MAKASSAR, Pataka Eja — PT PLN (Persero) memperkuat strategi komunikasi publik dalam menghadapi krisis pemadaman listrik bergilir yang terjadi di wilayah Sulawesi. Upaya tersebut dilakukan melalui penyampaian informasi secara cepat, pemanfaatan kanal digital, koordinasi dengan media massa dan pemerintah daerah, serta penanganan informasi hoaks yang beredar di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam kunjungan lapangan dan wawancara dengan Divisi Komunikasi dan Manajemen Stakeholder PT PLN (Persero). Dalam menghadapi pemadaman listrik, PLN menilai masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai waktu, lokasi, dan jadwal terjadinya pemadaman.
Asisten Manajer Komunikasi dan Manajemen Stakeholder PLN menjelaskan bahwa penyampaian informasi secara jelas menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi dengan pelanggan.
“Pelanggan itu membutuhkan informasi terkait apa yang terjadi, khususnya pemadaman. Di PLN, kita harus menginformasikan secara jelas, seperti waktunya kapan, lokasinya di mana, dan jamnya kapan,” ujarnya.
Menurutnya, pemadaman listrik dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Selain pemeliharaan yang telah dijadwalkan, gangguan juga dapat terjadi secara tidak terduga, seperti pohon tumbang, gangguan binatang, maupun kondisi kahar atau bencana alam.
Dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, PLN memanfaatkan sejumlah kanal komunikasi digital. Salah satunya melalui aplikasi PLN Mobile yang dapat memberikan notifikasi mengenai jadwal atau informasi pemadaman kepada pelanggan.
Selain itu, media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Channel turut digunakan untuk menyampaikan informasi secara cepat kepada masyarakat. PLN juga menyediakan admin yang merespons pesan langsung dari pelanggan melalui media sosial sebagai bentuk komunikasi dua arah.
“Yang pertama kita menggunakan PLN Mobile, aplikasi PLN yang akan muncul notifikasi ketika ada jadwal atau pemadaman. Yang kedua, kita juga menggunakan media sosial supaya pelanggan bisa mendapatkan informasi serta-merta,” jelasnya.
Di tengah krisis pemadaman, PLN juga menghadapi tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks di media sosial. Untuk mengantisipasi hal tersebut, PLN berupaya memberikan klarifikasi melalui rilis resmi yang dilengkapi data dan bukti pendukung.
Rilis resmi tersebut memuat informasi mengenai waktu kejadian, lokasi, pihak yang terlibat, serta dokumentasi berupa foto. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat membedakan informasi resmi dengan informasi yang tidak memiliki sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau dari rilisnya resmi PLN pasti ada standar dalam penulisan, artinya kapan pelaksanaannya, di mana, dengan siapa, fotonya seperti apa. Itu kita konter dengan hal-hal yang memang berdasarkan data,” ungkapnya.
Selain menggunakan kanal digital, PLN menilai kerja sama dengan media massa dan pemerintah daerah penting dalam menjaga kejelasan informasi kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya informasi yang simpang siur selama krisis berlangsung.
“Kami meyakini PLN itu sebenarnya tidak bisa bergerak sendiri. Kita juga harus gandeng media, jangan sampai informasi itu menjadi simpang siur,” katanya.
Koordinasi dengan pemerintah daerah juga dilakukan, salah satunya melalui penyampaian informasi dan dukungan komunikasi dari pihak pemerintah kepada masyarakat. Dalam situasi krisis, keterlibatan pihak eksternal dinilai dapat membantu memperkuat penyampaian informasi kepada publik.
Di sisi lain, PLN juga berupaya membangun kembali kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan adanya perbaikan pada sistem kelistrikan dibandingkan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara, PLN menyebut adanya perubahan dalam periode terjadinya pemadaman dibandingkan krisis pemadaman pada 2023.
“Bedanya di tahun 2023 dengan tahun ini, kita berbenah sangat banyak. Baru September kita merasakan pemadaman, padahal di tahun 2023 itu sudah dari bulan Juni atau Agustus. Jadi di situ ada perbaikan,” ujarnya.
Selain perbaikan sistem, PLN juga mengomunikasikan berbagai kegiatan sosial dan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bagian dari upaya membangun citra positif perusahaan.
Hasil kunjungan lapangan menunjukkan bahwa strategi komunikasi PLN dalam menghadapi krisis mencakup klarifikasi penyebab pemadaman, edukasi kepada masyarakat, pemanfaatan media digital, kerja sama dengan media dan pemerintah daerah, serta penyampaian informasi berbasis data.
Meski demikian, penyampaian informasi secara cepat dan konsisten tetap menjadi tantangan penting. Konsistensi antara informasi yang disampaikan kepada publik dan tindakan nyata dalam memperbaiki sistem kelistrikan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap PLN.


