Pataka Eja – Ada tokoh yang dikenang karena kekuasaan. Ada pula yang terus hidup dalam ingatan karena gagasannya.
Bagi banyak warga Kabupaten Gowa, Ichsan Yasin Limpo (IYL)—yang kerap disapa IYL—termasuk dalam kelompok kedua. Tujuh tahun telah berlalu sejak mantan Bupati Gowa itu berpulang, namun jejak kebijakan yang ia tinggalkan masih terasa hingga hari ini, terutama di dunia pendidikan.
Pada 30 Juli 2019, Ichsan Yasin Limpo menghembuskan napas terakhir di Tokyo, Jepang, setelah berjuang melawan kanker paru-paru. Sebelum menjalani pengobatan di Jepang, ia lebih dahulu menjalani perawatan di Singapura.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat Gowa yang pernah menyaksikan bagaimana ia mengubah wajah pendidikan di daerahnya.
Tujuh tahun kemudian, kerinduan itu kembali disampaikan oleh putranya, Adnan Purichta Ichsan, melalui akun Instagram pribadinya.
“Hanya bisa mengucapkan kata ‘Rindu’ yang tak terasa sudah 7 tahun berpisah dengan Papa. Tenang di sana yah Papa. Semoga seluruh kebaikan Papa menjadi amal jariyah yang terus mengalir, amal ibadah diterima dan seluruh dosa-dosa Papa diampuni oleh Allah SWT. Aamiin YRA,” tulis Adnan.
Ungkapan sederhana itu seolah mengajak publik kembali membuka lembaran sejarah ketika Gowa menjadi daerah yang berani melakukan sesuatu yang kala itu dianggap mustahil.
Ketika Pendidikan Menjadi Prioritas
Tahun 2005 menjadi awal sebuah pertaruhan besar. Saat itu, Kabupaten Gowa bukanlah daerah dengan kemampuan keuangan yang melimpah. APBD hanya berkisar Rp400 miliar, sementara Pendapatan Asli Daerah sekitar Rp34 miliar. Dalam situasi tersebut, banyak kepala daerah mungkin akan memilih membangun jalan, pasar, atau infrastruktur yang hasilnya mudah terlihat.
Namun Ichsan memilih jalan yang berbeda. Ia justru mengarahkan anggaran daerah untuk pendidikan. Buku wajib bagi lebih dari 26 ribu siswa sekolah dasar digratiskan. Porsi anggaran pendidikan dinaikkan hingga 21,6 persen APBD. Sebuah keputusan yang saat itu dipandang terlalu berani.
Keputusan itu tidak langsung menuai pujian. Sebaliknya, banyak pihak meragukan program tersebut dapat bertahan. Bahkan, menurut catatan perjalanan kebijakan itu, pemerintah pusat saat itu pun sempat memandang sinis gagasan pendidikan gratis di Gowa. Di tengah keterbatasan fiskal, program tersebut dianggap sulit diwujudkan secara konsisten. Namun waktu membuktikan sebaliknya.
Investasi yang Tidak Mengejar Tepuk Tangan
Ichsan memahami betul bahwa pendidikan bukan investasi yang menghasilkan popularitas secara instan. Ia pernah menjelaskan bahwa hasil pembangunan pendidikan baru bisa dirasakan puluhan tahun kemudian.
Ia sadar, membangun jalan raya atau pusat perdagangan mungkin lebih menguntungkan secara politik. Namun baginya, membangun manusia jauh lebih penting dibanding membangun citra.
Keyakinan itulah yang kemudian melahirkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pendidikan Gratis, sebuah regulasi yang menjadi fondasi kebijakan pendidikan gratis di Kabupaten Gowa hingga kini.
Program tersebut kemudian berkembang dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Keberhasilannya menarik perhatian banyak pihak. Bahkan kebijakan pendidikan gratis yang lahir di Gowa kemudian diadopsi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk diterapkan di seluruh kabupaten dan kota. Program itu juga pernah diminta menjadi contoh untuk diterapkan di daerah lain.
Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Menghapus Biaya
Bagi Ichsan, pendidikan gratis bukan hanya menghapus pungutan. Ia memastikan kebijakan itu benar-benar berjalan. Guru diminta menandatangani surat pernyataan tidak melakukan pungutan kepada siswa.
Aparat penegak hukum dilibatkan dalam pengawasan anggaran pendidikan. Bahkan masyarakat diberi akses melapor langsung melalui nomor telepon pribadinya apabila menemukan penyimpangan di sekolah.
Ia juga memperkenalkan Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB), sebuah pendekatan yang berupaya memastikan setiap anak memperoleh hak belajar secara maksimal dan tidak semata-mata diukur dari hasil ujian sesaat.
Berkat berbagai inovasi itu, penghargaan datang silih berganti. Mulai dari penghargaan nasional hingga UNESCO Literacy Prize pada 2009 sebagai pengakuan atas komitmennya di bidang pendidikan.
Warisan yang Masih Hidup
Waktu terus berjalan. Kepemimpinan berganti. Dinamika politik berubah.
Namun satu hal yang tetap bertahan adalah jejak pemikiran Ichsan Yasin Limpo. Setiap kali anak-anak Gowa bersekolah tanpa lagi memikirkan biaya pendidikan seperti masa lalu, setiap kali masyarakat berbicara tentang lahirnya pendidikan gratis di daerah ini, nama Ichsan hampir selalu hadir dalam percakapan.
Tujuh tahun setelah kepergiannya, masyarakat mungkin tidak lagi melihat sosoknya berdiri di podium pemerintahan. Tetapi gagasannya masih hidup dalam ruang-ruang kelas, dalam ribuan anak yang memperoleh kesempatan belajar, dan dalam sejarah Kabupaten Gowa yang mencatat bahwa perubahan besar pernah dimulai dari sebuah keyakinan sederhana: membangun daerah harus dimulai dengan membangun manusianya.
Itulah warisan yang membuat nama Ichsan Yasin Limpo tidak sekadar dikenang sebagai mantan Bupati Gowa, melainkan sebagai pelopor pendidikan gratis yang mengubah arah masa depan generasi Gowa.




