Oleh: Risal
Benteng Somba Opu, nama itu harusnya menjelma menjadi gema heroik di bibir sungai Jeneberang. Ia adalah mahkota Kerajaan Gowa, sebuah benteng dengan dinding setebal 12 kaki yang dibangun dari campuran batu padas dan semangat perlawanan. Di sanalah, di jantung pertahanan maritim yang tak tertandingi di masanya, Sultan Hasanuddin mengukir sumpah abadi menolak tunduk pada tirani. Benteng ini adalah gerbang emas rempah-rempah yang mempertemukan Nusantara dengan dunia.
Namun, sejarah terkadang adalah catatan pengkhianatan yang paling pahit. Benteng Somba Opu mengalami kematian pertamanya di tangan VOC pada tahun 1669, dikubur oleh amunisi yang beribu kilo. Itu adalah kematian yang terhormat, diiringi genderang perang. Ironisnya, kini, setelah bangkit dari kubur lumpurnya melalui pemugaran, benteng ini sedang menuju kematian kedua yang jauh lebih menyakitkan: kematian karena ditinggalkan.
Elegi di Atas Reruntuhan
Mengunjungi Somba Opu hari ini adalah memasuki sebuah elegi yang pilu. Bukan lagi raungan meriam yang kita dengar, melainkan ratapan batu-batu tua yang diselimuti lumut keacuhan. Fondasi benteng yang tersisa, yang seharusnya berdiri tegar sebagai tiang ingatan, kini hanya berbisik di tengah semak belukar dan gulma liar.
Di mana pun mata memandang, kita menemukan kontras yang menyayat. Di satu sisi, ada sisa-sisa arsitektur perkasa yang menampung meriam kolosal, menanti untuk bercerita tentang kedaulatan. Di sisi lain, ada gunungan sampah dan kawasan kumuh yang merangsek ke zona inti, seolah menodai kesucian situs bersejarah ini. Benteng yang dahulu menolak untuk dijajah, kini pasrah dijajah oleh keteledoran dan abai.
Tragedi rumah-rumah adat yang berdiri di kompleks ini adalah puncak dari kepiluan. Bangunan-bangunan kayu yang seharusnya menjadi miniatur cemerlang dari kekayaan budaya Sulawesi dari Bugis, Makassar, Toraja, hingga Mandar kini menjadi deretan nisan yang nyaris ambruk.
Atap-atapnya berlubang, kayunya lapuk, dan interiornya kosong, seolah kebudayaan itu sendiri telah menghembuskan napas terakhirnya di sana. Rumah adat itu seolah menangis, tersangkut dalam jerat birokrasi aset yang tak berkesudahan, di mana tak ada yang berani mengambil tanggung jawab penuh untuk merawatnya.
Kealpaan yang Lebih Kejam dari Meriam
Kehancuran kedua Benteng Somba Opu bukanlah musibah alam, melainkan pembunuhan karakter sejarah secara perlahan. Kealpaan ini jauh lebih kejam daripada meriam Speelman, karena ia datang dari hati anak cucu yang seharusnya menjadi pewaris dan penjaga sumpah.
Apa makna dari janji-janji revitalisasi yang pernah digemakan jika pada akhirnya situs sepenting ini dibiarkan tercekik oleh sampah dan sengketa administrasi? Apa gunanya kita bangga meneriakkan nama Sultan Hasanuddin, jika kita membiarkan singgasana perjuangannya runtuh tanpa suara?
Benteng Somba Opu bukan sekadar objek wisata yang gagal; ia adalah kompas moral bangsa. Ketika kita membiarkan reruntuhan ini terbengkalai, kita bukan hanya kehilangan batu. Kita kehilangan rasa memiliki terhadap kegigihan masa lalu. Kita kehilangan pelajaran berharga tentang kedaulatan yang diperoleh dengan darah dan air mata. Kita mengkhianati jutaan jiwa yang gugur demi mempertahankan benteng ini.
Panggilan Bangkit dari Tidur Panjang
Sudah saatnya kita menghentikan elegi ini dan memulai babak restorasi yang sesungguhnya. Benteng Somba Opu harus diangkat dari lumpur kealpaan.
Langkah pertama adalah memutuskan belenggu birokrasi yang mencekik. Harus ada kekuatan politik dan pendanaan yang tunggal, tegas, dan berani untuk mengambil alih seluruh kawasan, membersihkannya, dan menetapkannya sebagai Zona Warisan Budaya yang tak tersentuh.
Langkah kedua adalah menghidupkan kembali narasi. Gunakan setiap sisa tembok, setiap patahan bata, dan setiap meriam berkarat untuk bercerita. Benteng ini harus menjadi laboratorium hidup bagi setiap anak di Sulawesi Selatan dan seluruh Indonesia, tempat mereka dapat merasakan, bukan hanya membaca, betapa besarnya bangsa ini pernah berdiri
Benteng Somba Opu adalah cermin. Kondisinya yang merana bukan hanya menunjukkan kegagalan dalam merawat cagar budaya, tetapi juga mencerminkan seberapa jauh kita telah melupakan akar dan jati diri kita sendiri. Kita tidak boleh membiarkan Benteng Gowa ini mencatat nasib terakhirnya sebagai naskah kegagalan kolektif. Warisan adalah sumpah yang harus ditepati.
Sekaranglah saatnya kita mendirikan kembali benteng ini, bukan hanya dengan batu, tetapi dengan kehormatan dan kesadaran yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya!
*Penulis merupakan Ketua Umum HIPMA Gowa Koord. Bontoma




