Gowa, Pataka Eja — Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam menuai kontroversi setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis atau kontributor memberikan klarifikasi terkait keterlibatan mereka dalam buku tersebut.
Polemik mencuat setelah daftar isi buku beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Sejumlah nama ulama, akademisi, pejabat publik, hingga tokoh nasional tercantum dalam buku yang membahas sisi keislaman, spiritualitas, dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu tokoh yang memberikan bantahan adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.
Nama TGB tercantum sebagai penulis bab berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan” yang tercantum pada halaman 241.
Namun, TGB menegaskan dirinya tidak pernah mengirimkan tulisan untuk buku tersebut. Bantahan itu disampaikan melalui akun Instagram miliknya, @tuangurubajang, setelah seorang pengguna media sosial mempertanyakan keterlibatannya sebagai kontributor.
“Saya tidak pernah kirim tulisan,” tulis TGB, Selasa (8/9/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena nama TGB tercantum secara jelas dalam daftar isi buku sebagai penulis.
Gus Kautsar Persoalkan Judul dan Transparansi
Polemik serupa datang dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.
Nama Gus Kautsar tercantum sebagai penulis bagian berjudul “Dukungan Pesantren untuk Prabowo”.
Dilansir dari detikJatim, Gus Kautsar mengaku sekitar pertengahan 2024 pernah menerima kedatangan seseorang yang disebut sebagai utusan salah satu penulis buku.
Dalam pertemuan tersebut, ia ditanya mengenai pandangan pesantren terhadap keindonesiaan, kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta peran pesantren dalam merawat kemerdekaan Indonesia.
Namun, Gus Kautsar menyesalkan judul tulisan yang menggunakan namanya serta tidak adanya transparansi mengenai hasil pembicaraan tersebut.
Ia menyebut tidak pernah diberi tahu ketika buku tersebut akhirnya diterbitkan dan juga belum menerima buku yang mencantumkan namanya.
Said Aqil Minta Peredaran Buku Dihentikan
Mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga menyatakan keberatan atas pencantuman namanya.
Dilansir dari Inilah.com, melalui sekretaris pribadinya, M. Sofwan Erce, Said Aqil menegaskan tidak pernah menulis, menyusun, maupun memberikan tulisan untuk buku Islam Ala Prabowo.
Said Aqil juga meminta agar peredaran buku tersebut dihentikan sementara untuk dilakukan pengecekan dan revisi, termasuk menghapus namanya dari buku.
Permintaan tersebut disampaikan untuk menjaga kejelasan informasi dan mencegah kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pihak Said Aqil menegaskan agar tidak muncul anggapan bahwa ia merupakan penulis atau pihak yang memberikan kontribusi tulisan dalam buku tersebut.
Yusril: Saya Hanya Diwawancarai
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra turut memberikan klarifikasi.
Nama Yusril tercantum dalam daftar isi buku. Namun, ia menegaskan keterlibatannya hanya sebatas sebagai narasumber yang diwawancarai tim penyusun.
Dilansir dari Antara, Yusril mengatakan dirinya tidak pernah menulis buku tersebut.
“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” kata Yusril di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Yusril mengatakan wawancara dilakukan cukup lama sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Setelah wawancara selesai, ia mengaku tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara hingga buku tersebut diterbitkan.
Yusril baru membaca buku itu setelah kembali menjadi perhatian publik. Menurutnya, sebagian besar materi yang pernah disampaikannya dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup baik.
Namun, Yusril mengaku tidak lagi mengingat siapa yang melakukan wawancara dan tidak mengetahui secara pasti apakah pewawancara tersebut merupakan bagian langsung dari tim penyusun.
Ini Daftar Tokoh yang Tercantum
Dilansir dari Suara.com, berdasarkan daftar isi buku yang beredar, sejumlah nama tokoh tercantum sebagai penulis atau kontributor dalam buku tersebut.
Bagian I: Islam, Perdamaian, dan Keadilan
- Prof. Yusril Ihza Mahendra — membahas kepedulian Prabowo terhadap rakyat dan keadilan.
- Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA — membedah kepemimpinan dan kemakmuran.
- Prof. Dr. Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono — mengulas sisi kemanusiaan dan perdamaian.
- Dr. KH. As’ad Said Ali — menulis tentang kerja keras untuk kesejahteraan dan perdamaian.
- Hambra Samal, SH, M.Hum — menyebut Prabowo sebagai pembela kaum mustadh’afin.
- Drs. H. Agus Maftuh Abegebriel — mengulas Fast Track Diplomacy.
- Dr. Zuhair Al Syun, Duta Besar Palestina — menyampaikan harapan rakyat Palestina kepada Indonesia.
Bagian II: Spiritualitas Prabowo Subianto
- Prof. Dr. Abdul Mu’ti — membahas visi syariah Asta Cita dan pendidikan.
- Dr. H. TGB Muhammad Zainul Majdi — mengulas moderasi, keadilan, dan pembaharuan dialektika keagamaan.
- Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak — menulis tentang Prabowonomics.
- Prof. Ali Masykur Musa — membedah nilai tasawuf dalam kepemimpinan Prabowo.
- Dr. Muhammad Albarra atau Gus Barra — membahas masa depan pendidikan bangsa.
- Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar — menulis tentang dukungan pesantren untuk Prabowo.
- Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim — memberikan epilog yang membandingkan Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Bagian III: Perjuangan untuk Kesejahteraan Rakyat
- Prof. Dr. Abdul Mu’ti (Sekjen PP Muhammadiyah): Visi syariah Asta Cita dan pendidikan.
- Dr. H. TGB Muhammad Zainul Majdi: Mengulas moderasi, keadilan, dan pembaharuan dialektika.
- Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak: Menulis tentang Prabowonomics.
- Prof. Ali Masykur Musa: Membedah nilai tasawuf kepemimpinan Prabowo.
- Dr. Muhammad Albarra (Gus Barra): Masa depan pendidikan bangsa.
- Muhammad Abdurrahman Kautsar (Gus Kautsar): Dukungan pesantren untuk Prabowo.
- Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim: Memberikan epilog yang membandingkan Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Daftar tersebut menjadi sorotan karena beberapa nama yang tercantum kemudian memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan mereka dalam penulisan buku.
Bukan Sekadar Soal Isi Buku
Kontroversi Islam Ala Prabowo kini tidak hanya berkaitan dengan isi atau judul buku.
Persoalan yang mengemuka adalah bagaimana nama-nama tokoh tersebut dicantumkan serta melalui mekanisme apa materi yang dikaitkan dengan mereka dihimpun, ditulis, disunting, dan diterbitkan.
Ada perbedaan antara tokoh yang menyerahkan naskah untuk diterbitkan dengan tokoh yang hanya diwawancarai atau dimintai pandangan.
Dalam kasus Yusril, misalnya, ia mengaku hanya diwawancarai. TGB menyatakan tidak pernah mengirim tulisan. Sementara Said Aqil menegaskan tidak pernah menulis maupun memberikan tulisan dan meminta namanya dihapus dari buku.
Gus Kautsar juga mempersoalkan judul tulisan serta transparansi penggunaan hasil pembicaraan yang pernah dilakukan pada 2024.
Situasi tersebut membuat pertanyaan mengenai persetujuan, atribusi, transparansi editorial, dan komunikasi dengan para tokoh menjadi semakin penting.
Apalagi, nama-nama yang tercantum merupakan ulama, akademisi, pejabat, dan tokoh publik yang memiliki pengaruh di ruang publik. Pencantuman nama mereka sebagai penulis tentu dapat memberikan bobot dan legitimasi terhadap isi buku.
Menunggu Penjelasan Penyusun
Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Dilansir dari Antara, buku tersebut diterbitkan pada 2025 dan peluncurannya dilakukan dalam momentum pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Jakarta pada 26 Agustus 2025.
Penulisannya disebut diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.
Di tengah polemik yang berkembang, penjelasan dari tim penyusun dan pihak terkait menjadi penting untuk menjawab bagaimana proses penghimpunan materi serta pencantuman nama para tokoh dilakukan.
Apakah seluruh nama yang tercantum memang menyerahkan tulisan?
Jika sebagian materi berasal dari wawancara, apakah hasil wawancara tersebut telah dikonfirmasi dan mendapat persetujuan dari tokoh yang bersangkutan sebelum diterbitkan?
Dan apakah para tokoh yang namanya tercantum telah mengetahui serta menyetujui bentuk akhir tulisan yang diterbitkan atas nama mereka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi bagian penting dari kontroversi Islam Ala Prabowo.
Sebab, di balik perdebatan mengenai cara Prabowo digambarkan dalam perspektif Islam, kredibilitas sebuah buku juga ditentukan oleh transparansi proses penulisan, atribusi nama, serta persetujuan pihak-pihak yang namanya digunakan dalam publikasi.




