Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Membincang Status Quo: SEMILOKDA sebagai Arena Reposisi Gerakan IMM

Pataka Eja by Pataka Eja
16 Januari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 01 16 At 15 48

Oleh: Nurafni (Ketua Umum PC IMM Gowa)


Dinamika zaman yang terus bergerak memaksa setiap entitas sosial mulai dari individu, organisasi, hingga kebudayaan untuk melakukan adaptasi agar tidak hanyut dalam arus pluralitas gerakan. Di tengah situasi tersebut, eksistensi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan bertahan, tetapi oleh kapasitas untuk menafsir ulang posisi, strategi, dan relevansi gerakan. Kondisi ini juga dialami oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Selatan, yang kini berupaya membaca kembali rumusan adaptasi yang diperlukan agar tetap menjadi agen perubahan di tengah percepatan modernitas lanjut.

Seminar-Lokakarya Daerah (SEMILOKDA) hadir sebagai ruang artikulasi gagasan, temu pemikiran, dan penyeberangan ide untuk menyongsong IMM yang lebih adaptif dan berorientasi masa depan. Ruang ini seharusnya tidak digunakan untuk meromantisasi sejarah semata atau hanyut dalam catatan-catatan yang tidak lagi relevan dengan realitas sosial hari ini, tetapi untuk merumuskan arah pembaharuan yang memungkinkan gerak Ikatan melampaui stagnasi.

Harapan-harapan yang digantungkan pada SEMILOKDA tentu bukan sekadar teknis organisatoris, tetapi strategis ideologis yaitu sebuah pembaharuan mengenai cara Ikatan memahami dirinya, memetakan tantangan, dan mengelola sumber daya kader. Ini menjadi lebih penting bagi kader IMM yang bergerak dalam ekosistem institusional yang plural, serta tidak bernaung langsung di bawah struktur Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Di lingkungan seperti ini, kompetisi wacana, penetrasi ideologi, dan fragmentasi komunitas intelektual menuntut daya adaptasi yang lebih progresif.

Tuntutan untuk menjaga eksistensi di tengah gamangnya pertarungan ide dan pluralitas wacana pada level institusional memaksa kita untuk mengembangkan strategi yang mampu membentuk IMM sebagai kiblat intelektual bagi komunitas muda. Produk yang ditawarkan Ikatan kini bukan sekadar administrasi atau seremoni, tetapi narasi, keahlian, dan orientasi intelektual yang dapat dikonsumsi oleh generasi yang lebih kritis.

Namun, problemnya adalah setiap manuver pembaharuan yang dilakukan seringkali dibaca sebagai penyimpangan moral, pelanggaran norma, atau deviasi dari aturan-aturan lama. Persepsi semacam ini muncul karena banyak pihak masih memandang Ikatan melalui kacamata historis yang beku, bukan melalui pendekatan kontekstual yang menimbang perubahan medan sosial. Padahal apa yang kita hadapi hari ini tidak lagi identik dengan konteks masa lalu dimana tantangan, aktor, dan logika kompetisinya telah berubah atau berbeda.

Maka dengan menerima arah baru gerakan IMM Sulawesi Selatan bukan berarti menanggalkan sejarah tetapi mengembalikan sejarah pada tujuan awalnya yang menjadi inspirasi untuk bergerak, bukan sebagai belenggu yang menghambat keberanian untuk bertransformasi. Adaptasi yang dilakukan bukanlah bentuk penyimpangan moral atau ideologis, melainkan ekspresi kesadaran historis bahwa setiap organisasi hidup dalam dialektika antara kontinuitas dan perubahan. Kontinuitas memberikan fondasi nilai dan identitas, sedangkan perubahan memberikan daya hidup, relevansi, dan kemampuan untuk menjawab tantangan zaman.

Tantangan yang dihadapi IMM hari ini terutama di ruang non-PTM bukan lagi sekadar persoalan administratif atau kaderisasi teknis, tetapi pertarungan atas narasi, legitimasi, dan daya tarik ideologis. Generasi muda tidak lagi tertarik pada struktur yang kaku dan monoton, tetapi pada organisasi yang menawarkan ruang produksi intelektual, jejaring sosial yang luas, lintasan karir yang jelas, dan relevansi isu dengan realitas keseharian mereka. Jika IMM ingin tetap eksis sebagai organisasi kader yang berwatak profetik, maka ia harus mampu menawarkan produk gerakan yang dapat dikonsumsi secara intelektual, emosional, dan sosial oleh para mahasiswa.

Pada akhirnya kita berharap semoga forum SEMILOKDA bukan hanya menjadi ruang formalitas yang melahirkan dokumen seremonial tanpa kontribusi pembaharuan, tetapi menjadi pionir yang menentukan bagaimana IMM menyesuaikan diri dan menyiapkan diri menghadapi perubahan yang sedang dan akan datang. Forum semacam ini harus mampu memetakan tantangan, merumuskan strategi, serta mengintegrasikan pengalaman lapangan para kader dalam bentuk kebijakan gerakan yang bersifat aplikatif.

Keberhasilan tersebut tentu tidak ditentukan oleh megahnya konsep, melainkan oleh keberlanjutan eksekusi, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan seluruh lapisan Ikatan untuk berpindah dari kultur reaktif menuju kultur proaktif. Jika SEMILOKDA dapat menghasilkan orientasi baru yang dapat diejawantahkan dalam praksis kaderisasi, perluasan wacana, dan konsolidasi organisasi, maka IMM Sulawesi Selatan akan memiliki arah gerak yang bukan hanya relevan, tetapi juga visioner.

Perubahan zaman tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun. Karena itu, persoalannya bukan apakah IMM siap atau tidak, melainkan bagaimana IMM mempersiapkan diri untuk tidak sekedar bertahan, tetapi memimpin perubahan itu sendiri. Disinilah makna strategis perbincangan status quo menemukan aktualisasinya dimana kebijaksanaan lokal yang memayungi keberanian untuk melangkah jauh ke depan. Semoga arah baru gerakan ini benar-benar melahirkan IMM yang lebih adaptif, berorientasi masa depan, dan tetap teguh pada mandat profetiknya sebagai humanitas, intelektualitas, dan religiusitas.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 01 28 At 23 16 06
Opini

Disparitas Pendidikan: Anak Putus Sekolah Dan Kekerasan Struktural

28 Januari 2025
64
1999inji
Opini

Avatar Fire and Ash: Neytiri sebagai Simbol Etika Perawatan (Ethics of Care)

25 Desember 2025
206
Whatsapp Image 2025 05 02 At 22 20 08 9605197a
Opini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Mewujudkan Keadilan dan Kualitas Pendidikan

2 Mei 2025
127
Whatsapp Image 2024 11 16 At 13 56 08 Be57f241
Opini

Sumber Kekacauan Pilkada Sebagai Refleksi Demokrasi

16 November 2024
108

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi