Oleh: Renaldy Pratama
Seperti biasa. Instagram selalu setia jadi ruang berselancar ria di media sosial, sekadar senam jari jempol. Tiap kali buka Instagram, tiap saat pula muncul postingan dari akun Instagram Washilah, sebuah lembaga pers mahasiswa dari kampus yang baru saja merayakan dies natalis ke-59.
Yahh, Washilah. Ibarat burung kicau yang terus saja berkicau di kampus rindang beramamater hijau itu. Berisik! Suaranya ada dimana-mana seakan tak menyisakan ruang sedikit pun di setiap sudut UIN Alauddin Makassar. Ia menjelma bak bunga di halaman, walau ia adalah bunga yang tak dikehendaki tumbuh di rumah kekuasaan para penguasa kampus peradaban.
Entah apa-apa saja yang di wartakan para pewarta Washilah. Sekali lagi, berisik! Saking berisiknya, bulan Agustus lalu, melalui Pimpinan redaksinya, pihak pengadil kampus sudah mewanti-wanti Washilah agar berhenti berkicau. Lagi pula apa gunanya? Dan lagi, kalian berisik!
Memang bebal anjing penggonggong satu ini! Terkutuk! Saya kutuk kalian terus menurus menjadi “pengawal pikiran umum” seperti apa yang diajarkan oleh Karel Wijbrands pada junior langsungnya, Tirto Adhi Soerjo si tokoh mula-mula.
Ahh, sepertinya sudah terlalu panjang membahas Washilah. Memangnya mereka siapa? Cuman burung kicau. Cuman anjing penggonggong. Woi, kalian berisik!
Ok, Kembali pada apa yang terpampang nyata pada postingan instragram Washilah. Sebuah kabar bertajuk “Dema UIN Alauddin Makassar Ajukan Laporan Skorsing Mahasiswa ke Istana Wapres”. Melalui kawan juang kita bersama, Muh Reski selaku Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, representasi puluhan ribu mahasiswa yang kampusnya berada Kelurahan Samata, Kabupaten Gowa.
Dengan secarik kertas berbungkus map, pak sekjend mengadu pada Wapres Gibran bahwa demokrasi terancam di UIN Alauddin Makassar karena SE No. 2591. Ia mengadu pada Wapres yang mencalonkan dan terpilih secara demokratis bahwa 31 mahasiswa UIN Alauddin Makassar di skorsing karena menggunakan hak asasi nya sebagai manusia.
Di Istana Wakil Presiden, terlihat melalui foto unggahan Washilah, sang pejuang demokrasi yang sedang menempuh Pendidikan di Jurusan Ilmu Hadis ini diterima dengain baik oleh seorang Wanita berompi Ungu. Wanita itu adalah salah seorang staf Wakil Presiden. Atau mungkin juga salah satu panitia dari program “Lapor Mas Wapres”, sebuah gebrakan jitu lagi akomodatif dari pak wapres. Atau bahkan mungkin saja ia ketua panitianya?
Entah. Barang sekalipun, saya belum pernah ke Jakarta. Apalagi menginjakkan kaki di Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat itu. Lagi pula, saya mana pantas menginjakkan kaki di bangunan warisan penjajah, bekas rumah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Bau kolonial kalau kata Bapak Joko Widodo.
MANYALA lagi RESPECT Sekjend ku!
Terima kasih telah membawa suara UIN Alauddin Makassar ke kancah nasional. Saya pribadi yakin dengan tangan dingin Bapak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, suara mahasiswa UIN Alauddin Makassar akan diperjuangkan dan solusi terbaik akan tercipta. Yakinlah!
Tak seperti perjuangan kawan juang UIN Alauddin Makassar beberapa bulan belakangan ini. Tak berbuah hasil. Tak ada Solusi. Hanya meninggalkan trauma. Mengadu ke Ombudsman, RDP di DPR, hasilnya nihil. Bersurat ke Kemenag RI dan Komnas HAM juga tak ada hasil. Apalagi berdemonstarasi di dalam kampus, tak ada guna.
Maka dengan ini saya mau sampaikan bahwa sebagaimana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melapor ke Wapres Gibran adalah “harga mati”. Jangan lagi ditawar-tawar karena memang tak ternilai harganya. Namanya juga harga mati.
Jika merujuk pasal 4 ayat 2 UUD 1945, memang tugas wakil presiden hanya membantu kewajiban presiden. Dalam hal ini, Pak Gibran membantu Pak Prabowo. Meski begitu, bukankah UUD 1945 dibuat untuk melindungi segenap bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum pada Alinea keempat pada mukadimah?
Toh, mahasiswa UINAM juga bagian dari segenap bangsa yang dimaksud. Mahasiswa UINAM adalah rakyat Indonesia. Jadi yakinkan dalam hati bahwa pak wapres kita akan meramu obat mujarab bagi penyakit yang kian hari kian menggerogoti tubuh kampus yang menjadikan Islam sebagai pusat kajiannya.
Ohh iya, konon katanya UINAM berada di bawah naungan langsung Kementerian Agama. Sekedar informasi untuk pak sekjend yang mungkin saat tulisan ini dibuat sedang berada di sekitar Monas,- memandangi sebuah tugu perwujudan perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Bahwa Menteri Agama RI Prof K.H. Nasaruddin Umar berkunjung dan menghadiri perayaan Dies Natalis ke-59 UINAM di Gedung Auditorium, Senin (11/11/2024) lalu.
Meski menurut konstitusi wapres dan menteri statusnya sama-sama pembantu presiden, dari lubuk hati yang paling dalam, saya jauh-jauh lebih percaya bahwa pak wapreslah sang juru selamat yang dirindukan mahasiswa UINAM. Jadi, sudah sangat tepat gebrakan pak sekjend ketimbang menyambut Menteri Agama di kampus akan jauh lebih efektif Lapor Mas Wapres di Jakarta.
Metode juang kooperasi lapor melapor memang jauh lebih baik daripada metode juang nonkooperasi ala-ala mahasiswa selama ini. Apa? Demonstrasi? Apa itu? Apa gunanya? Lebih baik berdiskusi langsung atau berkirim surat. Lebih efektif, sopan, dan mencerminkan diri sebagai mahasiswa berkampus Islam serta berasas Pancasila.
Lihatlah selama ini, buka mata batin kita bersama, bahwa demonstrasi tidak ada manfaatnya. Kapan terakhir kali mahasiswa UINAM berdemonstasi di kampusnya? Sudah cukup lama. Terkahir kali itu terjadi Senin (2/9/2024). Dua bulan lebih kampus UINAM tenang dan damai tanpa ada riak-riak mahasiswa menggunakan megaphone. Berisik! Tak sopan masuknya ke telingan kekuasaan.
Saat itu, demonstasi tak menghasilkan apa-apa. Malah berdampak buruk bagi Kesehatan mental dan fisik mahasiswa. Bayangkan saja, melihat kawan dipukuli bukankah itu dapat menghadirkan trauma? Apalagi hingga didorong dan dipukuli oleh Satpam kampus yang selalu bentindak tegas, terukur dan terarah dalam menangani massa aksi mahasiswa. Tentu sakit bukan?
Kalau kalian tidak percaya, coba tanyakan kepada Pak Sekjend. Kalau saya tidak salah ingat, Pak Sekjend juga menjadi salah satu mahasiswa yang direpresif oleh satpam saat bersuara lantang awal September lalu itu. Koreksi kalau saya salah ingat. Saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan rokok.
Jadi? Demonstrasi di kampus tidak efektif dan hanya berdampak buruk bagi mahasiswa itu sendiri!
Olehnya, lagi dan lagi saya sepakat apa yang disampaikan oleh Bapak WR III yang membidangi soal-soal yang menyangkut hajat hidup mahasiswa dan alumni di kampus. Saat menyambangi mahasiswa nya yang lagi mengadu nasib di barisan massa aksi, masih di waktu yang sama, Senin (2/9/2024).
Beliau berpesan puluhan mahasiswa UINAM yang baru saja bersitegang dengan satpam untuk mencoba metode juang dalam memperjuangkan demokrasi. Jangan hanya melulu berdemonstrasi. Sebab, jika hanya terus menerus demonstrasi maka yakin dan percaya akan tidak ada hasil apa-apa selain berpanas-panasan di bawah Terik matahari Samata. Kira-kira seperti itulah pesan Bapak Prof. Muhammad Khalifa.
Saya sepakat. Demokrasi akan lebih demokratis tanpa demonstrasi. Demonstrasi hanya akan menganggu ketertiban. Apalagi suasana kampus itu harus hening. Tidak boleh gaduh. Apalagi gaduh karena demonstrasi mahasiswa.
Kata Pandji Pragiwaksono dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta, “hening itu tidak selamanya damai. Hening itu kadang mencekam”.
Demikian statement ngawur dari seorang stand up comedian. Ahh, namanya juga pelawak. Pendukung legalisasi ganja pula. Sudah pasti dua kali ngawur, jadinya ngawur-ngawur.
Kata WR III coba cari cara lain? Cara apa yang lebih efektif dan tidak kepanasan matahari? Selang dua bulan saya baru menemukan jawabannya. Jawabannya terilhami dari pak sekjend. Mula-mula ke Jakarta lalu ke Istana Wakil Presiden kemudian mengadu pada pak wapres.
Jangan sampai luput dari genggaman, poin demi poin aduan dititipkan pada selembar kertas bertajuk Surat Laporan kepada Pak Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Sungguh cara efektif lagi efisien serta tak terpapar sinar ultraviolet. Sudah sesuai anjuran WR III, bukan?
Ehh, boleh tidak mengadu kehabisan rokok ke Pak Wapres Gibran? Sialan, rokok saya habis. Ok, cukup sekian tulisan perwujudan kekaguman ini. Saya mau ke warung depan minjam rokok ketengan dulu. Pak Gibran kalau melihat tulisan ini tolong dibayarkan, pak. Dua batang rokok paku tujuh, harganya empat ribu rupiah saja.




