Realitas pendidikan kita sama halnya dengan istilah kuno yang sering kita dengarkan, seperti “kedondong luarnya licin dalam berduri”. Ilmu dan selembar ijazah yang tampak mengagumkan memiliki biaya tertentu yang harus dibayar yang berarti Menyita keringat dan usaha para orang tua dan saudara.
Mengenai biaya ini, teringat ketika berbincang tentang Yunani kuno, Seorang kawan pernah tidak sepakat dengan para kaum Sofis karena praktek pendidikan mereka yang meminta bayaran. Di sisi lain ia tampak kagum dengan akademia (Sekolah yang di dirikan Plato di tengah hutan.) Intonasi nya agak sedikit tegas ketika menolak praktik kaum Sofis. Tapi sekilas berubah ketika membandingkannya dengan akademia. Ia mulai perlahan dan terlihat hati-hati dalam menerangkan.
Raut wajahnya berubah seketika. ia tampak puas dengan penjelasannya.
Tapi Guru, sekarang telah menjadi profesi. Ungkapan semua orang adalah guru berhenti dalam realitas ini. Siapa saja bisa memberi kita pengetahuan baru.
Tapi tidak semua dari mereka adalah guru dalam konteks ini. Lantas kita harus membayar orang yang berprofesi sebagai guru. Agar waktu mereka yang mereka habiskan dalam kelas untuk mengajar dapat menghasilkan beras dan ikan untuk makan sekeluarga.
Kebanyakan di antara kita berdiri di atas kepala Benjamin Franklin. Dan sepakat bahwa waktu adalah uang. Padahal Pendapat Benjamin Franklin hanya bisa di yakini dalam wilayah yang tak terkena krisis moneter. Sama halnya dengan keyakinan kita terhadap uang.
Apabila terjadi inflasi, dan krisis moneter mengerogoti kerongkongan siklus ekonomi, keyakinan kita terhadap uang akan runtuh seketika. Uang akan menjadi selembar kertas tak berarti, kehilangan nilai. Sebab nilainya terletak pada keyakinan kita. Itulah kenapa Yuval Noah Harari menyebutnya sebagai produk psikologis. Yang berarti ia hanya memiliki nilai kalau ada yang meyakininya memiliki nilai..
kita mungkin tidak mampu membeli sebuah botol bekas yang ada di genggaman orang gila saat dalam keadaan lapar walaupun dengan harga 500rb. Sebaliknya, kita mungkin dapat menukarkannya dengan sepotong roti walaupun rotinya akan habis hanya dalam 5 kali kunyah.
Andai saja Kalau 8 jam dalam sebulan seluruhnya kita gunakan untuk menanam, dan memanen hasilnya sudah tentu lebih banyak daripada mengajar dalam ruangan. Tapi profesi menuntut komitmen. Itulah alasan bagi sebagian mereka untuk tetap bertahan menjadi guru. Kawan saya yang lain menganggap membayar waktu guru adalah kapitalisasi pendidikan.
Tapi bagi saya tidak. Karena kapitalisasi pendidikan memiliki definisi dan penjelasan yang lebih universal. Sementara yang kita bayar adalah waktu sang guru. Tanpa itu, mereka Tak akan bisa makan bersama keluarga yang berarti juga keharmonisan keluarga mereka tinggal menunggu ajal.
Setelah istilah kapitalisme seterusnya berkembang, dan mendapat perhatian lebih dari orang orang di sekitar kita, saat itulah kita hampir setiap saat pesimis akan segala transaksi dalam kehidupan kita. Relasi kuasa dan pengetahuan selalu di ingat dengan baik. Misalnya yang Di ceritakan dalam diskusi singkat kedua tokoh Marxis terkenal, Alan badiou dan slavoz zizek. Tentang seorang perajurit yang membunuh seorang ilmuan di tepi pantai saat sedang mengamati langit dan menulis rumus-rumus di pasir karena tidak menggubris panggilan raja.
Tapi Di era kita, yang berkuasa adalah modal dan komoditas. Begitu singkatnya Yasraf membahasakan ungkapan Michel foucault.
Bisa jadi seorang menghisap seorang yang lain dalam dunia pendidikan; kalau pandangan dan pola hidupnya di dominasi siklus perputaran modal yang sudah tentunya mempengaruhi hasrat untuk memiliki dan menguasai. Tapi bukan berarti semua keinginan dan kebutuhan kita sama, di antara mereka ada yang hanya ingin mempertahankan keharmonisan keluarga kecil mereka dengan penghasilan yang tak terlalu banyak itu.
Hal ini jugalah, yang seringkali membuat perasaan nelangsa berserakan Dimana-mana. Sebuah ungkapan dari Jean baurdillard, dalam ceramah disertasinya sekitaran akhir tahun 90a-n, yang di terbitkan di Indonesia pada sekitaran thn 2006 dengan judul Ekstasi Komunikasi. Mendorong saya berkali kali untuk mengingatnya.
Bahwa kehidupan kita sekarang yang sudah serba bersih, membuat satu satunya hal yang kita dapat adalah kesedihan. Ya, berbagai keinginan melayang-layang di udara tanpa ada yang bersarang di benak. Di mana kita lebih terdorong untuk mengkonsumsi suatu barang tanpa bisa memproduksinya. Dorongan itulah yang sekiranya sangat di tolak oleh baurdillard.
Setidaknya, Baurdillard tidak sampai pada pesismisme kita tentang pendidikan, dari anggapan bahwa pendidikan hanya mempersiapkan kita menjadi buruh-buruh pabrik dalam keputusasaan kita atas biaya kuliah yang setiap tahun naik, menghancurkan saraf dan isi kepala kita..
Suatu waktu, cerita Bonnie Setiawan tentang pendidikan di Kuba, saya nikmati tanpa ragu-ragu. Cerita itu dari karyanya berjudul “Jaringan Rantai Kapitalisme Global”
Ia menceritakan di negara Kuba, tempat gerilya Che Guevara itu, sekolah kedokterannya gratis. Tapi ada syarat yang harus di penuhi yaitu setelah bekerja, mereka hanya mengambil setengah dari gaji mereka dan sisanya di berikan ke negara untuk dikelola sebagaimana mestinya. Untuk kelangsungan sistem pendidikan gratis itu, syarat serupa mau tidak mau memang harus di terima apalagi kalau kesejahteraan mereka terjamin..
Biaya kesehatan sudah tentunya tak terlalu mahal. Di samping karena pendidikan dokter gratis, tentunya telah mencetak banyak dokter yang membuat orang mendapat akses kesahatan dengan harga yang tidak terlalu mahal..
Sayangnya, Bonnie Setiawan tak menceritakan nasib guru-guru di sekolah itu. Tapi pasti mereka di gaji oleh negara dan juga di jamin kesejahteraan mereka.
Saya membayangkan sebuah bentuk paling indah dari pendidikan saat itu. Saya bahkan menceritakannya pada beberapa orang teman. Dan berangan-angan seandainya kita tinggal di daerah itu, atau sistem pendidikan kita seperti itu, pastilah mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan.
Sampai ada sebuah berita waktu masa pagebluk covid 19. Sebuah kapal pesiar yang saya sendiri tak tau namanya, memuat ribuan orang yang di perkirakan telah te papar covid 19 ditolak di semua negara. Tapi Kuba justru membuka tangan dan menerima kapal itu. Mempersilahkan mereka untuk berlabu di sana. Dari berita ini pula, saya menjadi semakin yakin dengan cerita Bonnie Setiawan.
Entahlah bagaimana nasib kita ke depan.




