Gowa, Pataka Eja — Hubungan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dengan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memiliki perjalanan panjang. Jauh sebelum Listyo menduduki kursi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), keduanya telah memiliki rekam jejak kerja sama sejak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta pada 2011.
Dari Kota Solo, hubungan profesional tersebut berlanjut hingga Istana Kepresidenan. Listyo yang semula menjabat Kapolresta Surakarta kemudian dipercaya menjadi ajudan Jokowi setelah mantan Wali Kota Solo itu terpilih sebagai Presiden RI pada 2014.
Perjalanan karier Listyo terus menanjak. Ia menduduki sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polri, menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim), hingga akhirnya ditunjuk Jokowi sebagai calon tunggal Kapolri pada Januari 2021.
Listyo Sigit Prabowo merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991. Sebelum bertugas di Surakarta, ia pernah menjabat Kapolres Pati dan Kapolres Sukoharjo di Jawa Tengah.
Pada 2011, Listyo mendapat promosi sebagai Kapolresta Surakarta. Saat itu, Jokowi memimpin pemerintahan Kota Surakarta bersama Wakil Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo.
Keduanya berada dalam lingkup kerja yang saling berkaitan. Jokowi bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan daerah, sedangkan Listyo menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Salah satu peristiwa besar yang terjadi selama Listyo menjabat Kapolresta Surakarta adalah aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton pada September 2011. Peristiwa tersebut menewaskan pelaku dan melukai sejumlah orang.
Penugasan di Surakarta menjadi bagian penting dari perjalanan karier Listyo. Namun, kerja sama keduanya tidak berhenti ketika Jokowi meninggalkan jabatan wali kota dan memasuki panggung politik nasional.
Dari Solo, Listyo Masuk Istana Kepresidenan
Setelah Jokowi memenangkan Pilpres 2014, Listyo kembali mendapat penugasan yang mempertemukannya dengan mantan Wali Kota Surakarta tersebut.
Pada 30 Oktober 2014, Listyo yang saat itu berpangkat Komisaris Besar Polisi ditunjuk menjadi ajudan Presiden Jokowi.
Penunjukan tersebut membuat Listyo kembali berada di lingkungan kerja Jokowi, kali ini di tingkat pemerintahan pusat. Sebagai ajudan, ia bertugas mendampingi presiden dalam berbagai kegiatan resmi serta menjalankan tanggung jawab pengamanan dan koordinasi.
Dari Kapolresta di daerah, Listyo kini berada di lingkungan Istana Kepresidenan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya di institusi kepolisian.
Setelah bertugas sebagai ajudan, Listyo kembali menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Polri. Ia pernah menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara, Kapolda Banten, hingga Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri.
Kariernya semakin strategis ketika pada 6 Desember 2019 dipercaya menduduki jabatan Kabareskrim Polri.
Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi penting dalam penanganan tindak pidana dan penyidikan di tingkat nasional. Pengalaman di berbagai bidang kepolisian itu kemudian menjadi bagian dari rekam jejak Listyo sebelum namanya diajukan untuk memimpin Polri.
Jokowi Ajukan Listyo sebagai Calon Tunggal Kapolri
Puncak perjalanan profesional Listyo bersama Jokowi terjadi ketika Presiden mengajukan namanya sebagai calon tunggal Kapolri pada 13 Januari 2021.
Listyo dipersiapkan menggantikan Jenderal Polisi Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun pada Februari 2021.
DPR RI kemudian menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Listyo pada 20 Januari 2021. Sehari kemudian, DPR menyetujui pengangkatannya melalui rapat paripurna.
Pada Rabu, 27 Januari 2021, Jokowi melantik Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri ke-25 di Istana Negara, Jakarta.
Pelantikan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5/Polri Tahun 2021 tentang Pengangkatan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Listyo memperoleh kenaikan pangkat menjadi Jenderal Polisi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 7/Polri Tahun 2021.
Listyo resmi menggantikan Idham Azis sebagai pimpinan tertinggi institusi kepolisian.
Setelah dilantik, Listyo menyampaikan komitmennya melakukan transformasi di tubuh Polri. Ia menekankan pentingnya menghadirkan kepolisian yang tegas, humanis, transparan, serta mampu memberikan pelayanan publik yang baik.
Namun, perjalanan panjang Listyo bersama Jokowi tidak berhenti pada momentum pelantikan tersebut.
Ketika Jokowi mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden pada 20 Oktober 2024, Listyo masih bertahan di kursi Kapolri. Ia bahkan tetap memimpin Polri di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan demikian, hubungan profesional yang bermula di Surakarta pada 2011 telah melewati beberapa fase penting: dari kepala kepolisian daerah, ajudan presiden, pejabat strategis Polri, hingga pimpinan tertinggi kepolisian nasional.
Rentetan perjalanan itu memperlihatkan panjangnya rekam jejak Listyo bersama Jokowi. Dari Kota Solo hingga Istana Negara, keduanya pernah berada dalam satu lingkaran kerja selama lebih dari satu dekade, sementara Listyo tetap memegang jabatan strategis di institusi Polri setelah Jokowi meninggalkan kekuasaan.


