Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Sosial & Politik

Krisis Kepercayaan Publik! Kisruh Kejagung-Polri, Drone Emprit Catat Sentimen Negatif Publik Tembus 70 Persen

Pataka Eja by Pataka Eja
28 Juli 2026
in Sosial & Politik
0
Pertemuan Antara Kapolri Dan Jaksa Agung Di Kantor Kejagung Dok Istimewa

Sumber: DetikNews

Pataka Eja – Laporan analisis media sosial yang dirilis Drone Emprit pada Selasa (28/7/2026) menunjukkan krisis kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum semakin menguat di tengah kisruh yang melibatkan Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI. Berdasarkan hasil pemantauan, 70 persen percakapan di media sosial terkait konflik kedua institusi bernada negatif.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam laporan bertajuk “Sentimen Publik terhadap Kisruh Kejaksaan vs Kepolisian”, yang menganalisis percakapan publik selama periode 8–14 Juli 2026. Drone Emprit memantau 85.951 sampel percakapan di media sosial dan 12.898 pemberitaan media online yang berkaitan dengan dinamika kasus tersebut.

Hasil analisis menunjukkan sentimen negatif mendominasi baik di media sosial maupun media online. Di media sosial, sentimen negatif mencapai 70 persen, sedangkan sentimen positif hanya 14 persen dan sentimen netral 16 persen.

Adapun pada media online, sentimen negatif juga tercatat sebesar 70 persen, diikuti sentimen positif 16 persen dan netral 14 persen.

Drone Emprit menilai tingginya sentimen negatif dipicu oleh rangkaian perkembangan kasus yang menjadi perhatian publik, mulai dari penggeledahan terkait penyidikan dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU), pengungkapan aset bernilai fantastis yang dikaitkan dengan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, hingga memanasnya dinamika hubungan antara Kejaksaan Agung dan Polri yang kemudian ramai diperbincangkan di ruang digital.

Dalam laporannya, Drone Emprit mengidentifikasi tiga isu utama yang mendominasi percakapan publik.

Pertama, kemarahan masyarakat terhadap ironi pemberantasan korupsi. Banyak warganet mempertanyakan integritas aparat penegak hukum ketika pejabat yang selama ini dikenal berada di garis depan pemberantasan korupsi justru dikaitkan dengan dugaan kepemilikan aset bernilai besar.

Kedua, muncul harapan agar konflik antarlembaga menjadi momentum untuk mengungkap dugaan korupsi secara lebih luas. Namun, di saat yang sama berkembang kekhawatiran bahwa perseteruan tersebut berpotensi berakhir dengan kompromi politik yang justru mengaburkan proses penegakan hukum.

Ketiga, keterlibatan unsur militer dalam dinamika perkara turut menjadi perhatian publik. Berdasarkan hasil analisis percakapan, sebagian warganet mengkhawatirkan potensi terganggunya independensi penegakan hukum dan prinsip supremasi sipil.

Selain itu, Drone Emprit juga menemukan menguatnya desakan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil peran lebih besar dalam penanganan perkara guna menghindari potensi benturan kepentingan antarlembaga penegak hukum.

Publik juga mendorong Presiden turun tangan untuk memastikan proses hukum berjalan secara transparan, independen, dan bebas dari intervensi.

Di tengah dominasi sentimen negatif, Drone Emprit mencatat masih terdapat percakapan bernada positif. Sebagian masyarakat mengapresiasi langkah aparat dalam mengusut dugaan korupsi tanpa pandang bulu dan berharap konflik yang terjadi justru menjadi pintu masuk untuk membongkar praktik korupsi yang lebih luas.

Meski demikian, jumlah percakapan bernada positif masih jauh lebih kecil dibanding sentimen negatif yang mendominasi ruang digital.

Berdasarkan keseluruhan hasil pemantauan, Drone Emprit menyimpulkan bahwa dominasi sentimen negatif di ruang digital menjadi indikator menguatnya krisis kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa masyarakat menginginkan proses penegakan hukum yang lebih transparan, independen, dan bebas dari kompromi politik.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 05 23 At 02 25
Sosial & Politik

“Papua Bukan Tanah Kosong”: Forum Intelektual Komunikasi Islam (FIKSI) Bongkar Realitas di Balik Proyek ‘Go Green

24 Mei 2026
71
Whatsapp Image Muh. Nurhidayatullah
Ragam

Sidang pansus Hak Angket DPRD Gowa dinilai alot, Aktivis : masih banyak masalah lain yang juga butuh solusi

4 Juli 2026
42
Whatsapp Image 2026 03 04 At 20 01
Sosial & Politik

Aliansi Mahasiswa SAINTEK Gelar Aksi “Reset Indonesia”, Soroti Pendidikan hingga Reformasi Polri

4 Maret 2026
379
Whatsapp Image 2026 01 27 At 20 32
Sosial & Politik

IMM Luwu Utara: Aksi Mahasiswa Bukan Penghambat Pembangunan, Tapi Suara Rakyat Luwu Raya

27 Januari 2026
397

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi