Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Broken Strings: Grooming dan Kekerasan Sunyi dalam Bayang-Bayang Patriarki

Pataka Eja by Pataka Eja
20 Januari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 01 20 At Ioh

Oleh: Elma Wahyuni


Kekerasan terhadap anak sering kali dibayangkan sebagai tindakan kasar yang kasatmata: pukulan, bentakan, atau pemaksaan fisik yang meninggalkan luka. Namun, Broken Strings justru mengajak pembaca menengok bentuk kekerasan yang jauh lebih sunyi, halus, dan kerap luput dari kewaspadaan publik (child grooming). Buku ini tidak sekadar mengisahkan relasi kuasa antara pelaku dan korban, tetapi juga membongkar bagaimana patriarki menyediakan ruang aman bagi kekerasan itu untuk tumbuh, bersembunyi, dan bahkan dianggap wajar.

Dalam Broken Strings, grooming digambarkan sebagai proses sistematis yang berjalan perlahan. Pelaku tidak hadir sebagai sosok monster yang mengancam, melainkan figur yang tampak peduli, melindungi, dan dipercaya. Anak-anak, terutama perempuan, ditempatkan dalam relasi timpang: secara usia, psikologis, dan sosial. Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan refleksi dari struktur sosial yang lebih besar. Ditambah lagi budaya patriarki yang sejak lama menormalisasi dominasi orang dewasa, khususnya laki-laki, atas tubuh dan pilihan anak.

Patriarki bekerja melalui relasi kuasa yang tidak seimbang. Dalam sistem ini, suara anak kerap dianggap tidak penting, emosi mereka diremehkan, dan pengalaman tubuh mereka tidak dipercaya sepenuhnya. Broken Strings menunjukkan bagaimana pelaku grooming memanfaatkan budaya diam dan kepatuhan yang dilekatkan pada anak. Anak diajarkan untuk patuh pada orang dewasa, tidak membantah figur otoritas, dan menjaga “nama baik” keluarga. Nilai-nilai ini, yang sering dibungkus sebagai moralitas, justru menjadi alat yang efektif untuk membungkam korban.

Lebih jauh, buku ini menyingkap bagaimana patriarki membentuk cara masyarakat memahami kekerasan seksual. Kekerasan baru dianggap sah ketika terjadi secara brutal dan meninggalkan bukti fisik. Sementara itu, kekerasan berbasis relasi emosional seperti manipulasi, bujuk rayu, dan penciptaan ketergantungan kerap tidak diakui sebagai kekerasan. Dalam logika patriarki, selama tidak ada perlawanan eksplisit, maka tidak ada kekerasan. Padahal, Broken Strings dengan tegas menunjukkan bahwa persetujuan dalam relasi timpang adalah ilusi.

Perempuan dan anak perempuan dalam buku ini digambarkan sebagai pihak yang paling rentan. Bukan karena kelemahan kodrati, melainkan karena posisi sosial mereka dalam sistem patriarki. Tubuh perempuan sejak awal dikonstruksi sebagai objek yang dapat diawasi, dinilai, dan dikontrol. Dalam konteks grooming, kontrol ini hadir melalui bahasa kasih sayang yang manipulatif. Pelaku memposisikan diri sebagai penyelamat, mentor, atau figur pengganti yang “memahami”, sementara korban perlahan kehilangan batas atas tubuh dan kehendaknya sendiri.

Broken Strings juga mengkritik keras institusi sosial yang seharusnya melindungi anak, tetapi justru kerap mereproduksi logika patriarki. Keluarga, sekolah, dan komunitas seringkali lebih sibuk menjaga reputasi daripada mendengarkan suara korban. Ketika anak berani bersuara, pertanyaan yang muncul bukan “apa yang dilakukan pelaku?”, melainkan “mengapa kamu tidak menolak?” atau “mengapa kamu tidak melapor sejak awal?”. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bagaimana patriarki memindahkan beban tanggung jawab dari pelaku kepada korban.

Dalam konteks Indonesia, narasi dalam Broken Strings terasa sangat relevan. Banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak terungkap justru dilakukan oleh orang terdekat: guru, tokoh agama, pelatih, atau anggota keluarga. Posisi sosial mereka yang dihormati membuat kesaksian anak diragukan. Budaya feodal dan patriarkal memperkuat anggapan bahwa figur otoritas tidak mungkin berbuat salah. Akibatnya, korban kembali mengalami kekerasan dalam bentuk pengabaian dan penyangkalan.

Melalui Broken Strings, pembaca diajak untuk melihat bahwa grooming bukanlah penyimpangan individu semata, melainkan produk dari sistem yang timpang. Selama patriarki masih menempatkan anak sebagai objek kepemilikan dan perempuan sebagai pihak yang harus diam, kekerasan semacam ini akan terus berulang. Buku ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dengan hukum dan sanksi, tetapi membutuhkan pembongkaran nilai-nilai sosial yang selama ini kita anggap normal.

Pada akhirnya, Broken Strings bukan sekadar kisah tentang anak yang kehilangan kepolosannya, tetapi tentang masyarakat yang gagal melindungi mereka. Buku ini menantang kita untuk berani mengkritik patriarki dalam ruang paling intim: keluarga, pendidikan, dan relasi sehari-hari. Sebab, selama senar-senar kekuasaan itu masih dipegang oleh segelintir pihak, selalu ada anak yang tumbuh dalam diam, membawa luka yang tak pernah benar-benar diakui.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251124
Opini

Dari Kelisanan ke Layar: Tantangan Komunikasi di Era Digital

25 November 2025
188
Whatsapp Image 2025 10 14 At 18 27
Opini

Pedoman menjadi Junior yang Tidak Dungu

14 Oktober 2025
398
Whatsapp Image 2025 09 06 At 23 12
Opini

Kita Tak Berhak Membenci Seekor Anjing

6 Juli 2024
219
Hasil Template Brave Pink Hero Green Yang Tengah Viral Rtxq Large
Opini

Brave Pink: apakah sekedar fomo-fomo belaka?

4 September 2025
103

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi