Patakaeja.id — KOPRI PC Makassar sukses gelar Dialog Interaktif peringatan Harlah KOPRI ke-58 di Aula Sipakalebbi Balaikota Makassar pada Sabtu, 6 Desember 2025.
Kegiatan ini mengusung tema “Mimbar Gagasan Perempuan : Berdaya Dalam Gagasan, Berdampak Dalam Gerakan”.
Ketua KOPRI PC PMII Kota Makassar, Nurmila Sari, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perempuan memiliki kapasitas strategis dalam menggerakkan perubahan di Kota Makassar.
“Perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan kota. Ketika perempuan diberdayakan melalui ruang gagasan, ia bukan hanya membangun dirinya, tetapi ikut membentuk arah peradaban kota yang lebih inklusif,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Hariandi, Ketua Cabang PMII Kota Makassar yang menekankan pentingnya kualitas intelektual perempuan dalam ruang publik.
“Selain merias wajah, perempuan juga harus merias isi kepala. Perempuan yang kuat gagasannya mampu melahirkan perubahan yang bernilai dan berdampak luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Empat narasumber perempuan pada sesi dialog interaktif membahas peran strategis perempuan dalam sosial, kepemimpinan, dan gerakan kampus.
Kabid Perlindungan Khusus Anak DP3A Kota Makassar, Isnianah Nurdin, S.Sos., M.I.Kom., menegaskan pentingnya sensitivitas sosial perempuan dalam pembangunan.
“Peran perempuan dalam pembangunan kota bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang memanfaatkan potensi dan kapasitas mereka untuk menciptakan kota yang lebih hidup, inklusif, dan berdaya,” ujarnya.
Majelis Pembina Cabang PMII Kota Makassar, Lusiana Putri Ahmadi, S.E., M.Ak., menekankan pentingnya kehadiran perempuan dalam posisi kepemimpinan.
“Kepemimpinan perempuan itu strategis. Ketika perempuan diberi ruang, keputusan organisasi menjadi lebih kaya perspektif,” katanya.
Perwakilan KOPRI PKC Sulsel, Rohani Bundu, S.Pd., Gr., menyoroti peran kampus sebagai ruang konsolidasi gerakan perempuan.
“Kampus adalah tempat lahirnya kader kritis. Gerakan perempuan harus dimulai dari sana,” jelasnya.
Sementara itu, Aktivis KOPRI Anugerawaty Nur Arsy, S.Pd., menegaskan perlunya paradigma gerakan yang adaptif.
“Gerakan perempuan harus relevan dengan tantangan zaman. Perempuan adalah motor perubahan itu sendiri,” tuturnya.
Sesi dialog ini menjadi ruang penguatan gagasan dan konsolidasi gerakan perempuan, khususnya bagi kader KOPRI di Kota Makassar.




