Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Ragam

The Dudas-1 Telusuri Sejarah Gowa: Saat Kisah Kejayaan Kerajaan Diceritakan Lewat Peta Usang yang Minim Perawatan

Pataka Eja by Pataka Eja
7 Oktober 2026
in Ragam
0
Whatsapp Image 2026 10 07 At 18 36 14

Tangkapan Layar YT: Rans Entertainment

Gowa, Pataka Eja — Dahulu, Kerajaan Gowa diceritakan memiliki wilayah kekuasaan yang begitu luas, dengan jejak pelayaran yang disebut mencapai berbagai penjuru Nusantara, Asia Tenggara, hingga mencapai Benua Australia.

Kini, kisah tentang kejayaan itu justru diperlihatkan melalui sebuah peta yang tampak menua: warnanya memudar, permukaannya tergores, dan bagian depannya terlihat minim perlindungan.

Kontras itulah yang terlihat ketika The Dudas-1 mengunjungi Museum Balla Lompoa yang terletak di Jl. K. H. Wahid Hasyim No.39, Sungguminasa, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ariel, Raffi Ahmad, Gading Marten, dan Desta datang untuk menelusuri jejak sejarah Gowa, sementara sebuah peta tua menjadi salah satu alat bantu untuk menjelaskan gambaran luas kekuasaan Kerajaan Gowa pada masa lalu.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan The Dudas-1 mengeksplorasi Makassar dan Gowa yang kemudian ditayangkan melalui kanal YouTube RANS Entertainment. Video itu tercatat telah ditonton 527.242 kali per 4 Oktober 2026.

Di hadapan peta tersebut, seorang pemandu menjelaskan gambaran wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa.

“Jadi, daerah teritorial Kerajaan Gowa dua pertiga dari wilayah Indonesia, dulunya yahh sebelum ada Republik Indonesia,” ujar pemandu.

Pernyataan itu kemudian memancing pembicaraan mengenai jejak pelayaran masyarakat Sulawesi pada masa lalu. Ariel mengaitkannya dengan pengalamannya ketika berkunjung ke Darwin, Australia.

“Saya pernah ke Darwin di Australia, katanya banyak banget kapal-kapal Sulawesi yang sampai ke sana,” kata Ariel.

Desta kemudian menimpali dengan menghubungkan luasnya wilayah kekuasaan dengan aktivitas pelaut pada masa tersebut.

“Dulukan kekuasaannya lebar sekali, berarti itukan tersebar pelaut-pelaut kita sampai ke ujung-ujung?” ujar Desta.

Ariel kemudian menunjuk bagian peta yang menunjukkan Australia.

“Bro, lihat ini sampai Australia,” katanya.

“Makanya gue pas ke sana ada itu kapal-kapal orang Sulawesi di sana,” lanjut Ariel.

Percakapan itu sebenarnya menunjukkan fungsi penting peta tersebut. Bentangan wilayah yang selama ini hadir sebagai cerita sejarah diterjemahkan menjadi gambaran visual yang dapat langsung ditunjuk dan dipahami oleh pengunjung.

Namun, justru pada benda yang menjadi medium untuk memperlihatkan kebesaran masa lalu itu terlihat persoalan lain.

Peta tersebut berada dalam bingkai kayu berukuran besar. Secara fisik, permukaannya tampak kusam dan warnanya telah memudar. Warna hijau pada bagian peta tidak lagi terlihat merata. Sejumlah bagian juga memperlihatkan noda, goresan dan bekas penggunaan.

Detail berupa garis, batas wilayah maupun tulisan pada peta tidak seluruhnya tampak tajam. Dari jarak pandang pengunjung, beberapa bagian terlihat kurang mudah dibaca karena warna dan tampilannya telah kehilangan sebagian ketajamannya.

Yang paling mencolok, permukaan peta terlihat terbuka tanpa kaca atau lapisan transparan sebagai pelindung. Artinya, benda yang digunakan untuk menjelaskan sejarah tersebut secara visual masih bersentuhan langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Bingkai kayunya masih menopang peta dengan baik, tetapi juga memperlihatkan tanda-tanda usia.

Di satu sisi, pemandu sedang menceritakan masa ketika Kerajaan Gowa disebut memiliki pengaruh luas di kawasan timur Nusantara. Di sisi lain, cerita tentang masa keemasan itu disampaikan menggunakan alat peraga yang secara fisik justru menunjukkan bagaimana waktu telah meninggalkan jejaknya.

Pemandu kemudian menjelaskan posisi Makassar dalam sejarah perdagangan dan kekuasaan Gowa.

“Abad ke-15 seperti emas hitam, harganya sama dengan emas. Jadi, Kerajaan Gowa menjadikan Makassar sebagai pintu gerbang untuk memasuki wilayah Indonesia Timur yang kala itu dikuasai Kerajaan Gowa,” jelasnya.

Keterangan tersebut menggambarkan sebuah masa ketika Makassar dan Gowa berada dalam jalur penting perdagangan dan pelayaran. Tetapi, untuk memahami gambaran itu hari ini, pengunjung harus mengandalkan benda-benda sejarah dan alat peraga yang tersimpan di museum.

Di sinilah kontrasnya menjadi sulit diabaikan.

Sejarahnya berbicara tentang kejayaan. Alat peraganya justru memperlihatkan jejak kemunduran fisik.

Peta itu masih berdiri. Informasinya masih dapat dikenali. Namun, warna yang memudar, goresan, noda, serta tidak terlihatnya lapisan pelindung membuat peta tersebut tidak lagi tampil sebagaimana sebuah media informasi yang terjaga dengan baik.

Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah peta terlihat tua. Benda yang digunakan untuk menjelaskan sejarah memang dapat memiliki usia panjang. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana benda tersebut dipertahankan agar tetap mampu menjalankan fungsi utamanya: membantu pengunjung memahami sejarah.

Apalagi, Museum Balla Lompoa bukan hanya ruang penyimpanan benda lama. Di tempat seperti inilah generasi hari ini berhadapan dengan cerita tentang masa lalu secara langsung.

Kunjungan The Dudas-1 memperlihatkan hal itu kepada publik yang lebih luas. Tayangan RANS Entertainment yang telah ditonton 527.242 kali per 4 Oktober 2026 membawa percakapan tentang sejarah Gowa keluar dari ruang museum dan menjangkau ratusan ribu penonton.

Ariel, Raffi Ahmad, Gading Marten dan Desta datang untuk mendengar cerita tentang kejayaan tersebut. Mereka melihat peta, menunjuk wilayah Australia, dan membicarakan jejak pelaut Sulawesi.

Namun, di balik antusiasme mereka terhadap sejarah itu, ada satu hal yang ikut terlihat jelas dalam kamera: kisah tentang masa keemasan Kerajaan Gowa masih terus diceritakan, tetapi salah satu alat untuk menceritakannya tampak semakin kehilangan warna.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya seberapa besar kejayaan Gowa pada masa lalu, tetapi juga seberapa serius benda-benda yang digunakan untuk menceritakan kejayaan itu dipelihara hari ini.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 03 14 At 23 23
Ragam

Tadarus Sastra Bahas “Konspirasa di Titik ب”, Narasi Mitos, Filsafat, dan Kritik Sosial

14 Maret 2026
Sjnfjdsbnjdabs
Ragam

HIPMA Gowa Koordinatorat Pattallassang Umumkan Juara Lomba Essay Nasional 2026

4 Februari 2026

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi