Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Laut yang Memberi Kita Makan, Kini Menyimpan Ancaman Tak Kasatmata

Pataka Eja by Pataka Eja
6 November 2026
in Opini
0
Skdjf

Oleh: Muh. Resky Akbar


Ketika membicarakan pencemaran laut, kebanyakan orang langsung membayangkan pantai yang dipenuhi sampah plastik, sampah yang mengapung di permukaan laut, atau tumpukan limbah di kawasan pesisir. Gambaran tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa pencemaran laut hanya berkaitan dengan sesuatu yang terlihat oleh mata. Padahal, ada bentuk pencemaran lain yang tidak mudah dikenali, yaitu mikroplastik. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini telah ditemukan di berbagai perairan dan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mikroplastik dapat berasal dari dua kategori utama, yaitu mikroplastik primer yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil dan mikroplastik sekunder yang terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar. Ukurannya yang kecil membuat keberadaannya sulit dikenali tanpa pemeriksaan khusus. Akibatnya, laut yang terlihat bersih belum tentu terbebas dari pencemaran mikroplastik.

Persoalan ini menjadi semakin menarik ketika melihat kondisi perairan Sulawesi Selatan. Sebuah penelitian berjudul Microplastic Occurrence and Short-term Variability Across Seaweed-farming and Non-farming Coastal Sites in Takalar Waters, Indonesia yang ditulis Jamaluddin Fitrah Alam dan sejumlah peneliti, termasuk dari Universitas Hasanuddin, diterbitkan dalam jurnal Environmental Monitoring and Assessment pada 4 September 2026.

Penelitian tersebut mengkaji 12 stasiun di perairan Takalar, terdiri atas sembilan lokasi budidaya rumput laut dan tiga lokasi nonbudidaya. Pengambilan sampelnya dilakukan pada Januari dan Maret 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di seluruh kawasan yang diteliti. Pada air permukaan di lokasi budidaya rumput laut, kelimpahannya berkisar antara 300 hingga 1.600 partikel per meter kubik. Sementara itu, pada lokasi nonbudidaya ditemukan sekitar 500 hingga 800 partikel per meter kubik. Mikroplastik juga ditemukan dalam sedimen perairan.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara kelimpahan mikroplastik di kawasan budidaya dan nonbudidaya. Dengan demikian, tidak tepat jika kegiatan budidaya rumput laut langsung dituduh sebagai penyebab pencemaran. Temuan tersebut justru memperlihatkan bahwa mikroplastik telah tersebar di kawasan pesisir yang diteliti. Selain itu, perlu diingat bahwa data yang digunakan berasal dari pengambilan sampel pada 2022, bukan gambaran langsung kondisi perairan Takalar saat ini.

Hal serupa juga ditemukan di wilayah lain. Dalam penelitian berjudul Analysis of Microplastic Characteristics and Abundance in the Waters of Youtefa Bay, Jayapura City, Papua, Tamara Louraine Jeanette Kainama dan rekan-rekannya melaporkan bahwa terdapat 1.463 partikel mikroplastik dari tiga stasiun penelitian di Teluk Youtefa. Penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Pollution Journal pada 4 November 2026 tersebut melaporkan kelimpahan sebesar 5.852 partikel per meter kubik.

Sementara itu, penelitian Ahmad Muhtadi dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Scientifica pada 28 Oktober 2026 mengkaji distribusi mikroplastik di permukaan air dan sedimen pesisir Danau Toba melalui 21 stasiun penelitian. Penelitian berjudul Spatiotemporal Patterns of Microplastic Distribution in Surface Water and Nearshore Sediments of a Large Tropical Lake: Evidence From Lake Toba, Indonesia tersebut menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik rata rata lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan musim kemarau, baik pada air permukaan maupun sedimen.

Ketiga penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan mikroplastik tidak hanya ditemukan di satu wilayah atau satu jenis ekosistem perairan. Takalar dan Teluk Youtefa merupakan kawasan pesisir, sedangkan Danau Toba merupakan ekosistem air tawar. Meskipun demikian, angka dari ketiga penelitian tidak bisa dibandingkan secara langsung karena lokasi, metode, dan satuan pengukurannya berbeda.

Dari berbagai temuan tersebut, ada satu hal yang seharusnya mulai kita pertanyakan: apakah perhatian terhadap pencemaran perairan selama ini sudah cukup menyeluruh? Kita sering mengukur keberhasilan menjaga lingkungan dari seberapa bersih pantai, sungai, dan danau terlihat. Padahal, pencemaran dapat berlangsung dalam bentuk yang tidak kasatmata.

Persoalan mikroplastik seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai perlindungan ekosistem dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Terlebih, Takalar merupakan salah satu wilayah yang memiliki aktivitas budidaya rumput laut. Laut bukan sekadar bentang alam bagi masyarakat pesisir, melainkan juga ruang hidup dan sumber penghidupan.

Pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan kualitas air, khususnya di kawasan yang memiliki aktivitas perikanan dan budidaya. Penelitian juga perlu dilakukan secara berkala agar perubahan kondisi perairan dapat diketahui. Selain itu, pengelolaan sampah dari daratan harus diperbaiki karena kanal, drainase, sungai, dan aktivitas permukiman dapat menjadi jalur masuk sampah ke lingkungan perairan.

Masyarakat pun perlu dilibatkan. Pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah rumah tangga, serta kebiasaan tidak membuang sampah ke sungai dan laut merupakan langkah yang tidak boleh dianggap sepele. Akan tetapi, tanggung jawab ini tidak seharusnya dibebankan kepada masyarakat saja. Pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang menghasilkan atau mengelola sampah juga memiliki tanggung jawab.

Kita juga perlu berhati-hati dalam menyampaikan persoalan ini. Keberadaan mikroplastik di perairan tidak serta-merta membuktikan bahwa rumput laut yang dibudidayakan telah tercemar atau bahwa masyarakat yang mengonsumsinya pasti mengalami gangguan kesehatan. Hal-hal tersebut membutuhkan penelitian tersendiri. Namun, ketidakpastian mengenai dampak tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan pencemaran yang sudah ditemukan.

Laut tidak hanya memberikan pemandangan indah atau menjadi tempat mencari ikan dan membudidayakan rumput laut. Laut menopang kehidupan banyak masyarakat. Karena itu, menjaga laut seharusnya tidak berhenti pada membersihkan sampah yang terlihat di pantai. Kita juga perlu memperhatikan pencemaran yang tersembunyi di dalam air.

Jangan sampai kita baru benar-benar peduli ketika kerusakan lingkungan telah mengganggu kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung padanya. Sebab, laut yang terlihat bersih belum tentu merupakan laut yang benar-benar sehat.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 09 01 At 15 52
Opini

Kampus: Tempat Berpikir Kritis atau Belajar untuk Patuh?

3 September 2026
Whatsapp Image 2025 10 14 At 18 47
Opini

Ironi Modernitas dan Hilangnya Esensi Karya Manusia di Era Kecerdasan Buatan

15 Oktober 2025

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi