Oleh: Mauliya Riyani
Ada yang menarik setiap kali perdebatan soal “standar cewek TikTok” muncul di FYP atau kolom komentar. Orang-orang begitu yakin bahwa perempuan zaman sekarang terlalu banyak minta, seolah keinginan untuk dihargai adalah sesuatu yang baru ditemukan bersamaan dengan fitur For You Page.
Padahal standar itu sudah lama ada. Jauh sebelum ada yang merekamnya dalam video 60 detik, jauh sebelum ada yang menuliskannya dalam caption panjang di media sosial, dan jauh sebelum kolom komentar menjadi arena perdebatan yang tidak ada ujungnya.
Bukan Terlahir dari FYP Tetapi Dibentuk Pengalaman
Sebelum TikTok ada, ayah-ayah kita, orang tua, atau siapapun yang pernah hadir dan memperjuangkan kita sudah lebih dulu memikirkan hal itu. Bukan sebagai syarat untuk orang lain, tapi sebagai gambaran dari apa yang mereka anggap pantas diterima oleh orang yang mereka cintai.
Seseorang yang membesarkan anak perempuannya dari nol, yang tidak tidur malam demi masa depan yang lebih baik, yang diam-diam menyisihkan banyak hal agar anaknya bisa hidup lebih layak darinya, tentu tidak membayangkan kerja kerasnya berakhir pada anak yang diperlakukan sembarangan oleh orang yang seharusnya menjaganya.
Coba lihat percakapan sederhana di banyak keluarga. Tidak sedikit orang tua yang berkata kepada anak perempuannya, “Kalau nanti memilih pasangan, pilih yang baik dan bertanggung jawab.” Mereka mungkin tidak menyebut istilah green flag, emotional intelligence, atau healthy relationship seperti yang ramai sekarang.
Tapi pesan yang disampaikan sebenarnya sama, yaitu jangan memilih seseorang yang akan menyakitimu atau meremehkanmu. Kalimat itu diucapkan jauh sebelum TikTok lahir, di meja makan, di perjalanan pulang, atau bahkan dalam diam yang penuh makna ketika melihat anaknya mulai tumbuh dewasa.
Jadi bukan TikTok yang menciptakan standar itu. TikTok hanya memberinya nama yang lebih keras dan tempat untuk diperdebatkan oleh orang-orang yang mungkin belum pernah mendengar percakapan seperti itu di rumah mereka sendiri.
Orang tua atau keluarga zaman dulu pun sering berpesan hal serupa meski dengan bahasa yang berbeda, yaitu carilah yang setara. Bukan setara soal angka rekening atau tinggi badan, tapi setara dalam nilai, dalam cara memandang hidup, dan dalam kesediaan untuk saling menjaga ketika keadaan tidak selalu mudah.
Karena ketika seseorang sudah diperjuangkan dari nol agar hidupnya layak, orang yang mencintainya tentu tidak ingin semua itu perlahan runtuh hanya karena ia memilih pasangan yang tidak menghargainya.
Dan banyak perempuan belajar soal ini bukan dari layar ponsel, tapi dari apa yang mereka saksikan bertahun-tahun di sekitarnya. Ada yang melihat ibunya memikul beban rumah tangga sendirian karena pasangannya tidak bertanggung jawab, dan dari sana ia belajar bahwa ia tidak mau hidup seperti itu.
Ada yang tumbuh dalam keluarga yang saling menghargai, dan dari sana ia tahu seperti apa rasanya diperlakukan dengan baik, sehingga ketika sesuatu terasa tidak benar, ia bisa mengenalinya lebih cepat. Ada pula yang tidak punya figur keluarga yang ideal, tapi justru dari situlah ia belajar lebih keras tentang apa yang ingin dan tidak ingin ia ulangi dalam hidupnya sendiri.
Pengalaman-pengalaman itulah yang paling dalam membentuk standar seseorang, jauh lebih kuat dan lebih menetap dibanding konten apapun yang lewat di FYP lalu terlupakan keesokan harinya.
Ketika Standar Malah Menjadi Kebablasan
Tapi kalau mau benar-benar jujur, ada juga sisi dari perdebatan ini yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebagian konten yang beredar memang sudah melampaui soal karakter dan perlakuan.
Daftarnya perlahan bergeser menjadi checklist fisik dan materi yang terasa lebih seperti katalog daripada gambaran hubungan yang sehat. Tinggi badan yang harus sekian, wajah yang harus begini, gaya hidup yang harus segitu, dan deretan syarat lain yang terus bertambah seolah tidak ada batasnya.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika seseorang tidak memenuhi satu saja dari daftar itu, ia langsung didiskualifikasi tanpa sempat dikenal lebih jauh. Tanpa diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Ini bukan soal standar yang tinggi. Ini soal standar yang mulai kehilangan arahnya sendiri, yang bergeser dari keinginan untuk diperlakukan baik menjadi keinginan untuk memiliki versi sempurna dari seseorang yang bahkan mungkin tidak ada. Karena pada akhirnya, hubungan yang baik tidak dibangun dari checklist yang sempurna.
Ia dibangun dari dua orang yang mau jujur, mau tumbuh, dan mau hadir bahkan di hari-hari yang tidak ada yang menarik untuk diposting, bahkan di momen-momen yang tidak akan pernah jadi konten apapun.
Hal yang Wajar Itu Bukanlah Sebuah Tren
Ingin dihargai bukan tren. Ingin tidak diabaikan bukan tren. Ingin bersama seseorang yang bisa diajak bicara tanpa takut diremehkan bukan sesuatu yang lahir dari scroll dua menit di FYP. Itu adalah kebutuhan dasar manusia yang sudah ada jauh sebelum internet ditemukan, jauh sebelum siapapun berpikir untuk membuat video tentangnya.
Masalah sebenarnya bukan pada perempuan yang punya standar. Masalahnya adalah ketika label “standar TikTok” dipakai terlalu luas, sampai-sampai perempuan yang sekadar ingin dihormati pun ikut masuk ke dalam kategori yang sama dengan mereka yang memang sudah kebablasan.
Dua hal yang sangat berbeda, tapi dipukul rata dengan satu label yang sama. Dan ketika itu terjadi, yang dirugikan bukan hanya perempuan yang standarnya wajar, tapi juga laki-laki yang akhirnya memandang semua standar sebagai serangan personal, padahal bukan itu intinya.
Perempuan yang tahu apa yang ia layak dapatkan bukan sedang ikut tren. Ia sedang mengingat apa yang pernah diajarkan orang-orang yang mencintainya, bahwa ia berharga, jauh sebelum ada platform yang mengajarinya cara mengatakannya lebih lantang.
Maka sebelum buru-buru melabeli, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya, apakah ini memang berlebihan, atau ini hal yang wajar yang sudah terlalu lama dianggap remeh? Karena tidak semua yang terdengar tinggi itu tidak realistis. Kadang kita hanya belum terbiasa dengan perempuan yang tahu dirinya layak, dan tidak lagi diam soal itu.
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.




