Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Kontronim Terhadap Normalisasi

Pataka Eja by Pataka Eja
13 Oktober 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 10 14 At 00 05 01

Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama

Normalisasi adalah proses atau bentuk tindakan seseorang maupun kelompok dalam merekonstruksi kepercayaan, nilai, maupun kebiasaan terhadap suatu objek serta kerap menanamkan standarisasi yang baru sebagai pijakan terhadap berbagai wujud aktivitas baik secara personal (pribadi) maupun sosial (ekologi

Dari segi probabilitas, normalisasi memiliki 2 wujud konsekuensi yang amat jauh berbeda. Pertama, dengan menjadikan seseorang atau ekologi sebagai objek standar akan berpotensi mendorong seseorang untuk memiliki apa yang dimiliki suatu objek, serta mengantarkan kepada perkembangan dan kemajuan bahkan mencapai kulminasi.

Bayangkan, jika seseorang terobsesi pada suatu objek yang memiliki kompetensi dan kualitas yang baik, secara tidak langsung pola dan rutinitas seseorang yang terobsesi akan mencoba untuk mengikuti perilaku objek dan secara sadar atau tidak, proses normalisasi terhadap rutinitas objek juga mulai ter-aplikasi kepada subjek.

Sebagaimana seseorang yang terobsesi pada Atlet Renang akan berupaya untuk mengatur aktivitas hariannya seperti sang idola, baik dari segi apa yang dikonsumsi, ditekuni dan yang dihindari, sehingga proses tersebut membawa perubahan yang signifikan terhadap perkembangan subjek yang terobsesi sebelumnya, maka tidak jarang subjek yang menormalisasi objek telah berhasil menyamai atau melebihi sang objek.

Selain obsesi personal, lingkungan juga dapat melahirkan perilaku normalisasi bagi suatu subjek sebagaimana yang dinyatakan oleh Pierre Bourdieu mengenai “Habitus”. Bahwa praktik adalah hasil persilangan antara Kebiasaan dan modal seseorang yang bertemu dan bertarung pada Lingkungan atau disebut sebagai Ranah atau Arena, sehingga tidak menutup kemungkinan normalisasi juga lahir dari iklim atau radiasi lingkungan.

Kejadian tersebut dapat kita lihat dari berbagai pengakuan orang-orang yang mengalami proses transformasi diri ke arah yang lebih baik akibat menormalisasikan kebiasaan yang ada pada lingkungannya sebagai patokan dasar dan skema rutinitas yang ditempuh.

Seperti mereka yang pada awalnya tidak memiliki atau telah kehilangan niat untuk belajar telah menjadi rutin dan kembali bergairah akibat mendapatkan kontaminasi dari lingkungan yang dijadikan sebagai standar kebiasaan harian.

Bahkan lebih menariknya proses normalisasi yang lahir akibat lingkungan tidak mengenal segi usia bahkan terkadang melampaui stereotip umum, seperti Kafa Billahi Syahidaa & Sayyid Romidzauq yang berasal dari satu generasi yang sama ( Gen Alpha) tampil dalam salah satu podcast mematahkan pandangan umum bahwa anak yang berusia sekitar 10 tahun seharusnya hanya bermain dan menikmati waktu, tapi mereka dapat tampil dengan elegan seperti Alvin Toffler dalam salah satu pembahasan mengenai Indonesia Emas yang bahkan belum tentu dapat dilakukan oleh seseorang yang berusia 20 tahun ke atas.

Sehingga pada point pertama ini, saya melihat bahwa normalisasi memiliki sisi yang positif karena membawa dampak baik terhadap subjek yang menerapkan, begitu juga terhadap subjek yang secara sadar atau tidaknya telah menerapkan normalisasi akibat dari konstruksi lingkungan yang turut membentuk kepribadiannya untuk tumbuh dan mekar melebihi anggapan umum dan mencapai titik keberhasilannya.

Namun dibalik semua itu, menurut saya bukan berarti normalisasi bisa dinyatakan sebagai perilaku yang baik secara general maupun menyeluruh, sebab masih terdapat problematika dan kenyataan yang berbeda dari beberapa orang dan fakta hari ini, sehingga pada poin kedua ini, saya akan memberikan analisis tersendiri terhadap segi bahaya dan ancaman bagi subjek normalisasi yang berpotensi membuat seseorang atau lingkungan menjadi kehilangan arah, distorsi, bahkan subjek yang dikendalikan.

Beberapa orang yang menormalisasikan objek berdasarkan obsesi memang akan membentuk, terbentuk dan menjadi seperti yang dikehendaki. Tetapi di sisi yang lain juga akan memiliki kemungkinan untuk menyakiti dirinya sendiri, manakala  jika tidak berhasil berkompromi kepada diri sendiri terhadap ide & realitas.

Sebutlah beberapa orang yang mengidolakan untuk menempati ranking dalam suatu kompetensi, secara perilaku ia akan menormalisasikan hidupnya berdasarkan saran dan masukan dari tokoh-tokoh yang dipercaya meski sampai menyakiti diri sendiri, namun setelah hasilnya telah keluar dan belum bersesuaian antara keinginan, usaha dan realita, saat itulah titik-titik rawan bagi subjek normalisasi.

Kesulitan untuk melupakan usaha yang dilakukan akibat proses normalisasi akan membawa dampak frustasi yang berkepanjangan jika tidak memiliki mentalitas yang kuat, terkadang kehilangan niat untuk melakukan segala sesuatu, kehilangan arah dan merasa semuanya akan berakhir sia-sia adalah salah satu diantara banyak kemungkinan, bahkan puncak dari kekecewaan tersebut dapat membuat seseorang untuk memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak lazim seperti bunuh diri dan menganggap hal tersebut sebagai bentuk pemberontakan yang romantis terhadap kehidupan yang tidak menghargai semua usahanya.

Kendati dinyatakan sebelumnya, bahwa beberapa lingkungan yang  mengakibatkan proses normalisasi  secara internalisasi kepada subjek  dengan cara yang tidak sadar akan  menuai hasil yang berujung pada kemajuan, namun tidak sepenuhnya juga dapat dibenarkan.

Sebab lingkungan juga dapat menjadi ancaman bagi seseorang untuk mengganti tujuan dan melahirkan normalisasi baru yang bisa saja berbanding jauh dari tujuan sebelumnya, sebagai kelanjutan contoh dari seseorang yang mendapatkan kegagalan serta rasa frustasi yang tinggi untuk menempati rangking dalam kompetensi telah diperhadapkan oleh nilai & kebiasaan perjudian untuk menghibur diri, kesenangan sementara yang terus berulang akibat dari lingkungan yang barunya akan membentuk tujuan & normalisasi yang baru.

Lingkungan juga dapat menjadi muara distorsi terhadap suatu makna akibat normalisasi yang tidak berdasar, seperti halnya yang kerap terjadi di kota Makassar. Dimana salah satu budaya Bugis Makassar yaitu “Siri” telah mengalami perubahan asli dari suatu objek sehingga tampak berbeda dari konteks yang sebenarnya, secara genealogi “Siri” adalah prinsip yang mendorong seseorang untuk maju & berkembang, dengan rasa malu mendorong seseorang untuk mengejar dan memiliki apa yang kurang, namun kini di beberapa iklim pergaulan “Siri” telah dinobatkan sebagai alasan untuk berkonflik atau berperang satu sama lain, bahkan ada lingkungan yang hanya karena tatapan mata dari orang yang tidak dikenal dianggap sebagai ajakan untuk berperang dan momentum mempertahankan harga diri serta hal tersebut telah melembaga dan ter-internalisasi menjadi proses normalisasi beberapa orang.

Ancaman terakhir dari proses normalisasi  yang ingin saya sebutkan dalam tulisan ini adalah menjadi subjek yang dikendalikan, Melalui istilah Michel Foucault mengenai “Normalization” sebagaimana proses kekuasaan modern bekerja secara soft dapat membawa subjek yang kerap menormalisasi sesuatu akan begitu mudah untuk diarahkan.

Jika dahulu standarisasi dimainkan oleh segelintir kelompok untuk kepentingannya dengan cara yang terbilang sulit karena harus mengeluarkan ongkos operasional yang tinggi untuk suara aktor atau tokoh publik yang memiliki figuritas dan kredibilitas, kini dengan perkembangan teknologi yang mendorong kita untuk hidup bergandengan tangan dengan media sosial sebagai muara informasi akan lebih mudah untuk memuluskan tujuan dari pengendalian tersebut. 

Untuk mempermudah memahami cara kerja dan taktik oligarki melalui media sosial, saya sangat menyarankan agar menonton Audio Visual atau  Film Dokumenter yang berjudul “Social Dilemma”.

Karya tersebut telah menggambarkan dengan sederhana mengenai strategi terstruktur dari berbagai kelompok yang mencoba untuk menabur pengaruh melalui kendali media sosial sehingga beberapa bidang telah mereka kuasai & menerapkan standarisasi yang dapat menguntungkan kelompoknya.

Wujud dari pengendalian yang dijalankan juga tidak mengenal bidang, baik dari standarisasi secara umum sampai kepada privasi atau muatan perasaan seseorang mampu untuk mereka atur, sebagai contoh seseorang yang memiliki keinginan untuk mencari tahu permasalahan maupun belajar melalui media sosial sering kali harus gagal dan berbalik arah sebab mendapatkan tayangan dari sesuatu yang tidak dicari namun disukai , anehnya seperti seseorang telah mengetahui kesenangan maupun emosi kita untuk diatur dan diarahkan.

Jika kita membuka kembali lembaran ingatan pada pemilu 2024, pengaruh & skema sosial media secara tidak langsung telah berhasil mengendalikan perasaan sebagian besar masyarakat indonesia.

Bagaimana tidak, tindakan dehumanisasi yang dilakukan oleh salah satu kandidat presiden pada orde baru seakan dihapus dari ingatan serta digantikan oleh nuansa baru yang mengarah pada hal yang menyenangkan melalui sebuah tarian, sehingga berhasil menarik dan menggeser perasaan masyarakat dari benci menjadi empati.

Bahkan sebagai besar kelompok yang semula tidak menginginkan kandidat tersebut untuk menang tiba-tiba berbalik arah untuk memenangkan berdasarkan perilaku normalisasi yang diterima melalui media sosial.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami untuk sementara waktu bahwa perilaku Normalisasi memiliki dua arah yang saling berlawanan satu sama lain. Di satu sisi dapat membuat seseorang berkembangan berdasarkan obsesi dan konstruksi lingkungan, tetapi di sisi yang lain juga mengancam seseorang untuk tidak menemui kemajuan bahkan berujung sebagai korban frustasi dan objek pengendalian.

Sebagai penulis, saya mengajukan beberapa saran yang sekiranya dapat menjadi bahan pertimbangan terhadap subjek yang kerap melakukan proses normalisasi. Pertama, sebelum menormalisasikan sesuatu patutlah mengenali keinginan diri & belajar berkompromi terhadap korespondensi yaitu antara ide & realita.

Jangan sampai kita hanya mengikuti apa yang tersajikan secara umum namun tidak dibutuhkan secara pribadi,serta enggan menerima kenyataan lalu menyalahkan tindakan yang telah dilakukan dan berhenti mencoba sebab terlalu lama termenung oleh penyesalan sehingga lupa hidup selalu punya misteri dalam lembaran baru.

Kedua, carilah lingkungan yang membuat selalu merasa kurang sehingga mendorong untuk tumbuh dan menormalisasi hal yang menopang untuk maju, memiliki ekosistem belajar yang baik, toleransi yang cukup, sebab terkadang kegagalan tidak hanya bersumber dari usaha seseorang tetapi juga dari ekologi.

Setiap tumbuhan yang gagal tidak hanya bermasalah pada prosesnya barangkali ada ketidaksesuaian dengan tanah atau tempat pertumbuhannya. carilah lingkungan yang bukan sekedar untuk hidup, tetapi hidup di tengah kehidupan yang menginginkan untuk hidup satu sama lain.

Terakhir, bekali diri dengan ilmu pengetahuan agar tidak mudah untuk mengikuti sesuatu yang telah tercanangkan oleh kelompok – kelompok berkepentingan, jangan sampai terjebak oleh standarisasi yang berpatokan pada keuntungan oligarki dan hanya membuat diri sendiri tersiksa, jangan takut berbeda di tengah dominasi, patokan tidak selalu angka yang setuju tetapi makna yang tertuju.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Img 20250908 Wa0007
Opini

Membongkar Tabu: Perempuan sebagai Pelaku Pelecehan Seksual dalam Perspektif Feminisme Kontemporer

9 September 2025
Img 20250726 Wa0038
Opini

Mencandra MUBES HIPMA Gowa

27 Desember 2025

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi