Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Equilibrium Budaya dan Modernisasi

Pataka Eja by Pataka Eja
22 September 2025
in Opini
0
Img 20250922

Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama 

Harus kita akui bahwa belakangan ini beberapa Negara telah mengalami krisis identitas akibat radiasi teknologi yang melaju begitu pesat. Sehingga beberapa orang, kelompok, maupun bangsa setidaknya diperhadapkan oleh dua pilihan, antara mengikuti perkembangan (Modernisasi) atau meninggalkan kebiasaan (Budaya).

Pilihan tersebut masing-masing memiliki jawaban dan hasil yang berbeda, mengikuti perkembangan dapat menggeser beberapa kebudayaan yang dianggap tertinggal. Sedangkan, mempertahankan kebudayaan dapat memicu perilaku maupun tindakan yang dinilai selalu berlebihan

Hasilnya, kebanyakan orang atau kelompok lebih memilih untuk mengikuti arus teknologi dan meninggalkan identitas bangsanya, dengan menerapkan standarisasi nilai yang baik ketika ramai dibincangkan serta mengakui tindakan yang benar apabila selaras pada iklim teknologi yang mengacu pada Negara Maju

Jika demikian, maka kehilangan identitas bangsa (budaya) adalah suatu keniscayaan. seperti penggunaan gadget yang lebih suka pesona dan keindahan gambar yang dianggap memuaskan dari pada harus membuka ruang obrolan pada lingkungan sekitar, sehingga membentuk sikap Apatis (individualisme) yang bertentang oleh karakteristik bangsa Indonesia terhadap Kepedulian sosial dan Gotong Royong (Utilitarianisme) seperti dalam Ungkapan Pepatah Jawa ” Dudu Sanak, Dudu Kadang, Yen Mati Melu Kelangan”.

Bukan hanya indonesia, hal serupa juga pernah melanda Negara Turki beberapa dasawarsa lalu, dengan dalih mengejar modernisasi pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk pernah mengeluarkan kebijakan yang dinilai telah memutuskan kesinambungan dan kelestarian budaya melalui Penggantian Pakaian Nasional Turki dengan Eropa, serta Penerapan Bahasa Latin yang sebelumnya Menggunakan Huruf Arab.

Hal ini mengakibatkan Generasi baru Turki tidak lagi dapat membaca, mengenali, serta merasakan warisan budaya dan sastra mereka sendiri.

Kendati demikian, bukan berarti pertemuan atau keseimbangan antara kemajuan teknologi dan upaya mempertahankan budaya itu tidak ada. Duduk dalam satu pilihan memiliki konsekuensi yang besar, bahwa benar menghindari teknologi menciptakan ketertinggalan tetapi mengikuti teknologi bukan berarti harus menghilangkan kebudayaan atau identitas suatu bangsa, hal ini dimaknai oleh Nurcholis Madjid hanya sebagai Problem bagaimana Menerjemahkan Modernitas.

Bahwa modernisasi adalah suatu hal yang universal dan sebagai kelanjutan logis dari warisan budaya umat manusia. Menjadi modern bukan berarti mengikuti keseluruhan atau menjadikan suatu negara yang maju sebagai pangkal segala tujuan kemiripan, sebab tidak sedikit negara yang maju tanpa harus memutuskan masa lampaunya.

Seperti Jepang yang terus mengalami kemajuan tanpa harus menggantikan Huruf Kanji dengan Huruf Latin, Semoga kita semua mampu menikmati perkembangan teknologi tanpa harus kehilangan pondasi atau identitas sebagai bangsa yang beradab, bermartabat dan berwibawa, terkhusus dalam penggunaan media sosial yang baik dan benar secara identitas dan nilai kebudayaan tanpa harus mengikuti secara menyeluruh gairah atau iklim pada negara yang Maju.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 01 09 At 09 24
Opini

Meneropong Dinamika politik: Jalan panjang menuju demokrasi berkeadilan

9 Januari 2025
71
Img 20251028 Wa0013
Opini

Ketika Semangat 1928 Bertemu Gelombang Demonstrasi 2025

28 Oktober 2025
114
Whatsapp Image 2025 09 04 At 08 17
Opini

17+8 Tuntutan: Alarm Reformasi Demokrasi dari jalanan

4 September 2025
87
Img
Opini

Pendidikan Sebagai Sektor Strategis Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045

20 Juli 2024
66

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi