Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Generasi Kritis atau Apatis? Peran Mahasiswa dalam Menyikapi Isu Kebangsaan dalam Perspektif Islam

Pataka Eja by Pataka Eja
7 Februari 2026
in Opini
0
Ousabdjkasyghjf

Potret Muh. Resky Ramadhan (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Alauddin Makassar)

Opini Oleh: Muh. Resky Ramadhan


Tulisan ini hadir dikarenakan keresahan saya sendiri melihat fenomena mahasiswa hari ini yang perlahan mulai menjauh dari isu-isu kebangsaan. Di tengah kesibukan akademik, organisasi, dan aktivitas pribadi, perhatian terhadap dinamika negara terasa semakin berkurang. Padahal, mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kekuatan moral bangsa.

Keresahan ini muncul karena tidak sedikit mahasiswa yang lebih memilih menjadi penonton daripada terlibat secara pemikiran. Isu nasional dianggap terlalu rumit atau bukan ranah mahasiswa. Akibatnya, diskusi-diskusi kritis di ruang kampus mulai kehilangan gaungnya.

Padahal, yang dimaksud dengan isu kebangsaan bukan hanya soal politik praktis atau perebutan kekuasaan. Isu kebangsaan mencakup kebijakan publik, sistem pendidikan, persoalan ekonomi, ketimpangan sosial, hingga regulasi yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Semua itu memiliki kaitan erat dengan masa depan generasi muda.

Sebagai contoh, ketika muncul kebijakan pemerintah yang menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, mahasiswa seharusnya tidak hanya ikut menyebarkan opini tanpa analisis. Kenaikan biaya pendidikan, perubahan regulasi, atau kebijakan ekonomi tertentu adalah bagian dari isu kebangsaan yang perlu dikaji secara kritis. Sikap diam atau sekadar mengikuti arus justru menunjukkan kurangnya kepedulian intelektual.

Lalu, mengapa mahasiswa harus peduli terhadap persoalan tersebut? Karena mahasiswa adalah kelompok terdidik yang memiliki kemampuan berpikir analitis dan akses terhadap berbagai sumber informasi. Jika mahasiswa memilih apatis, maka kontrol sosial terhadap kebijakan publik akan semakin lemah.

Dalam perspektif Islam, kepedulian terhadap persoalan sosial merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh. Manusia diciptakan bukan hanya untuk beribadah secara individual, tetapi juga menjaga tatanan kehidupan agar tetap adil dan seimbang. Islam tidak mengajarkan sikap masa bodoh terhadap ketimpangan.

Nilai amar ma’ruf nahi munkar juga menegaskan pentingnya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kritik terhadap kebijakan yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat dapat menjadi bagian dari implementasi nilai tersebut. Namun, kritik itu harus disampaikan dengan niat yang lurus dan tujuan perbaikan.

Islam mengajarkan bahwa cara menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan isi kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menjaga adab dalam berdiskusi dan menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan tidak boleh melahirkan perpecahan atau ujaran kebencian.

Lantas, siapa  yang bertanggung jawab atas kesadaran ini? Jawabannya adalah seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali. Setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai bagian dari kaum intelektual.

Terlebih bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan berbasis keislaman seperti Bimbingan dan Penyuluhan Islam. Kita tidak hanya belajar teori bimbingan, tetapi juga nilai empati, etika komunikasi, dan tanggung jawab sosial. Kesadaran terhadap isu kebangsaan menjadi bagian dari amanah keilmuan yang harus dijaga.

Kemudian, bagaimana  mahasiswa seharusnya menyikapi isu kebangsaan tersebut? Pertama, dengan meningkatkan literasi dan melakukan tabayyun sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Kedua, membangun budaya diskusi yang sehat dan berbasis data di lingkungan kampus. Ketiga, menyampaikan kritik secara santun, argumentatif, dan solutif agar dapat menjadi bagian dari perbaikan, bukan sekadar pelampiasan emosi.

Pada akhirnya, mahasiswa dihadapkan pada dua pilihan: menjadi generasi kritis yang peduli terhadap arah bangsa atau menjadi generasi apatis yang hanya mengikuti arus. Dalam perspektif Islam, kepedulian terhadap isu kebangsaan adalah bagian dari amanah dan tanggung jawab moral. 

Jika mahasiswa mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan nilai-nilai keislaman, maka kita tidak hanya menjadi insan akademik yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan membawa kebermanfaatan bagi bangsa dan umat.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20250922
Opini

Equilibrium Budaya dan Modernisasi

22 September 2025
76
Whatsapp Image 2026 01 20 At Ioh
Opini

Broken Strings: Grooming dan Kekerasan Sunyi dalam Bayang-Bayang Patriarki

20 Januari 2026
28
Whatsapp Image 2025 09 27 At 22 54
Opini

Dari Pengakuan ke Peran: Warisan 27 September 1950 dan Suara Indonesia di PBB Era Prabowo

28 September 2025
85
Whatsapp Image 2025 01 28 At 17 53 31 509b7237
Opini

Faksi dalam Organisasi : Pemisahan dan yang Mengancam Keutuhan

3 Februari 2025
141

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi