Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Sosok

Dari Kisah Kembar hingga Sorotan Publik, Kak Bia Belajar Menjaga Reputasi di Media Sosial

Pataka Eja by Pataka Eja
28 September 2026
in Sosok
0
Whatsapp Image 2026 09 28 At 19 49

Gowa, Pataka Eja – Media sosial tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi cerita dan berkomunikasi. Bagi Nabila Azzahra atau yang akrab disapa Kak Bia, media sosial justru menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya hingga mempertemukannya dengan saudara kembar yang selama 16 tahun tidak diketahuinya.

Kisah Nabila dan saudara kembarnya, Nadia Tri Elvira, sempat menjadi perhatian publik pada Januari 2020. Keduanya diketahui terpisah sejak lahir dan tinggal di daerah berbeda. Nabila tinggal di Gowa, Sulawesi Selatan, sementara Nadia berada di Depok, Jawa Barat. Keduanya kemudian berkomunikasi melalui media sosial hingga akhirnya mengetahui bahwa mereka memiliki hubungan sebagai saudara kembar.

Kisah Tiga Saudara Kembar yang Terpisah Sejak Lahir

Sebelum akhirnya bertemu dengan Nadia, Nabila tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki saudara kembar. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh keluarga yang mengasuhnya. Perpisahan tersebut bermula ketika orang tua kandung Nabila memiliki tiga anak yang lahir sebagai kembar tiga.

Pada saat itu, orang tua kandung Nabila mengalami keterbatasan ekonomi dan merasa tidak mampu membesarkan ketiga anaknya. Ketika berada di rumah sakit, seorang laki-laki yang kemudian menjadi ayah angkat Nabila sedang bertugas sebagai tentara. Ia sebelumnya belum memiliki anak.

Dalam kondisi tersebut, ayah angkat Nabila kemudian berbicara langsung dengan orang tua kandungnya dan menyampaikan keinginannya untuk mengasuh Nabila karena dirinya belum memiliki anak. Setelah adanya pembicaraan tersebut, Nabila kemudian diasuh dan dibesarkan oleh keluarga angkatnya.

Sejak saat itu, Nabila tumbuh bersama keluarga yang mengasuhnya tanpa mengetahui secara lengkap mengenai asal-usul dan keberadaan saudara kembarnya. Ia juga tidak mengetahui di mana keberadaan orang tua kandungnya serta saudara kembar ketiganya.

Dengan demikian, tiga saudara yang sejak lahir seharusnya tumbuh bersama justru menjalani kehidupan di tempat yang berbeda. Nabila tumbuh di Gowa, sementara salah satu saudara kembarnya, Nadia Tri Elvira, tumbuh di Depok, Jawa Barat. Hingga bertahun-tahun kemudian, keduanya kembali dipertemukan melalui media sosial.

Kisah mengenai perpisahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Nabila karena pertemuannya dengan Nadia bukan hanya mempertemukan dua orang yang memiliki kemiripan wajah, tetapi juga membuka kembali cerita tentang keluarga dan saudara kembar yang selama ini tidak diketahuinya.

Berawal dari Pesan di Media Sosial

Dalam wawancara, Kak Bia menceritakan bahwa awal mula dirinya mengetahui keberadaan Nadia bermula ketika ia sedang menggunakan Instagram. Ia menemukan sebuah pesan yang belum dibaca dari seseorang yang mengatakan bahwa dirinya memiliki kemiripan dengan saudara iparnya.

Pesan tersebut awalnya tidak langsung dipercaya. Kak Bia bahkan sempat mengira akun tersebut merupakan akun palsu karena unggahannya hanya berisi foto-foto bunga. Rasa penasaran kemudian membuatnya mencari nama Nadia Tri Elvira melalui media sosial lain, termasuk Twitter.

Dari pencarian tersebut, Kak Bia melihat foto Nadia dan mulai menyadari adanya kemiripan di antara mereka. Meski demikian, ia tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa Nadia merupakan saudara kembarnya.

“Awalnya saya pikir itu fake account, karena feed-nya cuma bunga. Terus saya cari namanya di Twitter dan ternyata memang kelihatan mirip,” cerita Kak Bia dalam wawancara.

Kisah tersebut kemudian berkembang setelah Kak Bia dan Nadia mulai berkomunikasi. Pemberitaan detikNews mencatat bahwa Nabila menghubungi Nadia melalui pesan pribadi Instagram pada 6 Januari 2020. Keduanya kemudian melakukan video call melalui WhatsApp dan mulai rutin berkomunikasi.

Kesamaan wajah, tanggal lahir, hingga ukuran kaki semakin membuat keduanya ingin memastikan hubungan tersebut. Kak Bia kemudian menanyakan hal tersebut kepada ibu yang membesarkannya. Dari situlah ia mengetahui bahwa dirinya memang memiliki dua saudara kembar.

Dari Kisah Pribadi Menjadi Perhatian Publik

Kisah pertemuan Nabila dan Nadia kemudian semakin dikenal setelah keduanya dipertemukan dalam program Hitam Putih Trans7 pada 13 Januari 2020. Dalam pemberitaan detikNews, Nabila juga mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya merupakan bagian dari kembar tiga dan masih ada satu saudara kembar lainnya yang belum ditemukan.

Perjalanan tersebut membuat kisah yang awalnya hanya diketahui oleh orang-orang terdekat berubah menjadi konsumsi publik. Perhatian masyarakat tidak hanya menghadirkan dukungan, tetapi juga berbagai pertanyaan dan komentar mengenai kebenaran cerita mereka.

Bagi Kak Bia, menghadapi perhatian publik pada usia 16 tahun bukan sesuatu yang mudah. Ia mengaku saat itu belum sepenuhnya siap menghadapi banyaknya perhatian yang datang secara bersamaan.

“Saya waktu itu masih 16 tahun, jadi sebenarnya belum terlalu tenang. Tapi saya berusaha untuk tetap fokus, tenang, dan tidak terlalu memikirkan hal-hal negatif,” ungkapnya.

Memilih Komentar yang Perlu Ditanggapi

Besarnya perhatian publik juga membuat Kak Bia berhadapan dengan komentar negatif. Salah satu bentuk komentar yang diterimanya adalah keraguan terhadap kisah yang dialaminya. Ada pihak yang menganggap cerita tersebut dibuat-buat.

Kak Bia memilih untuk tidak membalas seluruh komentar tersebut. Menurutnya, setiap komentar perlu dilihat terlebih dahulu sebelum menentukan apakah perlu diberikan tanggapan.

Komentar yang dianggap dapat memengaruhi kondisi dirinya cenderung diabaikan. Sebaliknya, komentar positif dari masyarakat ia simpan sebagai dukungan dan motivasi.

“Saya lihat dulu komentarnya. Kalau memang sampai membuat mental saya turun, saya lebih memilih mengabaikan. Kalau komentar positif, biasanya saya jadikan penyemangat,” katanya.

Menurut Kak Bia, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar ketika sebuah cerita pribadi sudah diketahui banyak orang. Karena itu, ia lebih memilih tetap tenang daripada memberikan respons secara berlebihan.

Klarifikasi dengan Bukti, Tetap Menjaga Privasi

Ketika kisahnya diragukan, Kak Bia tidak memilih untuk membuka seluruh informasi mengenai keluarganya kepada publik. Ia menjelaskan bahwa ada informasi tertentu yang memang dapat dibagikan, tetapi ada pula bagian kehidupan keluarga yang harus tetap menjadi privasi.

Untuk menjelaskan kebenaran kisah tersebut, ia menggunakan bukti yang menurutnya relevan, seperti informasi mengenai kelahiran kembar tiga dan hasil dari pihak medis. Namun, informasi mengenai kehidupan pribadi keluarga tetap tidak semuanya disampaikan kepada publik.

Bagi Kak Bia, memberikan klarifikasi bukan berarti harus membuka seluruh kehidupan pribadi kepada masyarakat. Ada batas informasi yang tetap perlu dijaga.

“Saya bisa kasih bukti bahwa kami memang kembar tiga, termasuk hasil dari dokter dan tanggal-tanggalnya. Tapi untuk hal-hal pribadi keluarga, tidak semuanya harus saya ceritakan,” jelasnya.

Sikap tersebut menjadi salah satu cara Kak Bia menghadapi perhatian publik tanpa mengorbankan privasi keluarganya.

Dukungan Keluarga dan Nadia

Dalam menghadapi berbagai respons masyarakat, Kak Bia juga tidak sepenuhnya berjalan sendiri. Ketika ditanya mengenai admin, manajer, atau pihak yang membantu mengelola komunikasi publik, ia menjelaskan bahwa orang-orang terdekat memiliki peran dalam mendukungnya.

Dukungan yang paling ia rasakan berasal dari Nadia dan keluarga. Terutama ketika muncul komentar negatif yang membandingkan dirinya dengan Nadia, keduanya saling memberikan dukungan.

“Semua berperan, tapi yang paling penting itu Nadia. Dia yang paling banyak mendukung dan membela saya, terutama kalau ada komentar-komentar negatif,” ujarnya.

Dalam wawancara tersebut, Kak Bia tidak menyebut adanya tim public relations atau manajemen profesional yang secara khusus menangani reputasinya. Karena itu, pengelolaan respons publik dalam kasusnya lebih banyak dilakukan secara personal dengan dukungan keluarga dan orang terdekat.

Setelah Viral, Konten Berubah Lebih Profesional

Perhatian publik yang muncul dari kisah tersebut kemudian membawa perubahan dalam aktivitas Kak Bia di media sosial. Ia mengatakan bahwa setelah kisahnya viral, semakin banyak orang yang mengenalnya dan memberikan dukungan.

Perubahan tersebut juga terlihat dari konten yang dibuatnya. Jika sebelumnya aktivitas media sosial lebih bersifat biasa, setelah mendapatkan perhatian publik, konten yang dibuat mulai diarahkan menjadi lebih profesional dan bahkan menjadi bagian dari pengalaman kerja.

“Setelah viral, orang-orang jadi lebih banyak yang tahu dan mendukung. Konten saya juga berubah, dari yang biasa menjadi lebih profesional dan akhirnya bisa menjadi pengalaman kerja,” katanya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perhatian publik tidak hanya memengaruhi cara seseorang berkomunikasi di media sosial, tetapi juga dapat membuka peluang baru ketika identitas digital mulai dikenal oleh masyarakat.

Tetap Menjadi Diri Sendiri

Meski mendapatkan perhatian publik dan mulai memperoleh kesempatan bekerja sama dengan berbagai pihak, Kak Bia mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Ia memilih mempertahankan identitas yang sudah dikenal publik sebagai “Nabila, kembar si viral itu” tanpa berusaha membangun citra yang sepenuhnya berbeda dari dirinya.

Menurutnya, mempertahankan kepercayaan pengikut tidak hanya dilakukan dengan membuat konten, tetapi juga dengan tetap menunjukkan dirinya secara apa adanya dan menjaga hubungan positif dengan orang-orang yang memberikan dukungan.

Ia juga kerap menjadikan komentar positif dari pengikut sebagai motivasi untuk terus berkembang.

Dari Kisah Viral Menjadi Pengalaman Baru

Bagi Kak Bia, pengalaman menjadi sorotan publik tidak hanya memberikan perubahan dalam aktivitas media sosial. Ia mengaku menjadi lebih aktif bersosialisasi dan memiliki pengalaman berkomunikasi dengan lebih banyak orang.

Sebelum kisah tersebut viral, ia mengaku pernah mengalami perundungan dan tidak terlalu aktif dalam bersosialisasi. Perhatian yang muncul setelah kisah pertemuannya dengan Nadia justru membuatnya mendapatkan pengalaman sosial yang lebih luas.

Dari perjalanan tersebut, ia belajar bahwa komunikasi dan kemampuan bersosialisasi menjadi hal penting ketika seseorang mulai dikenal banyak orang.

Pengalaman tersebut juga membuka kesempatan bagi Kak Bia untuk mendapatkan kepercayaan dari sejumlah pihak dan menerima tawaran kerja sama dengan brand.

Media Sosial dan Reputasi Personal

Kisah Kak Bia menunjukkan bahwa media sosial dapat memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berbagi konten. Media sosial menjadi ruang tempat seseorang menemukan informasi, membangun hubungan, menerima respons publik, sekaligus membentuk identitas di hadapan orang lain.

Dalam kasus Kak Bia, media sosial menjadi awal pertemuannya dengan Nadia. Setelah kisah tersebut diketahui publik, media sosial kemudian berubah menjadi ruang interaksi yang mempertemukannya dengan dukungan, pertanyaan, kritik, hingga peluang kerja.

Pengalaman tersebut membuat Kak Bia belajar untuk lebih selektif dalam merespons komentar, memberikan klarifikasi berdasarkan bukti, menjaga informasi keluarga, serta tetap mempertahankan identitas dirinya.

Kisah Nabila dan Nadia yang bermula dari sebuah pesan di media sosial pada akhirnya tidak hanya mempertemukan dua saudara yang terpisah selama bertahun-tahun. Perjalanan tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah kisah pribadi dapat berkembang menjadi perhatian publik dan membuat seseorang belajar mengelola komunikasi serta reputasinya di ruang digital.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 08 18 At 17 23
Sosok

Kapolresta Gowa Muh Yusuf Usman Dorong 3K dan Perkuat Peran Media

18 Agustus 2026
Khjbhbhbh
Sosial & Politik

BBM Langka dan Harga Melambung, HMI KOMDAK Beri Ultimatum Pemerintah

12 September 2026

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi