Oleh: Muhammad Ubaidillah Hanan
Judul Buku : Wacana Islam Progresif
Penulis : Sudarto
Penerbit : IRCiSoD
Tebal : 240 Halaman
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-296-064-5
“Sejarah pembebasan menyatakan bahwa agama apapun lahir dalam rangka keprihatinan terhadap kondisi sosial yang mengitari”
Kutipan tersebut berasal dari Ashgar Ali Engineer, seorang cendekiawan dan aktivis Muslim progresif asal India. Secara tersirat, kutipan di atas memberi isyarat pentingnya penelaahan kritis akan relasi agama dengan kondisi sosial-kemanusiaan. Agama tidak semata-mata hadir sebagai urusan ritual, melainkan juga berkait kelindan dengan gugatan serta kritik sosial terhadap kehidupan dan kemapanan (status quo) yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Para Nabi dahulu berdakwah dengan keberanian menentang kemapanan (status quo) yang dianggap menyimpang dari ajaran agama. Katakanlah Nabi Ibrahim menentang Raja Namrud dan tradisi penyembahan berhala, Nabi Musa menentang otoritarianisme dan kekuasaan tirani Fir’aun, Nabi Isa menentang kesyirikan dalam praktik keagamaan, dan Nabi Muhammad Saw yang banyak menentang praktik jahiliyah dan kaum borjuis.
Buku ini berisikan renungan-renungan Sudarto yang diartikulasikan melalui tulisan berupa artikel. Kemudian dibukukan dengan judul “Wacana Islam Progresif”. Tulisan ini menguraikan pemahaman agama yang berorientasi pada pembebasan manusia dari ketertindasan. Mulai dari kemiskinan struktural yang tak kunjung usai, kekerasan terhadap kelompok rentan, hingga ketidakadilan hukum yang kerap tumpul ke atas namun tajam ke bawah.
Dalam karyanya tersebut, Sudarto membagi kumpulan esainya menjadi lima tema atau bagian. Setiap bagian berisikan esai-esainya yang berkaitan dengan wacana-wacana progresivisme Islam, yang menekankan pada perubahan, kemajuan, dan penyesuaian ajaran serta praktik Islam dengan permasalahan kontemporer.
Agama sebagai Upaya Mengatasi Persoalan Kemanusiaan Kontemporer
Dalam tulisannya, Sudarto kerap melontarkan sebuah pertanyaan yang menggugah sisi sosial-kemanusiaan agama. “Apakah agama bisa menjadi alternatif penyembuhan manusia dari cengkraman kemiskinan, penindasan, pengangguran, dan ketidakadilan? Masihkan agama hadir dalam ranah kemanusiaan untuk membebaskan kemiskinan dan marginalitas?
Pertanyaan tersebut terbesit bukan karena tanpa sebab. Pasalnya, agama kini sangat jauh dari solusi atau jawaban atas permasalahan kemanusiaan dan krisis multidimensional yang terjadi. Bahkan agama tak jarang malah turut andil dalam terjadinya permasalahan tersebut. Sebagai contoh yang biasa sering terjadi adalah politisasi agama pada musim pemilu. Dalam hal ini simbol, ajaran, atau sentimen keagamaan dimanipulasi untuk kepentingan kelompok tertentu, yang berujung pada perpecahan dan ketidakstabilan negara.
Melalui esainya, Sudarto menawarkan gagasan-gagasan yang membebaskan manusia dari ketertindasan para penguasa yang sewenang-wenang. Salah satu tawaran dari Sudarto berupa perlunya persatuan para kaum tertindas, yang disebut juga dengan kaum Mustadh’afin― meminjam ungkapan dari Ali Syari’ati. Gagasan tersebut diilhami oleh pemikiran Karl Marx yang memandang revolusi sosial sebagai jalan untuk mengakhiri sistem penindasan tersebut dan menciptakan masyarakat yang lebih adil.
Membumikan Pesan Teks dalam Realitas Kehidupan Sosial
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan elit agama saat ini lebih tertarik mengurusi hal-hal yang bersifat tekstual-normatif dalam agamanya masing-masing. Katakanlah dalam Islam sendiri para ulama, kyai, dan ustadz lebih banyak berbicara permasalahan seputar seperti perdebatan fiqih, formalitas ibadah, dan persoalan identitas, ketimbang hadir sebagai kekuatan moral yang membela keadilan sosial.
Akibatnya, nilai-nilai profetik Islam—seperti keberpihakan pada kaum lemah, penolakan terhadap penindasan, dan pembelaan terhadap martabat manusia—sering kali terpinggirkan dalam praktek kehidupan beragama.
Menurut Sudarto—dalam esai yang berjudul Membumikan Paham Keagamaan—Tuhan dan agama sebetulnya tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri. Melainkan juga memberikan informasi tentang kemanusiaan yang terdapat dalam kitab suci masing-masing agama. Dengan tanda kutip firman Tuhan diwahyukan juga bagi kepentingan dan kemaslahatan manusia sejagad.
Sudarto menawarkan solusi berupa pemaknaan teks yang membumi dan sesuai dengan realitas kehidupan sosial. Teks ditafsirkan berdasarkan kacamata kemanusiaan. sehingga ajaran agama tidak hanya menjadi ritual formal, tetapi juga menjadi pedoman etis dan moral dalam menanggapi persoalan sosial kontemporer.
*Penulis merupakan alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




