Pataka Eja — Dalam rangka mengedukasi pelajar untuk memahami isu sosial secara kritis dengan tetap berlandaskan nilai moral, agama, dan budaya bangsa, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Limbung menggelar Dialog Pelajar bertema “Peran Pelajar dalam Menyikapi Isu LGBT” yang berlangsung di SMP Muhammadiyah Limbung pada Sabtu, (31/01/26).
Dialog berlangsung dalam suasana terbuka, santun, dan edukatif. Acara dipandu oleh Ahmad Ramadhani B. selaku host yang mengarahkan jalannya diskusi agar tetap seimbang dan berorientasi pada pembinaan karakter pelajar. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Uswatun Hasanah dan Asrianto, yang menyampaikan pandangan dari perspektif pendidikan, sosial, serta pembentukan karakter generasi muda.
Dalam pengantarnya, Ahmad Ramadhani B. menegaskan bahwa dialog ini tidak bertujuan untuk menghakimi pihak mana pun. Menurutnya, forum tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran agar pelajar mampu menyikapi isu-isu sosial secara dewasa, kritis, dan bijaksana di tengah derasnya arus informasi.
“Pelajar perlu dibekali kemampuan berpikir kritis serta fondasi nilai yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Narasumber pertama, Uswatun Hasanah, menekankan pentingnya peran pendidikan dan keluarga dalam membentuk cara pandang pelajar terhadap isu-isu sensitif. Ia menyampaikan bahwa setiap persoalan sosial harus disikapi dengan ilmu, adab, dan empati, bukan dengan sikap reaktif.
Menurutnya, sekolah dan keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai moral dan agama sebagai pedoman utama bagi pelajar. “Pelajar sebaiknya fokus pada pengembangan diri, prestasi, dan pembentukan akhlak mulia. Pergaulan dan informasi yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi pola pikir remaja,” jelasnya.
Sementara itu, Asrianto memandang isu tersebut dari sudut sosial dan pembinaan generasi muda. Ia menekankan pentingnya keteguhan prinsip serta kemampuan menyaring nilai-nilai yang datang dari luar. Menurutnya, menyikapi isu sosial tidak cukup dengan sikap menolak atau menerima secara mentah, tetapi perlu didasari pemahaman terhadap norma, hukum, dan nilai yang berlaku di masyarakat.
Ia juga mengajak pelajar untuk mengedepankan sikap saling menghormati dalam kehidupan sosial tanpa mengabaikan jati diri dan nilai-nilai yang diyakini. “Dialog dan edukasi jauh lebih efektif dalam menjaga keharmonisan sosial dibandingkan pendekatan konfrontatif,” tegasnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengikuti diskusi secara tertib dan penuh perhatian. Beragam pertanyaan dan tanggapan mencerminkan ketertarikan pelajar terhadap isu yang dibahas.
Melalui dialog ini, PC IPM Limbung berharap pelajar mampu menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab, serta memiliki keseimbangan antara sikap kritis, nilai moral, dan toleransi sosial. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi contoh ruang diskusi sehat dan konstruktif dalam menjawab tantangan sosial di tengah perkembangan zaman.




