Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Puisi

Sunyi dalam Ruang Ketakutan

Pataka Eja by Pataka Eja
23 Juni 2026
in Puisi
0
foto caca yang menulis opini sunyi dalam ruang ketakutan

Potret Caca

Puisi Oleh : Caca


Setiap kali kucoba menenangkan diri,
aku selalu dikalahkan oleh rasa takut—
seolah ia lebih dahulu mengenal rapuhku
daripada aku mengenal diriku sendiri.

Selalu ada kata andai
yang berjalan pelan di samping langkahku,
berbisik lirih,
namun tak pernah benar-benar pergi.

Di hadapanku terbentang jalan yang sunyi dan kosong.
Aku hanya mampu menatapnya dengan ragu,
menimbang kemungkinan-kemungkinan
yang tak pernah menjanjikan kepastian.

Dalam diam, pertanyaan datang tanpa jeda:
akankah kutemukan terang di ujung jalan?
Akankah senyum yang tulus menungguku
setelah semua ini berlalu?

Kepalaku penuh oleh tanya
yang berputar seperti angin tak kasatmata,
menahanku tetap di tempat yang sama—
diam bersama waktu
yang terus berjalan tanpa menoleh.

Sesekali angin menggoyahkan tubuhku,
seakan mengingatkan
bahwa aku masih berdiri,
meski langkah terasa begitu berat.

Rasa takut itu menetap dalam diriku;
bukan sekadar singgah,
melainkan tumbuh dan berakar,
menjadikan setiap langkah
sebagai perjuangan yang tak terlihat.

Orang-orang mengenalku sebagai sosok yang kuat,
yang selalu berani dan tak pernah ragu.
Tak seorang pun menyangka
ada kegelisahan yang diam-diam hidup di dalam dada.

Mereka tak tahu,
di balik segala yang tampak teguh,
akulah yang paling sering kalah
oleh pikiranku sendiri.

Aku kalah pada keadaan,
kalah pada risiko yang menghantui,
kalah pada penyesalan
yang tak kunjung usai.

Dan pada akhirnya,
aku hanya mampu diam,
membeku di tempat yang sama,
menjadi saksi bagi diriku sendiri—
yang tak pernah benar-benar melangkah.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251026 Wa0012
Puisi

Sejahat hujan sebodoh awan

26 Oktober 2025
90
1000034217
Puisi

Cahaya di Pundak

23 Oktober 2025
88
Whatsapp Image 2025 12 06 At 08 19
Puisi

Si Abu Malang

6 Desember 2025
62
Img 20190718 Wa0015
Puisi

Jangan Jadi Mahasiswa

16 Agustus 2025
75

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi