Oleh: Rezky Triananda Sofyan
Di antara banyaknya lingkaran pertemanan, sering kali candaan dianggap sebagai bumbu pelengkap yang mampu menghidupkan suasana. Tawa di meja tongkrongan atau grup chat adalah tanda kedekatan seseorang. Di sana, obrolan mengalir tanpa beban, cerita-cerita receh dipertukarkan, dan lelucon menjadi perekat yang membuat hubungan terasa hangat. Sayangnya, tidak semua candaan lahir dari niat yang ringan dan sehat. Bahkan tanpa disadari, sering kali candaan mengandung bias, merendahkan, dan perlahan menormalisasikan pelecehan dalam unsur candaan tersebut.
Pada awalnya, semua terasa biasa. Satu kalimat dilempar, disambut tawa, lalu disusul candaan lain yang lebih berani. Semakin akrab suatu pertemanan, semakin tipis pula batas yang dianggap “aman” untuk dilanggar. Kerap kali, candaan tersebut dibungkus dengan alasan klasik: “Cuma bercanda.” Kalimat ini seolah menjadi tameng untuk menghindari kritik dan konflik muncul. Ia diucapkan dengan santai, seakan-akan cukup untuk menghapus dampak dari kata-kata yang telah dilontarkan. Padahal nyatanya, tidak semua hal bisa dianggap sekadar lelucon semata.
Candaan yang menyinggung tubuh perempuan, meremehkan laki-laki yang dianggap tidak “maskulin”, atau menggunakan konsep stereotip gender, bukan hanya sekadar humor melainkan bentuk komunikasi yang membentuk cara berpikir. Bahasa tidak pernah netral. Ia membawa nilai, perspektif, dan cara pandang tertentu. Ketika stereotip terus diulang dalam bentuk lelucon, lama-kelamaan ia tidak lagi terasa sebagai stereotip, melainkan dianggap sebagai kebenaran yang lumrah. Inilah yang sering tidak disadari: humor bisa menjadi medium paling halus untuk menanamkan bias.
Masalahnya, candaan seksis sering kali dianggap sebagai perilaku wajar karena dilakukan di lingkup pertemanan. Lingkaran pertemanan dianggap sebagai ruang paling aman untuk berkata apa saja. Ketika semua orang tertawa, orang yang tersinggung akan dianggap sensitif atau memiliki selera humor yang tidak sama. Label “terlalu baper” atau “tidak asyik” dengan mudah dilekatkan kepada mereka yang berani mempertanyakan candaan tersebut. Akibatnya, banyak orang memilih diam daripada dianggap merusak suasana. Diam menjadi pilihan paling aman, meski di dalam hati ada rasa tidak nyaman yang mengendap.
Di sinilah pembiaran terjadi. Orang-orang menormalisasikan hal tersebut dan menciptakan situasi: ketika sesuatu yang seharusnya dikritisi justru diterima sebagai bagian dan kebiasaan. Pembiaran kecil yang berulang akan membentuk budaya. Candaan yang awalnya terasa mengganggu, lama-kelamaan dianggap biasa karena terus diulang tanpa ada yang menyanggah. Ruang pertemanan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bersama, justru berubah menjadi ruang yang memelihara bias secara kolektif.
Candaan yang terus berulang ini akhirnya akan membentuk persepsi baru. Misalnya, candaan yang menempatkan salah satu jenis kelamin sebagai objek atau bahkan merendahkan. Yang awalnya hanya sekadar “jokes tongkrongan” bisa membentuk karakter dan sikap yang merugikan di kehidupan nyata. Seseorang yang terbiasa menertawakan tubuh perempuan dalam lingkaran pertemanan, mungkin tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan komentar serupa di ruang publik. Seseorang yang terus-menerus mendengar bahwa laki-laki tidak boleh menangis karena dianggap lemah, bisa tumbuh dengan beban maskulinitas yang kaku dan tidak sehat.
Semua orang perlu untuk paham bahwa humor yang sehat adalah yang tidak merendahkan dan merugikan kelompok tertentu. Candaan yang baik adalah candaan yang mampu membuat semua orang tertawa, bukan membuat segelintir orang merasa tidak dihargai. Tawa seharusnya menjadi ekspresi kebahagiaan bersama, bukan alat untuk menegaskan siapa yang lebih kuat dan siapa yang bisa dijadikan bahan lelucon. Seharusnya tawa dalam pertemanan dibangun tanpa melepaskan rasa saling menghormati, bukan saling menertawakan identitas atau pengalaman orang lain.
Perlu disadari pula bahwa mengkritik candaan seksis bukan berarti anti-humor atau terlalu serius. Opini ini ditulis bukan karena penulis menjadi anti-humor atau terlalu serius, begitu juga dengan orang-orang yang kerap mengkritik candaan seksis. Justru hal ini menjadi upaya untuk menciptakan ruang pertemanan yang lebih aman dan setara karena tidak semua hal lucu layak untuk ditertawakan. Ada batas tipis antara humor dan penghinaan, dan batas itu sering kali ditentukan oleh empati.
Humor yang cerdas tidak membutuhkan objek yang direndahkan. Ia bisa lahir dari absurditas situasi, dari ironi kehidupan, atau dari refleksi diri sendiri. Bahkan, candaan yang paling mengena sering kali adalah candaan yang membuat kita menertawakan kekurangan kita sendiri, bukan kekurangan orang lain. Di sanalah letak kedewasaan dalam berhumor: mampu tertawa tanpa harus melukai.
Sudah saatnya untuk kita bertanya, “Apakah candaan yang kita lontarkan benar-benar untuk mempererat suatu hubungan pertemanan atau malah membentuk stereotip yang merugikan?” Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan kejujuran. Sebab, di balik tawa yang terdengar, bisa saja ada rasa ketidaknyamanan yang dipendam. Tidak semua orang berani menyuarakan keberatannya, dan tidak semua ketidaknyamanan terlihat di permukaan.
Normalisasi selalu berasal dari pembiaran tanpa refleksi. Ketika kita memilih diam terhadap candaan yang merendahkan, kita ikut menyumbang pada budaya yang sama. Sebaliknya, ketika kita mulai berani mengingatkan dengan cara yang baik, kita sedang merawat pertemanan agar tetap sehat. Karena pada akhirnya, pertemanan yang kuat bukanlah yang bebas berkata apa saja tanpa batas, melainkan yang mampu saling menjaga tanpa harus kehilangan tawa.
Tawa memang penting dalam pertemanan. Namun, lebih penting lagi memastikan bahwa tawa itu tidak lahir dari rasa sakit yang disembunyikan. Sebab pertemanan yang sejati bukan tentang siapa yang paling lucu, melainkan siapa yang paling mampu menghargai.




