Pataka Eja — Gelombang suara mahasiswa kembali menggema. Aliansi Mahasiswa Sains dan Teknologi menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Reset Indonesia” pada Rabu (4/3/2026).
Aksi ini diinisiasi oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar sebagai bentuk respons terhadap berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Dengan membawa semangat perubahan, mahasiswa merumuskan tuntutan mereka dalam “Grand Isu: Reset Indonesia”. Isu pendidikan menjadi sorotan utama. Massa aksi mendesak pemerataan fasilitas pendidikan, realisasi pendidikan gratis, pengembalian anggaran pendidikan sesuai porsinya, serta peningkatan kesejahteraan guru honorer yang selama ini dinilai belum mendapatkan perhatian layak.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menyinggung kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka anggap perlu dikaji ulang secara transparan dan menyeluruh. Massa aksi juga turut menyerukan reformasi institusi kepolisian, penghentian kriminalisasi terhadap aktivis, serta evaluasi terhadap kinerja Kapolda Sulawesi Selatan.
Seruan agar aparat kepolisian benar-benar menjalankan fungsi melayani, mengayomi, dan melindungi masyarakat disampaikan dengan tegas. Kritik terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi bagian penting dari rangkaian tuntutan, yang menurut mahasiswa harus dikelola secara lebih akuntabel dan berorientasi pada kesejahteraan publik.
Melalui aksi ini, Aliansi Mahasiswa SAINTEK menegaskan komitmen mereka untuk terus mengawal kebijakan publik. Bagi mereka, demonstrasi bukan sekadar turun ke jalan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa sebagai agen kontrol sosial dalam mengkritisi arah kebijakan negara.
Aksi ditutup dengan seruan solidaritas dan penegasan komitmen untuk terus mengawal tuntutan hingga mendapat respons konkret dari pihak terkait.




