Gowa, Pataka Eja — Mereka yang mengangkat trofi adalah para pemain yang baru saja menghabiskan tenaga di lapangan, tetapi dalam dua momen berbeda, kamera justru menangkap sosok yang tidak ikut bermain ketika piala itu terangkat ke udara: Donald Trump dalam perayaan juara Chelsea dan Prabowo Subianto dalam perayaan gelar Timnas Indonesia.
Di satu sisi ada pemain yang berlari selama pertandingan, menerima benturan, menanggung tekanan, mencetak gol dan mempertaruhkan mental ketika kemenangan ditentukan melalui adu penalti.
Di sisi lain, ada kepala negara yang hadir ketika seluruh perjuangan tersebut berujung pada satu momen yang paling banyak diabadikan kamera: saat trofi diangkat dan para juara merayakan kemenangan.
Kontras itulah yang membuat dua peristiwa tersebut menarik untuk diperbandingkan. Trump muncul dalam perayaan Chelsea yang menjuarai FIFA Club World Cup 2025, sementara Prabowo berada dalam perayaan Timnas Indonesia setelah memastikan gelar FIFA ASEAN Cup 2026.
Kompetisinya berbeda, negara dan waktunya berbeda, tetapi gambar yang muncul memiliki kemiripan yang sulit dilewatkan: presiden berada di antara para pemain ketika trofi juara diangkat.
Pada final FIFA Club World Cup 2025 yang berlangsung di MetLife Stadium, Chelsea tampil sebagai juara setelah menghantam Paris Saint-Germain dengan skor 3-0.
Setelah pertandingan berakhir, Trump yang hadir menyaksikan laga tersebut turut dalam seremoni penyerahan trofi dan menyerahkan piala kepada kapten Chelsea, Reece James, sebagai bagian dari penghormatan kepada tim yang baru saja memastikan gelar juara.
Namun, perhatian kemudian tertuju pada apa yang terjadi setelah trofi berpindah tangan. Trump tidak langsung meninggalkan lokasi dan tetap berada bersama para pemain Chelsea ketika Reece James mengangkat trofi ke udara, sehingga sosok Presiden Amerika Serikat itu ikut masuk ke dalam bingkai perayaan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan para pemain setelah menuntaskan pertandingan.
Keberadaan Trump dalam momen tersebut bahkan membuat pemain Chelsea Cole Palmer mengaku bingung karena tidak menyangka sang presiden akan tetap berada di sana ketika skuad merayakan gelar.
Pemandangan yang memiliki kemiripan kemudian muncul dalam perayaan keberhasilan Timnas Indonesia. Prabowo Subianto hadir ketika skuad Garuda memastikan gelar FIFA ASEAN Cup 2026, dan dalam seremoni tersebut Prabowo bersama Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi kepada Kevin Diks selaku kapten Timnas Indonesia sebelum kemudian turut berada dalam suasana perayaan ketika para pemain mengangkat piala.
Kamera kembali menangkap kepala negara di antara para pemain yang baru saja melewati pertandingan dan menjadi bagian dari gambar ketika trofi diangkat ke udara.
Sekilas, tidak ada yang aneh dengan kehadiran tersebut karena seorang presiden memang dapat memberikan penghormatan dan apresiasi kepada atlet yang berhasil membawa nama negara, terlebih kemenangan tim nasional juga kerap ditempatkan sebagai kebanggaan bersama.
Namun, persoalannya bukan semata-mata mengenai boleh atau tidaknya seorang presiden hadir dalam perayaan kemenangan.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah siapa yang seharusnya mendapatkan sorotan terbesar ketika sebuah tim akhirnya menjadi juara, sebab trofi yang berada di tangan para pemain bukanlah hasil dari sebuah seremoni kenegaraan, melainkan buah dari pertandingan yang mereka jalani dengan tenaga, tekanan, risiko dan tanggung jawab di atas lapangan.
Para pemainlah yang berlari mengejar bola, berhadapan dengan lawan, menerima benturan, menanggung tekanan pertandingan, mencetak gol dan mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir berbunyi.
Bahkan ketika kemenangan harus ditentukan melalui adu penalti, merekalah yang harus berdiri di titik putih dengan seluruh perhatian stadion tertuju pada satu tendangan yang dapat menentukan apakah sebuah tim pulang sebagai juara atau kembali dengan kekalahan.
Karena itu, ketika trofi akhirnya terangkat dan wajah presiden ikut masuk ke dalam gambar kemenangan, persoalannya menjadi lebih dari sekadar protokol seremoni.
Ada pertanyaan mengenai seberapa besar ruang yang semestinya diberikan kepada mereka yang benar-benar memenangkan pertandingan setelah bertahun-tahun menjalani latihan, tekanan dan persaingan untuk sampai pada momen tersebut.
Trofi boleh diserahkan oleh presiden, tetapi sorotan kemenangan semestinya tetap tertuju kepada mereka yang memenangkan pertandingan.
Ada perbedaan antara seorang kepala negara memberikan penghormatan kepada para juara dengan ikut menjadi bagian yang menonjol dalam foto ketika para pemain merayakan kemenangan.
Perbedaan itu mungkin terlihat kecil ketika seremoni berlangsung, tetapi menjadi jauh lebih berarti ketika satu foto atau video kemudian beredar luas dan menjadi salah satu gambaran yang paling diingat publik dari sebuah malam bersejarah.
Trump telah mendapat sorotan serupa ketika dirinya tetap berada bersama para pemain Chelsea saat trofi diangkat. Kini, gambar Prabowo bersama para pemain Timnas Indonesia menghadirkan kemiripan visual yang sulit diabaikan, meskipun konteks kedua seremoni tersebut tentu tidak sepenuhnya sama.
Pada akhirnya, dua momen tersebut memperlihatkan dua presiden dan dua trofi dalam perayaan yang berbeda, tetapi meninggalkan pertanyaan yang serupa tentang batas antara memberikan penghormatan kepada para juara dan mengambil terlalu banyak ruang dalam momen yang mereka perjuangkan sendiri.
Ketika para pemain telah memberikan seluruh tenaga untuk memenangkan piala, apakah presiden juga perlu mengambil tempat di dalam bingkai kemenangan yang seharusnya paling banyak bercerita tentang perjuangan mereka?


