Pataka Eja — Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya eSA Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar resmi dikukuhkan untuk periode kepengurusan 2026, Kamis (30/1/2026).
Pengukuhan ini berlangsung di tengah keterbatasan ruang berekspresi yang masih dirasakan mahasiswa, khususnya para pelaku seni di lingkungan kampus.
Kegiatan pengukuhan dihadiri oleh perwakilan lembaga kemahasiswaan se-UIN Alauddin Makassar serta Pekerja Seni Kampus (PSK) se-Kota Makassar. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi penanda kuatnya solidaritas dan jejaring antar organisasi mahasiswa serta komunitas seni dalam memperjuangkan ruang kreativitas yang lebih adil.
Dalam sambutannya, Ketua UKM Seni Budaya eSA, Muhammad Idil Fitrah, menegaskan komitmennya untuk menjadikan eSA sebagai ruang berkarya yang hidup, produktif, dan berkelanjutan bagi mahasiswa. Menurutnya, seni tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga merupakan proses panjang yang membutuhkan ruang, waktu, dan dukungan nyata.
“UKM Seni Budaya eSA harus tetap menjadi ruang berproses bagi anggotanya. Seni tidak lahir secara instan, melainkan membutuhkan kontinuitas, kebebasan berekspresi, serta ruang yang memadai,” ujar Idil.
Namun demikian, Idil juga menyoroti minimnya perhatian birokrasi kampus terhadap pengembangan kreativitas mahasiswa. Ia menilai keterbatasan fasilitas kesenian serta kebijakan pembatasan jam malam berdampak langsung pada proses latihan dan aktivitas berkesenian mahasiswa.
Menurut Idil, pengukuhan pengurus baru ini harus dimaknai sebagai awal konsolidasi gerakan kebudayaan di lingkungan kampus. Ia menegaskan bahwa eSA akan tetap aktif berkarya meskipun ruang ekspresi dan fasilitas yang tersedia masih terbatas.
“Pengurus UKM Seni Budaya eSA tidak hanya berkomitmen untuk berkarya, tetapi juga mengajak seluruh lembaga mahasiswa di UIN Alauddin Makassar untuk berkolaborasi dan bersatu memperjuangkan ruang berekspresi serta fasilitas kesenian yang layak,” tegasnya.
Ia menambahkan, perjuangan menghadirkan ruang dan fasilitas tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu UKM saja, melainkan membutuhkan kekuatan kolektif seluruh lembaga kemahasiswaan. Menurutnya, kampus idealnya tidak hanya menjadi pusat aktivitas akademik, tetapi juga ruang tumbuhnya kebudayaan, kreativitas, dan daya kritis mahasiswa.
“Tanpa ruang dan fasilitas yang memadai, kreativitas mahasiswa hanya akan menjadi wacana. Kami berharap pihak birokrasi kampus membuka ruang dialog yang serius dan berpihak pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa,” tambah Idil.
Melalui momentum pengukuhan ini, UKM Seni Budaya eSA menegaskan posisinya tidak hanya sebagai wadah seni, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan kampus. Dengan kolaborasi lintas lembaga, eSA berharap perjuangan menghadirkan ruang berekspresi dan fasilitas kesenian dapat menjadi agenda bersama demi kemajuan UIN Alauddin Makassar.




