Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Buku jadi Alat Bukti: Pameran Kebodohan Polisi!

Renaldy Pratama by Renaldy Pratama
20 September 2025
in Opini
0
68c94a5ddae18

Oleh; Ditootid

Sial, kita tak hanya memiliki institusi kepolisian yang gemar memamerkan kekerasan dalam menangani aksi massa. Ternyata, mereka juga gemar memamerkan kebodohan!

Berhari-hari saya menahan diri, lebih memilih menghindari informasi-informasi mengenai polisi yang menjadikan buku sebagai alat bukti orang melakukan pidana. Sebab, menurut keyakinan saya tindakan ini adalah kebodohan yang terus saja berulang.

Orang-orang yang dituduh sebagai pelaku anarkis hingga penghasut pada aksi demonstrasi besar di berbagai wilayah di penghujung Agustus lalu, ditangkap polisi. Pengembangan dilakukan polisi, buku-buku bacaan pun turut disita sebagai barang bukti. Lalu, mengapa buku disita?

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, berdasarkan penyelidikan penyidik kepolisian buku dianggap berkaitan dengan tindak pidana pelaku.

Sungguh keterangan yang penuh kegelapan dari divisi kepolisian yang seharusnya memberikan penerangan bagi masyarakat. Sungguh mati saya mencoba memahami buku sebagai alat bukti pidana. Semakin saya coba memahami, semakin saya dibuat marah oleh pola pikir dan tindakan institusi berseragam coklat ini.

Keterangan tak kalah gelapnya disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra. Menurut beliau, tindakan anarkis mereka terinspirasi dari pahaman-pahaman yang ada di dalam buku.

Pikiran polisi tak sepenuhnya salah. Bacaan seseorang banyak mempengaruhi pola pikir dan seseorang, termasuk dalam melihat dinamika sosial dan ketidakadilan yang terus terjadi di negeri ini.

Tapi, apakah semua yang mempengaruhi cara pandang dan tindakan terduga pelaku harus ikut disita oleh polisi? Bagaimana jika, sejak kecil orang tua mereka mengajarkan senantiasa melawan segala bentuk ketidakadilan, apakah juga akan turut disita polisi?

Lalu, guru/dosen mereka yang mengajarkan bagaimana negara seharusnya dikelola tapi kenyataannya justru berbanding terbalik, apakah juga akan turut disita polisi?

Jika buku dinilai jadi inspirasi orang melakukan tindak pidana, mengapa para pejabat negara tidak turut ditangkap polisi? Toh, tindakan dan kebijakan para pejabat negara ini yang menginspirasi masyarakat berdemonstrasi.

Disini saya sama sekali, tidak membela tindak pidana. Bagaimanapun, tindak pidana tidak bisa dibenarkan, tentu dengan Batasan yang jelas. Pelaku pidana beda dengan kriminalisasi

Tapi, menjadikan buku sebagai alat bukti pidana sungguh tidak masuk akal, tindakan bodoh. Ide adalah ide, buku adalah buku, ia buka bom,bukan senjata api, ia tidak berbahaya.

Di tengah ironi minat baca rendah, polisi justru menyita buku, melabelinya berbahaya, sebagai alat bukti pidana.

Dari disini kita belajar bahwa polisi tak hanya merepresi kita secara fisik. Jika Pramoedya Ananta Toer berkata “Adil sejak Dalam Pikiran”, tapi bagi polisi ” Represif Sejak Dalam Pikiran”.

Pameran kebodohan polisi ini kian membenarkan pendapat yang sering kali kita lihat di sosial media soal buku dan polisi, “Rajin Baca jadi Pintar, Malas Baca jadi Polisi!”

Untuk abang-abang polisi, tolong berhentilah jadi bodoh dengan terus menerus menyita buku.

Pada tulisan selanjutnya saya akan mencoba menulis bahwa gagasan kebangsaan terilhami dari buku, dan gerakan mencapai kemerdekaan digerakan oleh para pembaca buku. Semoga abang-abang berbaju coklat ini sudi membacanya.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Hasil Template Brave Pink Hero Green Yang Tengah Viral Rtxq Large
Opini

Brave Pink: apakah sekedar fomo-fomo belaka?

4 September 2025
101
Img 20260302 Wa0005
Opini

Evaluasi Yuridis: Desakan Konstitusional untuk Keluar dari Board of Peace

2 Maret 2026
45
Screenshot 2025 05 01
Opini

PENCINTA ALAM : MENELAAH PERTENTANGAN KELAS DAN SEBUAH SIKAP KEBERPIHAKAN

1 Mei 2025
641
Img 20250830 Wa0048
Opini

Duka yang Membakar Perjuangan: Suara Rakyat Tidak Boleh Padam

30 Agustus 2025
168

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi