Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Dokumenter Jagal dan Senyap: Dari Kesombongan Para Jagal hingga Keheningan Keluarga Korban Pasca-G30S

Pataka Eja by Pataka Eja
30 September 2026
in Resensi
0
Whatsapp Image 2026 09 30 At 18 50

Peresensi: Dito

Judul: The Act of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap)
Sutradara: Joshua Oppenheimer
Tahun rilis: 2012 dan 2014
Genre: Dokumenter

“Komunis itu kejam. Komunis itu semacam tidak memiliki Tuhan. Para pemberontak G30S/PKI untuk melakukan perubahan sistem melakukan penculikan terhadap Dewan Jenderal.”

Kalimat itu keluar dari mulut seorang guru sekolah dasar dalam The Look of Silence (Senyap), film dokumenter karya Joshua Oppenheimer.

Di hadapan murid-muridnya yang masih mengenakan seragam merah putih, sang guru menyampaikan sebuah versi sejarah tentang peristiwa 1965: komunisme sebagai ancaman, G30S sebagai gerakan pemberontakan, dan PKI sebagai kekuatan yang berada di balik penculikan serta pembunuhan sejumlah jenderal.

Adegan tersebut berlangsung sederhana. Tidak ada ruang kelas yang megah, tidak ada pidato politik, dan tidak ada perdebatan. Hanya seorang guru yang berbicara kepada anak-anak.

Namun justru di situlah adegan tersebut terasa penting.

Apa yang disampaikan di dalam ruang kelas bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia menunjukkan bagaimana sebuah ingatan sejarah dapat diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir ketika peristiwa tersebut terjadi.

The Look of Silence kemudian membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana dengan cerita dari orang-orang yang berada di sisi lain dari narasi tersebut? Bagaimana dengan keluarga mereka yang dibunuh, ditahan, disingkirkan, atau hidup puluhan tahun dalam ketakutan?

Pertanyaan itu membawa kita kepada dua film dokumenter Oppenheimer yang saling berkelindan: The Act of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap).

Keduanya berbicara mengenai kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia pada 1965–1966, tetapi melalui dua pintu yang berbeda. Jagal membawa penonton mendekati para pelaku pembunuhan. Senyap membawa penonton mendekati keluarga korban.

Dari sanalah dua film ini menjadi lebih dari sekadar dokumenter tentang masa lalu. Keduanya menjadi upaya untuk melihat bagaimana kekerasan, ingatan, ketakutan, dan diam terus hidup setelah pembunuhan berhenti.

Peristiwa G30S selama puluhan tahun dikenal publik Indonesia terutama melalui narasi resmi Orde Baru. PKI ditempatkan sebagai dalang tunggal yang bertanggung jawab atas gerakan tersebut, sementara pembunuhan terhadap enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat menjadi bagian sentral dari narasi tersebut.

Setelah itu terjadi rangkaian peristiwa yang jauh lebih luas.

PKI dilarang, Presiden Sukarno kehilangan kekuasaan secara bertahap, dan Soeharto kemudian menjadi presiden. Pada saat yang sama, terjadi penangkapan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan PKI.

Perdebatan mengenai siapa yang paling bertanggung jawab atas G30S tidak pernah sepenuhnya selesai.

Namun Jagal dan Senyap memilih untuk menggeser pusat perhatian dari pertanyaan mengenai siapa dalang G30S menuju pertanyaan mengenai apa yang terjadi terhadap manusia setelahnya. Perubahan fokus tersebut merupakan salah satu kekuatan terbesar kedua film.

Oppenheimer tidak memulai ceritanya dengan kronologi panjang mengenai G30S. Ia justru memperlihatkan manusia yang hidup di dalam bayang-bayang peristiwa tersebut.

Jagal: Ketika Para Pelaku Menjadi Pemeran

The Act of Killing dirilis pada 2012 dan berpusat pada sejumlah mantan pelaku pembunuhan di Sumatera Utara, terutama Anwar Congo.

Yang membuat film ini berbeda adalah cara Oppenheimer bekerja dengan para pelaku. Mereka tidak hanya diminta menceritakan apa yang pernah dilakukan.

Mereka diberi kebebasan untuk merekonstruksi kembali pembunuhan tersebut dalam bentuk film yang mereka pilih sendiri.

Para pelaku menggunakan gaya film gangster, koboi, bahkan musikal untuk menggambarkan kembali masa lalu. Kekerasan yang pernah menghilangkan nyawa manusia justru ditempatkan di atas panggung pertunjukan.

Kamera Oppenheimer kemudian membiarkan mereka berbicara.

Mereka tertawa. Mereka membanggakan masa lalu. Mereka menceritakan metode pembunuhan. Mereka mengenang bagaimana orang-orang yang dituduh komunis dihabisi.

Tidak ada narator yang terus-menerus mengatakan kepada penonton apa yang harus dipikirkan. Justru karena itulah film ini terasa mengganggu.

Penonton dipaksa melihat bagaimana para pelaku membangun cerita tentang diri mereka sendiri. Kekerasan tidak hanya menjadi tindakan fisik, tetapi juga menjadi sesuatu yang dapat diceritakan sebagai kepahlawanan.

Di titik tertentu, konstruksi tersebut mulai retak. Anwar Congo, yang sejak awal tampak percaya diri ketika menceritakan masa lalunya, perlahan berhadapan dengan kembaliannya sendiri. Apa yang sebelumnya terlihat seperti kebanggaan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dihadapi.

Jagal dengan demikian tidak sekadar memperlihatkan pembunuhan. Film ini memperlihatkan bagaimana manusia berusaha hidup dengan apa yang pernah dilakukannya.

Senyap: Ketika Korban Berusaha Mendapatkan Jawaban

Jika Jagal membawa kita masuk ke dunia para pelaku, Senyap membawa kita ke ‘rumah duka’ keluarga korban.

Tokoh utamanya adalah Adi Rukun, seorang optometris dan adik Ramli, korban pembunuhan pada 1965. Melalui rekaman yang dibuat Oppenheimer, Adi mengetahui bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa saja yang terlibat.

Adi kemudian melakukan sesuatu yang dalam konteks film terasa sangat berani: ia menemui orang-orang yang dikaitkan dengan pembunuhan kakaknya.

Ia tidak datang membawa senjata. Ia membawa alat pemeriksa mata.

Sebagai seorang optometris, Adi memeriksa penglihatan orang-orang yang kemudian ia hadapkan dengan cerita tentang masa lalu mereka. Ia bertanya tentang pembunuhan Ramli. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi kepada kakaknya.

Pertemuan-pertemuan itu menjadi inti emosional Senyap.

Jika Jagal dipenuhi suara, Senyap justru banyak bekerja melalui keheningan, tatapan mata, jeda dalam percakapan, ekspresi wajah, dan kalimat yang berhenti di tengah, semua menjadi bahasa film.

Senyap sebagai pendamping The Act of Killing yang mengeksplorasi pengalaman penyintas dan bagaimana keluarga korban hidup dalam suasana diam dan takut.

Karena itu, keheningan dalam film bukan sekadar tidak adanya suara. Ia adalah akibat dari sebuah sejarah yang belum selesai dibicarakan.

Dua Film, Dua Sisi dari Luka yang Sama

Di sinilah Jagal dan Senyap menjadi menarik ketika dibaca secara bersamaan.

Jagal bertanya: bagaimana para pelaku mengingat pembunuhan? Senyap bertanya: bagaimana keluarga korban hidup setelah pembunuhan itu?

Film pertama membawa kita kepada orang-orang yang melakukan kekerasan. Film kedua membawa kita kepada orang-orang yang kehilangan.

Jagal memperlihatkan kesombongan, tawa, dan pertunjukan para pelaku. Senyap memperlihatkan tatapan, ketakutan, dan keheningan keluarga korban.

Kontras tersebut membuat kedua film terasa seperti dua sisi cermin.

Yang satu memperlihatkan bagaimana pelaku mengonstruksi masa lalu. Yang lain memperlihatkan bagaimana masa lalu tersebut diwariskan kepada keluarga korban.

Kekuatan terbesar Oppenheimer bukan terletak pada kemampuannya memberikan penjelasan sejarah yang panjang. Ia justru kuat ketika membiarkan subjek film berbicara dan membiarkan kamera menangkap kontradiksi mereka.

Dalam Jagal, para pelaku diberi ruang yang sangat luas. Mereka bahkan ikut menentukan bagaimana masa lalu mereka divisualisasikan.

Dalam Senyap, pendekatan tersebut berubah. Kamera lebih dekat dengan Adi dan keluarganya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana menjadi sangat berat karena jawaban yang muncul berkaitan dengan kematian seorang manusia.

Oppenheimer sendiri menyebut Senyap sebagai eksplorasi tentang pengalaman menjadi penyintas dalam realitas yang dibentuk oleh teror dan kebungkaman.

Karena itu, kedua film tidak bekerja seperti dokumenter sejarah konvensional. Tidak ada upaya untuk membuat seluruh persoalan 1965 selesai dalam durasi film.

Sebaliknya, penonton justru dibiarkan berada di tengah persoalan.

Bukan Sekadar Tentang 1965

Hal yang membuat Jagal dan Senyap tetap relevan bukan semata-mata karena keduanya berbicara tentang peristiwa lebih dari setengah abad lalu.

Keduanya berbicara tentang ingatan. Tentang bagaimana sebuah negara menceritakan sejarah kepada anak-anaknya.

Tentang bagaimana keluarga korban membawa kehilangan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentang bagaimana pelaku mengingat perbuatannya.

Dan tentang bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kekerasan masa lalu.

Dalam Senyap, adegan seorang guru yang mengajarkan narasi tentang komunisme kepada anak-anak menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai persoalan tersebut. Sebab sejarah ternyata tidak berhenti di masa lalu. Ia dapat masuk ke ruang kelas, masuk ke dalam ingatan anak-anak, dan kemudian diwariskan kembali.

Di sisi lain, Jagal memperlihatkan bahwa masa lalu juga dapat diwariskan melalui kebanggaan para pelaku terhadap apa yang pernah mereka lakukan.

The Act of Killing dan The Look of Silence adalah dua dokumenter yang berbeda cara bertutur, tetapi saling melengkapi.

Jagal membawa penonton ke panggung tempat para pelaku merekonstruksi pembunuhan dan menceritakan masa lalu dengan versi mereka sendiri.

Senyap membawa penonton ke sisi keluarga korban, tempat kehilangan dan ketakutan masih membekas dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kesombongan para jagal hingga keheningan korban, kedua film ini menunjukkan bahwa kekerasan tidak berakhir ketika pembunuhan berhenti. Ia dapat bertahan dalam ingatan, dalam cerita keluarga, dalam ruang kelas, bahkan dalam cara sebuah masyarakat memahami sejarahnya sendiri.

Oppenheimer tidak memberikan penonton jalan keluar yang mudah. Ia hanya membuka pintu.

Di balik pintu itu ada para pelaku yang berbicara, keluarga korban yang mengingat, dan sebuah sejarah yang selama puluhan tahun terus diperdebatkan.

Dan setelah menonton Jagal serta Senyap, pertanyaan yang tersisa bukan hanya apa yang terjadi pada 1965, tetapi juga:

Apa yang kita lakukan terhadap ingatan tentang apa yang terjadi setelahnya?

Peresensi: Dito

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 09 30 At 23 35 51 0920ac8c
Resensi

Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

6 Oktober 2024
Whatsapp Image 2026 08 29 At 22 07
Resensi

Kuasa, Pengetahuan dan Konstruksi Kebenaran : Membaca Buku Imperium III dalam Konteks Indonesia Kontemporer

29 Agustus 2026

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi