalani. Jika kalian bertanya etika sebelum mati, maka setiap kata yang keluar dari tokoh-tokoh dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah jawabannya. Tapi ketika kalian bertanya etika bunuh diri maka jawabannya tidak ada. Bunuh diri dalam novel ini tidak pernah digambarkan sebagai tindakan beretika. Setiap petuah yang diterima Ale menandakan bahwa pilihan bunuh diri muncul dari luka yang belum sembuh. Etika selalu mengharuskan adanya kebebasan total dalam membuat pilihan, sedangkan Ale tidak sepenuhnya merasakan kebebasan, ia tertekan oleh trauma, stigma, dan perasaan tidak pantas. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk mengakhiri hidup bukanlah pilihan, melainkan bentuk pelarian.

Dari sinilah buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati hadir sebagai teman yang akan menemani setiap perjalanan dalam penyembuhan luka batin orang-orang yang tengah berjuang di luar sana. Penggambaran kesedihan dan keputusasaan Ale disajikan dengan jelas melalui gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat merasakan frustrasinya sekaligus diajak merenung. Ilustrasi di dalam buku juga semakin menambah jelas kesan menyesakkan tokoh Ale. Meski begitu, buku ini juga tak luput dari beberapa kekurangan seperti alur yang terasa kurang realistis karena hampir setiap tokoh hadir dengan petuah sehingga membatasi imajinasi pembaca. Selain itu, tidak realistisnya lagi terletak pada petuah kehidupan dari seorang tokoh yang berlatar belakang bandar narkoba atau seorang pelacur yang tidak sejalan dengan latar belakangnya.

Meskipun tidak ada batasan usia yang ketat, pengambilan topik kesehatan mental dan adanya adegan-adegan dewasa yang disajikan secara frontal dalam buku ini lebih relevan bagi pembaca yang sudah cukup matang secara emosional untuk memahami isu-isu tersebut. Secara umum, buku ini tidak cocok untuk anak dibawah umur sehingga lebih ditujukan bagi pembaca berusia 17 tahun ke atas.

Ending dari buku ini juga terkesan menggantung dan tidak menjawab semua konflik di dalamnya, karena hanya menampilkan keputusan Ale untuk tidak bunuh diri tanpa menjelaskan arah hidup selanjutnya, apakah kembali bekerja atau pulang ke kampung? Namun dilihat dari sisi lain, ending dari buku ini sesederhana ungkapan Brian Khrisna, “jangan mati dulu, mie ayam masih enak.”

Kesimpulannya, buku ini mengajarkan bahwa menikmati hidup adalah suatu pilihan. Diri ini adalah titipan Tuhan yang selayaknya dijaga, dirawat, serta dipertahankan dengan baik, membunuh diri berarti menyakiti diri sendiri. Jika seseorang yang membunuh orang lain saja dianggap tidak beretika dan terdapat hukuman yang setimpal bahkan stigma masyarakat menunjukkan dia sebagai ‘pelaku’ atau ‘orang jahat’. Hal tersebut sejalan dengan ‘bunuh diri berarti jahat dengan diri sendiri’ karena tak mampu menunaikan amanah Tuhan dengan baik yakni menjaga diri yang sudah dititipkan.

*Penulis merupakan seorang mahasiswi semester 3 di Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta yang kini berdomisili di Klaten.
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Jadi Jagal 1000 Nyawa Inilah Sosok Anwar Congo Yang Namanya Sangat Ditakuti Di Indonesia
Resensi

Jagal dan Senyap: Menguak Parade Pembantaian Manusia pasca 65

10 Juli 2024
65
As
Resensi

Resensi Buku: Filosofi Teras

14 November 2024
232
209187186
Resensi

Menelisik Bisikan Tumbuhan dalam Jejak Fantasi

5 Maret 2026
57
Whatsapp Image 2026 01 21 At 23 42 31
Resensi

Bukan Soal Moral: Membaca ketidakadilan sosial dalam novel Re&Perempuan

22 Januari 2026
57

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi