Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Sosial & Politik

Dosen UIN Alauddin Sindir PLN soal Pemadaman di Makassar: “Sekali Padam, Durasinya Tidak Sopan—4 Jam!”

Pataka Eja by Pataka Eja
30 Oktober 2026
in Sosial & Politik
0
1222 Pln Apa Kabar Kok Mati Lampu Di Musim Kemarau

Sumber: uin-alauddin.ac.id

Gowa, Pataka Eja — Cuaca panas Kota Makassar belakangan terasa seperti berada di dalam oven raksasa. Namun, penderitaan warga tidak berhenti pada sengatan matahari. Ketika listrik ikut padam, kipas angin pensiun mendadak, AC mogok, sementara kulkas terancam kehilangan fungsinya.

Kondisi tersebut menjadi sorotan Dr. H. Suf Kasman, S.Ag., M.Ag., M.H., M.Pd., C.A.H., akademisi sekaligus dosen UIN Alauddin Makassar. Melalui tulisan opini bernuansa satire berjudul “PLN Apa Kabar? Kok, Mati Lampu di Musim Kemarau” yang dipublikasikan di laman resmi UIN Alauddin Makassar, ia menyindir pemadaman listrik yang disebutnya berlangsung hingga empat jam.

Dengan gaya humor khas Makassar, Suf Kasman menggambarkan situasi warga yang harus menghadapi panas terik tanpa dukungan perangkat elektronik.

“Makassar sedang dijemur hidup-hidup,” tulisnya mengawali opini tersebut.

Ia mengibaratkan aspal jalanan seperti wajan penggorengan tanpa minyak. Dalam kondisi cuaca yang panas, kipas angin dan pendingin ruangan menjadi perangkat yang paling diandalkan masyarakat.

Namun, ketika listrik tiba-tiba padam, suasana rumah berubah seperti tempat mandi uap gratis.

Suf Kasman menyebut pemadaman listrik yang berlangsung hingga empat jam sebagai durasi yang tidak sopan. Kondisi itu dinilai dapat melumpuhkan aktivitas, mengganggu penggunaan perangkat elektronik, hingga mengancam makanan yang tersimpan di dalam kulkas.

Ia juga mempertanyakan alasan pemadaman yang terjadi ketika cuaca sedang cerah.

“Kalau musim hujan alasannya cuaca ekstrim, kalau musim kemarau alasannya apa? Halo PLN, apa kabar? Kami di sini sudah matang hampir jadi ikan bakar!” sindirnya.

Tidak hanya menggambarkan keresahan warga di rumah, Suf Kasman turut menceritakan pengalaman pribadinya ketika makan di Warung Pangkep Sop Saudara.

Saat makanan telah tersaji dan selera makan sedang berada di puncak, listrik mendadak padam. Suasana restoran yang semula nyaman seketika berubah gelap gulita.

Dalam kondisi tersebut, ia bahkan mengaku kesulitan membedakan bagian kepala dan ekor ikan bandeng yang sedang disantapnya.

Pemilik restoran kemudian berinisiatif menyalakan mobil Toyota Avanza dan mengarahkan sorot lampunya ke meja pelanggan.

Alih-alih merasa nyaman, Suf Kasman justru menggambarkan suasana itu seperti sedang menjalani pemeriksaan polisi.

“Wajah kami disorot lampu halogen super terang, pori-pori ikan kelihatan jelas, jerawat di jidat ikut tersorot,” tulisnya.

Ia bahkan berkelakar bahwa dirinya datang untuk makan, bukan menjalani pemeriksaan berita acara pemeriksaan (BAP).

Gangguan listrik juga merembet hingga proses pembayaran. Ketika kasir hendak menerima pembayaran melalui QRIS, transaksi terkendala karena listrik padam. Uang tunai yang dibawanya pun tidak mencukupi.

Namun, kejadian itu justru berakhir dengan cerita yang mengundang tawa. Kasir mempersilakannya membayar sejumlah uang yang tersedia.

“Ya Allah, matikanlah lampu restoran ini sebentar. Lumayan, diskon lagi,” tulisnya sembari berseloroh.

Pengalaman tersebut belum berakhir. Saat hendak meninggalkan restoran, ia sempat curiga melihat seorang pria tanpa baju mendekatinya dalam kegelapan. Belakangan diketahui pria tersebut merupakan tukang parkir yang sedang menagih uang parkir.

Suf Kasman menggambarkan kejadian itu sebagai dua kemenangan dalam gelap-gelapan: makan mendapat keringanan pembayaran dan uang parkir yang diberikan ternyata tidak perlu dikembalikan karena tukang parkir tidak memiliki uang kecil.

Di balik rangkaian cerita jenaka tersebut, Suf Kasman menyampaikan kritik yang lebih serius mengenai komunikasi dan tanggung jawab pelayanan PLN.

Ia menegaskan masyarakat tidak menuntut pasokan listrik menyala sepanjang waktu tanpa gangguan. Sebab, gangguan teknis merupakan sesuatu yang mungkin terjadi dalam sistem kelistrikan.

Namun, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas ketika pemadaman dilakukan, baik yang sudah direncanakan maupun akibat gangguan mendadak.

“Kalau memang mau padam terencana, tolong umumkan dulu. Kalau gangguan mendadak, tolong jelaskan cepat. Kasih tahu jam berapa padam, jam berapa nyala,” tulisnya.

Menurutnya, pemberitahuan tersebut penting agar masyarakat dapat mempersiapkan diri. Pemilik warung bisa menyiapkan penerangan alternatif, pedagang dapat mengatur aktivitas jualan, sementara warga bisa mengisi daya telepon genggam sebelum listrik padam.

Ia mengingatkan bahwa komunikasi merupakan bagian dari pelayanan. Jangan sampai masyarakat dibiarkan menebak-nebak penyebab dan waktu pemulihan listrik tanpa memperoleh penjelasan yang memadai.

“Kalau lampu padam dan info juga ikut padam, prasangka warga nyalanya lebih cepat dari lampu darurat,” sindirnya.

Tulisan tersebut kemudian ditutup dengan refleksi religius melalui bagian bertajuk Renungan Barzakh. Suf Kasman membandingkan kepanikan manusia ketika menghadapi gelapnya dunia selama empat jam dengan kehidupan di alam kubur yang tidak memiliki penerangan listrik maupun genset.

Di akhir tulisannya, ia mengingatkan bahwa cahaya yang menerangi alam kubur bukan berasal dari token listrik, melainkan dari salat dan amal saleh.

Di balik satire tentang Makassar yang kepanasan, ikan bandeng yang nyaris tertukar, hingga tukang parkir dalam kegelapan, pesan yang ingin disampaikan Suf Kasman cukup sederhana: masyarakat membutuhkan pelayanan listrik yang lebih baik, terutama keterbukaan informasi ketika pemadaman terjadi.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 07 05 At 19 07
Sosial & Politik

HIPMA Gowa Komisariat UIN Alauddin Makassar: Kepentingan Rakyat Harus Di Atas Kepentingan Segelintir Elite

5 Juli 2026
Ugujgjgjg
Ragam

Kalimantan Selatan Jadi Tuan Rumah Muktamar IMM, Karhutla Membara, IMM Merana

18 Oktober 2026

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi