Oleh : Naura
Masa yang indah,
saat pertama kali mataku menemukanmu.
Orang-orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama,
dan mungkin, itulah yang kurasakan kala itu.
Aku mencuri-curi kesempatan
hanya untuk melihat wajahmu,
merekam tiap detik seolah waktu bisa berhenti pada momen ketika kau tersenyum.
Namun akhirnya aku hanya bisa mengagumimu dalam diam.
Kau tak pernah tahu
betapa dalam rasa yang kupendam untukmu.
Hari-hari berlalu begitu lama,
hingga di bulan Juli —
aku memberanikan diri
mengirimkan pesan pertama untukmu.
Sejak saat itu,
kita semakin akrab,
dan aku sempat berharap
takdir mungkin berpihak kali ini.
Tapi nyatanya,
nasi sudah menjadi bubur —
aku tak akan pernah bisa memilikimu.
Meski begitu, ada banyak hal yang kupelajari darimu:
tentang mengikhlaskan,
tentang mencintai tanpa harus memiliki.
Kau bagai angin lalu,
datang membawa hangat,
meninggalkan sejuk yang berubah jadi rindu.
Untukmu, manusia favoritku,
aku tulus mencintaimu.
Aku pernah begitu ingin bersamamu,
namun takdir berkata lain.
Kini aku belajar mencintaimu
tanpa ingin memiliki,
dan mengikhlaskanmu
meski hatiku masih menetap di namamu.
Aku ikhlas,
jika harus melihatmu
bersama orang lain.




